Kelam

Cawan WP: Syifa Salsabila
310

Malam itu aku sampai di sebuah Desa kecil tempat Ibuku dibesarkan. Nenek menyambutku, ditengah suasana sendu karna kepulangan ayah yang mendadak, ia tetap tersenyum hangat  saat menunggu kedatanganku. Sebelumnya Ayah, Ibu dan aku tinggal di Padang. Aku bersekolah di Salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) swasta di sana dan ayah ibuku bekerja disalah satu kantor kecil. Namun hari kelam mulai menghampiriku, saat pulang sekolah aku melihat di depan rumah kontrakan ku banyak orang dan mobil ambulan,ternyata ayah ku meninggal dunia.

Hari ini adalah hari pertamaku di rumah nenek, ibu menghilang entah kemana setelah ayah meninggal, untuk anak SMP aku rasa aku cukup kuat menanggung beban kesialan ini. Nenek orang jawa, saya juga tidak tahu kenapa dia bisa tinggal di daerah minang ini. Hari-hariku masih sama sedihnya dengan waktu ketika ayahku meninggal dan ibu berada di suatu tempat, namun hidup terus berjalan dan meski mereka telah tiada, dunia masih sama, dedaunan masih hijau, langit masih biru, malam hari masih kelam, hanya hatiku yang semakin gelap.

Aku tersadar dari mimpiku, nenekku menelponku. “Anitaa, ayo makan, nenek sudah masak”. Aku segera berjalan menuju dapur mendekati sumber suara nenek, kulihat yang ada hanya ikan asin dan tumis kates yang tampak hambar bagiku.

Seorang wanita paruh baya duduk di halte bus di tengah malam di keramaian kota. Ia menangis mengingat apa yang sudah terjadi, rasa takut dan penyesalan menyeruak di dalam hatinya. Tangan nya yang pucat menggenggam ponsel, ia melihat layar handphone yang bertuliskan “Ibu” dengan ragu ia menekan tombol memanggil.

“Tut… tut… Halo” jawab orang di ujung telepon

“Ibu…” ucap wanita separuh baya dengan tangan bergetar
“Lina anakku, kemana saja kau? Anita dan suamimu sangat sedih menanti kau, pulanglah nak!”
“Anita dan Uda sudah mati bu!! Tolong jangan seperti ini, aku mohon. Ikhlaskan Anita dan Uda bu”

Aku merasa hidupku sangat membosankan, sehambar makanan yang di sajikan nenek. Aku kembali masuk ke kamar dan membuka lemari pakaian mengambil kain panjang dan membuat gantungan bak ayunan.

Di tengah malam, seorang wanita paruh baya mengetuk pintu rumah tua itu, “Assalamualaikum Bu, Ini saya Lina”
“Lina, kamu dari mana saja?” Kata wanita tua itu
“Saya akan mengurus pemakaman Udadan akan menenangkan diri Bu, di mana wanita Anita?”ucap wanita paruh baya itu
“Anita ada di dalam kamar, dia sangat merindukanmu” ucap wanita tua itu

Wanita paruh baya itu membuka pintu kamar yang tidak dikunci, betapa terkejutnya dia melihat seorang anak tunggalnya tergantung pada sehelai kain panjang di lehernya. Ia menangis menangisi kenyataan pahit, setelah kehilangan suaminya dan juga harus kehilangan putrinya. Wanita tua yang mendengar tangisan anak nya pun menyusul dan menyaksikan cucu nya sudah lemas tak berdaya tergantung di kamar nya. Beberapa hari setelah kejadian tersebut wanita tua menjadi sedikit stress dengan membayang-bayangkan cucu nya dan suami anak nya masih hidup. Pada saat yang sama, seorang wanita paruh baya menyesali keputusan bodohnya sebelumnya dan seorang wanita tua hidup dengan penuh penyesalan dan kesedihan yang mendalam.

 

Cawan WP: Syifa Salsabila
Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

TAGS:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.
You need to agree with the terms to proceed

Berita Terkait

Pendidikan Pancasila, Pentingkah?
Rembulan

TERBARU

Iklan

TERPOPULER

Berita Terkait

Pendidikan Pancasila, Pentingkah?
Rembulan
Menu