Teman Singgah

Azza WP
582

Cring…Cring…

Alarmku berbunyi, tepat pukul 22.00 menandakan aku harus sesegera mungkin berwudhu. Menekadkan niat untuk memperjelas perasaanku agar tidak salah dalam memilih. Tuhan memberikan cara ini untuk menentukan aku dan dia berjodoh atau tidak dan memberikan pertanda seperti mimpi dan lainnya setelah ini. Jelas sudah aku wanita. Aku ingin menceritakan dia yang bukan untukku, memang akhirnya tidak tragis tetapi tetap hati yang dipermainkan dengan rasa sendiri.

Setahun yang lalu aku bertemu dengannya, lelaki yang membuatku jatuh cinta kala pertama bersua. Namanya Alan, mungkin tidak sesempurna yang wanita lain lihat. Aku bukan menilai dari mataku. Pertama bertemu sangat canggung sekali, mungkin juga karena aku bukan wanita yang bisa mencuri perhatian pria yang aku sukai. Bahkan hingga tiga bulan akupun tidak menunjukkan simpatik padanya, diam saja hanya itu yang bisa aku ekspresikan. Maaf mungkin karakterku tidak terlalu mencolok untuk diperbincangkan sebab aku ingin menceritakan dia lebih dominan.

Perkenalkan aku Andini, wanita biasa dan tidak bisa mengekspresikan diri yang menyukai lelaki dengan sikap baik hati dan senang bergaul. Kali pertama bertemu bukan aku yang menyapanya. Tentu saja dia, karena aku bukan wanita yang dengan mudah menyapa tanpa maksud.

“Andin,” sapanya.

“Ya, kenapa?”tanyaku.

“Pinjam catatan dong,boleh?” tuturnya.

“Boleh, besok ya, hari ini masih ada catatan yang perlu aku salin,” jawabku.

“Oke, besok ketemu di perpustakaan ya,” balasnya.

Aku hanya mengangguk mengiyakan lalu pergi. Bukan seperti wanita haus akan perhatian lainnya, aku malah berbalik badan seolah tidak terlihat simpatik padanya, padahal aku sangat gugup untuk menjawabnya lagi. Memang pembaca cerpenku ini tidak tahu aku ini siapa. Aku hanya berharap semoga pembaca senang dan mampu mengambil pembelajaran dari cerita ini.

***

Besoknya di perpustakaan kampus aku melihatnya, dia langsung menghampiriku tanpa enggan. Aku berpura-pura tidak melihat agar dia tidak merasa curiga kepadaku.

“Andin, ini kan catatannya?” tanyanya.

“Iya, nih ambil,” jawabku singkat lalu segera membalik badan.

Sempat aku lihat senyumnya saat dia mengambil buku itu dari sodoran tanganku. Akupun tersenyum setelah membalikkan badan namun sangatlah sebentar karena takut jika dilihat oleh orang disekitar. Bahagia rasanya bisa berkomunikasi dengan pria yang disukai, tetapi aku tidak ingin itu berlangsung lama. Aku tidak siap memberikan perhatian lebih ataupu berkomunikasi berlebihan untuk menyinggung pembicaraan saja aku lebih memilih mengelak.

Sampai datang suatu Ketika aku dan dia berbincang karena diletakkan di satu kelompok yang sama. Yang mengharuskan aku bertanya dan menjawab pertanyaannya. Disaat membuat tugas kami sampai lupa waktu dan dia memintaku untuk diantar olehnya.

“Aku antar ya? Rumah kamu sekitaran mana?” tanyanya.

“Bisa pulang sendiri kok,” jawabku sambil memesan ojek online.

“Nggak usah pesan ojek online, aku antar aja,” balasnya sambil mengambil ponselku.

Akhirnya aku mengiyakan dan dia pun mengantarkan aku tepat didepan rumah, setelah itu langsung melambaikan tangan untuk pergi. Aku hanya melihat lalu berbalik badan. Aku merasakan kebahagiaan yang terus menerus mendorongku untuk semakin membuka rasa. Namun aku harus memperhatikan sikap dan perlakuannya dulu kepadaku sebelum aku memutuskan untuk memilih.

***

“Maaf aku telat,” ucapnya.

“Iya,” jawabku.

Dia langsung duduk dan memesan makanannya. Sebelum ini dia berjanji menemuiku untuk membahas tugas kelompok. Setelah inipun kami lebih sering bertemu dibandingkan sebelumnya dan aku mulai membuka diri untuk berbicara tanpa sungkan untuk bertanya.

“Alan,” sapaku.

“Ada apa Andin? Mau bikin tugas bareng, yuk,” jawabnya langsung.

“Boleh, sambil makan ya,” balasku.

Akupun sering pergi bersama dengannya hanya untuk membuat tugas bersama, makan bersama ataupun sekadar berkeliling menghilangkan suntuk dalam perkuliahan bersama. Lambat laun aku sudah  mulai terbuka dan tidak menutupi apa-apa darinya. Diapun sangat senang berbincang mengenai apapun, dimulai dari hal-hal kecil hingga yang besar yang mungkin tidak dia ceritakan dengan siapapun selain aku.

Semakin hari kedekatan kami sudah bisa dianggap sangat dekat hingga sudah banyak buah bibir tentang kami telah menjalin hubungan kedekatan, yaitu pacaran. Tetapi aku yang belum merespon baik mengengenai buah bibir itu membuat orang-orang disekitarku merasa aku tidak memiliki perasaan padanya.

***

Empat bulan berlalu,sekarang sangat terlihat jelas kedekatan kami hingga dia tidak sungkan ke rumah hanya untuk bercerita. Dari situ aku merasakan jelas-jelas dia menyukaiku. Setiap hari bertemu dan bercengkrama sangat intim hingga terlihat banyak kecocokan diri.

“Andin, kalau ada apa-apa bilang ya,” tuturnya.

“Iya,” jawabku.

Harapku tetap sama, hatiku tidak akan aku buka lebar sebelum benar kenyataannya. Memang benar nyatanya, sayang seribu sayang. Aku bukan pilihannya, aku hanya sebagai selingan dalam kesuntukkannya di setiap harinya. Setelah lulus dari bangku perkuliahan aku baru menyadarinya. Ada wanita lain.

Selama setahun kedekatan itu aku hanya selingannya. Sebagai peneman harinya tanpa ada perasaan di dalam hatinya. Aku mulai hancur sehancur-hancurnya. Memang salah aku berharap tetapi harap yang terlalu lama meminta kepastian akan rasa. Rasaku bertepuk sebelah tangan. Tidak ada yang tinggal, cukup untuk luka yang membekas.

Terimakasih sakitnya, terimakasih pembelajarannya. Hidupku memang tidak berhenti disitu tetapi aku tidak akan lagi semudah yang dulu untuk membuka hatiku. Cukup tahu, cukup untuk aku maklumi. Kedekatan belum berarti saling menyukai.

Sebenarnya ada hal yang belum aku ceritakan. Perihal mimpi, Tuhan memberikan jawabannya di bulan kesepuluh. Di dalam mimpi itu bukan aku yang menggenggam tangannya namun ada wanita lain. Tetapi aku sangka itu hanya bunga tidur belaka. Di hari itu, adalah shalat istikarah terakhirku. Pukul 22.00 terakhirku untuk meminta jawaban dari keadaan yang menyesatkanku kepada perasaan tidak pasti ini. Dan kala itu pula dia lulus dari jurusan kedokteran yang kami tempuh bersama.

Dia menggandeng wanita lain dan dengan senang menunjukkan kemesraan itu di depanku. Jatuh bunga di tanganku dan aku langsung berlari hingga tidak pernah ada lagi komunikasi diantara kami. Sakitnya memang sangat membekas. Walaupun aku anggap ini sebagian besar salahnya, namun disini juga ada salahku yang membiarkan kedekatan ini berjalan tanpa adanya kepastian di antara kami.

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.
You need to agree with the terms to proceed

Berita Terkait

Langkah Baru
Dampak Strict Parent bagi Kehidupan Anak

TERBARU

Iklan

TERPOPULER

Berita Terkait

Langkah Baru
Dampak Strict Parent bagi Kehidupan Anak
Menu