ArtikelOpini

Kuliah dan Kerja, Dua Dunia dalam Satu Waktu

Menjadi mahasiswa saja sudah cukup menyita waktu. Ada jadwal kuliah, tugas yang datang silih berganti, kegiatan organisasi, hingga urusan akademik yang tidak bisa ditinggalkan. Namun, bagi sebagian mahasiswa, kehidupan tidak berhenti di ruang kelas. Setelah kuliah usai, pekerjaan sudah menunggu.

Kuliah sambil bekerja kini menjadi pilihan bagi mahasiswa dengan berbagai alasan. Ada yang bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar biaya pendidikan, hingga sekadar ingin memiliki pengalaman sebelum benar-benar terjun ke dunia profesional. Di satu sisi, pilihan ini membuka kesempatan untuk belajar menjadi lebih mandiri. Di sisi lain, ada konsekuensi yang harus dihadapi: waktu yang terbagi dan tenaga yang terkuras.

Menjalani dua peran sekaligus tentu bukan perkara sederhana. Mahasiswa dituntut tetap bertanggung jawab terhadap perkuliahan, sementara pekerjaan juga memiliki tuntutan yang tidak kalah penting. Pada titik inilah kemampuan mengatur waktu dan menentukan prioritas menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar.

Ketika Uang Saku Tak Lagi Cukup
Bagi sebagian mahasiswa, bekerja bukan sekadar pilihan untuk mengisi waktu luang. Ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Biaya transportasi, kebutuhan kuliah, makan sehari-hari, hingga keperluan pribadi membutuhkan pengeluaran. Penghasilan dari pekerjaan setidaknya dapat meringankan sebagian beban tersebut.

Memiliki penghasilan sendiri juga membawa pengalaman yang tidak selalu didapatkan dari bangku kuliah. Mahasiswa mulai belajar bagaimana mengatur pemasukan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta bertanggung jawab atas keputusan finansialnya sendiri.

Di sinilah pekerjaan dapat menjadi ruang belajar lain bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya belajar dari buku dan dosen, tetapi juga dari pengalaman menghadapi pelanggan, rekan kerja, atasan, target, hingga berbagai persoalan yang muncul di tempat kerja.

Ada Pelajaran yang Tak Ditemukan di Ruang Kelas

Dunia kerja menawarkan pengalaman yang berbeda dari perkuliahan. Mahasiswa yang bekerja memiliki kesempatan untuk berhadapan langsung dengan situasi yang menuntut kemampuan komunikasi, kerja sama, kedisiplinan, dan penyelesaian masalah.

Kemampuan tersebut menjadi bekal ketika mahasiswa nantinya benar-benar memasuki dunia profesional. Teori yang dipelajari di kelas bisa saja menjadi dasar, tetapi pengalaman menghadapi persoalan secara langsung memberikan pembelajaran dengan cara yang berbeda.

Namun, bukan berarti bekerja otomatis membuat mahasiswa lebih siap menghadapi masa depan. Semua kembali pada bagaimana pekerjaan tersebut dijalani. Jika pekerjaan justru membuat kuliah terbengkalai, tugas menumpuk, dan waktu istirahat semakin sedikit, manfaat yang diharapkan bisa berubah menjadi persoalan baru.

Saat Jam Kuliah Bertemu Jam Kerja

Tantangan terbesar mahasiswa pekerja sering kali bukan terletak pada pekerjaan itu sendiri, melainkan bagaimana membagi waktu di antara keduanya. Tugas kuliah tidak mengenal kata “sedang bekerja”, sementara pekerjaan juga tidak selalu bisa menunggu sampai tugas selesai.

Tuntutan pekerjaan dapat membuat mahasiswa memiliki waktu belajar yang lebih sedikit. Jika tidak dikelola dengan baik, kelelahan bisa muncul dan berdampak pada konsentrasi maupun motivasi belajar.

Karena itu, keputusan untuk bekerja selama kuliah seharusnya tidak hanya didasarkan pada keinginan memperoleh penghasilan. Mahasiswa juga perlu melihat kemampuan dirinya sendiri. Berapa banyak waktu yang tersedia? Seberapa berat beban kuliah? Apakah pekerjaan tersebut memiliki jadwal yang bisa disesuaikan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana semacam itu justru penting sebelum mengambil keputusan.

Universitas Terbuka dan Ruang bagi Mahasiswa Pekerja

Salah satu gambaran menarik dapat dilihat dari Universitas Terbuka (UT), yang sejak awal dikenal dengan sistem pembelajaran yang memberikan fleksibilitas kepada mahasiswa, termasuk mereka yang bekerja.

Penelitian Fitriana dan Syahrinullah pada 2025 terhadap 34 mahasiswa Program Studi Manajemen UT Pokjar Demak menunjukkan bahwa manajemen waktu dan motivasi belajar memiliki kaitan dengan capaian akademik mahasiswa. Rata-rata prestasi akademik responden berada pada rentang IPK 2,75–3,50. Mahasiswa yang mampu mengatur waktu dan menentukan prioritas cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih baik.

Temuan tersebut memberi gambaran bahwa fleksibilitas sistem pendidikan memang dapat membantu mahasiswa pekerja. Namun, fleksibilitas saja tidak cukup. Pada akhirnya, mahasiswa tetap harus memiliki kedisiplinan untuk menentukan kapan waktunya bekerja, belajar, beristirahat, dan menyelesaikan tanggung jawab lainnya.

Bekerja Bukan Alasan untuk Berhenti Berprestasi

Kuliah sambil bekerja memang penuh tantangan, tetapi bukan berarti prestasi akademik harus menjadi korban. Kisah Ni Made Puspita Yanti menjadi salah satu contohnya.

Pada 2025, ia menjadi wisudawan terbaik Universitas Terbuka Daerah Majene dengan IPK 3,82. Di tengah kesibukannya bekerja sebagai Account Officer di Bank Sulselbar, ia tetap menyisihkan waktu sekitar tiga sampai empat jam setiap minggu untuk belajar dan mengerjakan tugas. Sistem pembelajaran daring yang fleksibel juga dimanfaatkannya untuk menyesuaikan pendidikan dengan pekerjaannya.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa bekerja selama kuliah tidak selalu berujung pada menurunnya prestasi. Ada mahasiswa yang justru mampu menjadikan pekerjaan sebagai bagian dari proses pendewasaan diri. Kuncinya bukan sekadar memiliki banyak waktu, melainkan bagaimana waktu yang tersedia digunakan.

Fleksibel, tetapi Tetap Punya Batas

Pembelajaran daring semakin membuka ruang bagi mahasiswa untuk menjalankan kuliah dan pekerjaan secara bersamaan. Kuliah tidak selalu harus dilakukan di ruang kelas dan pada jam yang sama setiap hari. Fleksibilitas ini tentu menjadi keuntungan bagi mahasiswa yang memiliki kesibukan lain.

Meski begitu, fleksibilitas bukan berarti tanpa persoalan. Penelitian yang diterbitkan pada 2026 terhadap 50 mahasiswa karyawan di UT menunjukkan bahwa mahasiswa tetap menghadapi persoalan seperti konflik antara pekerjaan dan kuliah, kelelahan, serta menurunnya motivasi belajar.

Artinya, teknologi memang dapat mempermudah akses terhadap pendidikan, tetapi tidak serta-merta menghilangkan persoalan yang dihadapi mahasiswa pekerja. Ketika pekerjaan dan kuliah sama-sama menuntut perhatian, kemampuan mengatur waktu tetap menjadi penentu.

Jangan Sampai Kerja Mengalahkan Tujuan Awal

Tidak semua pekerjaan cocok untuk mahasiswa. Pekerjaan dengan jam kerja yang terlalu padat tentu akan lebih sulit dijalankan bersamaan dengan perkuliahan. Sebaliknya, pekerjaan paruh waktu, berbasis proyek, atau memiliki jadwal yang lebih fleksibel bisa menjadi pilihan yang lebih realistis.

Perguruan tinggi juga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang ramah bagi mahasiswa pekerja. Layanan akademik yang responsif dan sistem pembelajaran yang fleksibel dapat membantu mahasiswa menjalankan kedua perannya tanpa harus merasa memilih salah satunya.

Sebab, mahasiswa seharusnya tidak dipaksa memilih antara mencari pengalaman kerja dan menyelesaikan pendidikan. Keduanya dapat berjalan beriringan selama ada ruang untuk menyesuaikan.

Pada Akhirnya, Semua Kembali pada Prioritas
Kuliah sambil bekerja bukan perkara siapa yang paling sibuk atau siapa yang mampu menjalani aktivitas paling banyak. Ada mahasiswa yang bekerja karena kebutuhan ekonomi, ada yang mengejar pengalaman, dan ada pula yang memang ingin belajar mandiri sejak masih berada di bangku kuliah.

Apa pun alasannya, menjalani dua peran membutuhkan konsekuensi. Waktu harus dibagi, tenaga harus dijaga, dan prioritas harus ditentukan. Pekerjaan memang dapat memberikan uang dan pengalaman, tetapi pendidikan tetap memiliki tujuan yang harus diselesaikan.

Ujungnya bekerja selama kuliah seharusnya menjadi bagian dari perjalanan pendidikan, bukan sesuatu yang membuat pendidikan itu sendiri ditinggalkan. Sebab, menjadi mahasiswa pekerja bukan tentang bagaimana menjalani dua kehidupan sekaligus, melainkan bagaimana memastikan keduanya tetap berjalan tanpa saling mengorbankan.

Cawan WP: Rezkhy Maulana Yazir

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *