ArtikelOpini

Mengapa Kita Perlu Membaca Fiksi?

Ketika Fiksi Dianggap Buang-Buang Waktu

Di tengah tatanan dunia hari ini yang terobsesi pada efisiensi dan hasil serba instan, membaca fiksi sering kali dipandang sebelah mata. Banyak orang menganggap buku cerita rekaan hanyalah pelarian kekanak-kanakan atau pembuangan waktu yang tidak produktif. Mengapa harus menghabiskan waktu berjam-jam menyelami kehidupan karakter rekaan jika kita bisa membaca buku non-fiksi yang langsung memberikan formula sukses, panduan bisnis, atau tips pengembangan diri?

Pandangan seperti ini sebenarnya cukup mudah ditemukan. Di tengah kehidupan yang serba cepat, sesuatu sering kali dianggap berharga jika memberikan hasil yang bisa langsung dirasakan. Membaca buku tentang bisnis dianggap lebih berguna karena bisa menambah pengetahuan, sementara membaca novel dianggap hanya untuk hiburan.

Padahal, manfaat membaca tidak selalu harus hadir dalam bentuk pengetahuan praktis yang bisa langsung digunakan.
Sikap skeptis terhadap fiksi memang wajar tumbuh di masyarakat yang semakin pragmatis. Namun, anggapan bahwa fiksi tidak produktif justru berangkat dari premis yang keliru: seolah kemampuan memahami manusia lain bukan sesuatu yang berguna.

Fiksi Mengajarkan Kita Memahami Orang Lain

Empati dan kepekaan membaca situasi adalah kemampuan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Kita menggunakannya ketika berhadapan dengan teman, keluarga, pasangan, rekan kerja, bahkan ketika berada dalam situasi yang penuh perbedaan pendapat. Dalam kepemimpinan, ruang sidang, negosiasi, atau kehidupan sehari-hari, memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain sering kali jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui teori.

Di sinilah fiksi memiliki tempatnya. Ketika membaca cerita, kita tidak hanya mengikuti jalan cerita, tetapi juga diajak masuk ke dalam pikiran dan perasaan tokohnya. Kita bisa memahami mengapa seorang tokoh mengambil keputusan tertentu, meskipun keputusan tersebut berbeda dengan apa yang akan kita lakukan.

Kita bahkan bisa memahami tokoh yang melakukan kesalahan tanpa harus membenarkan kesalahannya. Kebiasaan melihat persoalan dari sudut pandang orang lain inilah yang perlahan dapat membuat kita tidak mudah menghakimi seseorang hanya berdasarkan apa yang terlihat di permukaan.

Jika buku non-fiksi hadir sebagai makanan bagi otak dan logika untuk membedah data, maka fiksi adalah nutrisi bagi hati dan jiwa untuk mengasah rasa. Dalam tradisi sastra klasik, Horatius pernah memperkenalkan prinsip dulce et utile, bahwa karya yang baik mengandung unsur kenikmatan sekaligus nilai mendidik. Fiksi tidak menyuapkan pelajaran secara gamblang dalam bentuk poin-poin ringkas. Sebaliknya, ia menyembunyikan kebenaran di balik pecahan adegan, konflik, dan dinamika karakter.

Karakter Raskolnikov

Pandangan saya terhadap hal ini semakin berubah ketika menyelami fiksi klasik, salah satunya Crime and Punishment karya Fyodor Dostoevsky yang ditulis pada 1866. Meski terpisah rentang waktu lebih dari satu abad, cerita tersebut masih terasa relevan hingga sekarang.
Lewat karakter Raskolnikov, saya diajak masuk ke dalam labirin pikiran seorang pemuda yang terjebak dalam rasionalisasi moral hingga melakukan pembunuhan. Jika hanya melihat tindakan Raskolnikov dari kacamata hukum atau teks non-fiksi yang kaku, kita mungkin akan dengan mudah mengutuknya sebagai kriminal semata.
Namun, Dostoevsky tidak berhenti pada tindakan tersebut.

Pembaca justru dibawa mengikuti pergulatan batin Raskolnikov, rasa bersalah, kemelaratan, ketakutan, dan berbagai pemikiran yang ada di kepalanya. Kita diajak melihat manusia di balik sebuah tindakan.
Di sinilah saya merasa fiksi memiliki kekuatan yang tidak selalu bisa diberikan oleh tulisan informatif. Kita dapat memahami kerumitan jiwa seseorang tanpa harus membenarkan perbuatannya. Raskolnikov tetap melakukan kesalahan, tetapi pembaca diberikan kesempatan untuk memahami bagaimana pikirannya sampai pada titik tersebut.

Penelitian David Comer Kidd dan Emanuele Castano

Dampak membaca fiksi bukan hanya persoalan perasaan atau pengalaman pribadi pembaca. Penelitian David Comer Kidd dan Emanuele Castano yang terbit di jurnal Science pada 2013 membahas hubungan membaca fiksi sastra dengan Theory of Mind, yaitu kemampuan manusia untuk memahami keadaan mental, emosi, motif, dan sudut pandang orang lain.

Penelitian tersebut menarik karena menunjukkan bahwa membaca fiksi tidak sesederhana duduk, membaca halaman demi halaman, lalu selesai. Ketika mengikuti karakter dengan latar belakang dan pemikiran yang berbeda dari kita, pembaca secara tidak langsung berhadapan dengan berbagai sudut pandang.

Kita belajar memahami mengapa seseorang mengambil keputusan tertentu. Kita belajar bahwa sebuah persoalan tidak selalu memiliki jawaban yang hitam dan putih. Dari sana, membaca fiksi bisa menjadi latihan kecil untuk memahami manusia di kehidupan nyata.

Novel sebagai Simulator Kehidupan

Lebih dari itu, pakar psikologi kognitif Keith Oatley menggambarkan fiksi sebagai semacam “simulator penerbangan bagi pikiran”.

Perumpamaan ini menurut saya cukup menarik. Sama seperti simulator yang memungkinkan seseorang berlatih menghadapi berbagai situasi tanpa harus mengalaminya secara langsung, fiksi memberi kita kesempatan untuk menghadapi berbagai konflik kehidupan melalui cerita.

Saat membaca, kita bisa mengikuti tokoh yang menghadapi kehilangan, perselisihan, rasa bersalah, kegagalan, atau dilema moral. Kita merasakan ketegangan dari konflik tersebut tanpa harus benar-benar mengalami peristiwa yang sama dalam kehidupan nyata.

Fiksi akhirnya menjadi semacam ruang untuk mencoba memahami berbagai kemungkinan kehidupan. Kita melihat bagaimana sebuah keputusan bisa menghasilkan konsekuensi tertentu, bagaimana sebuah hubungan dapat berubah karena pilihan seseorang, dan bagaimana manusia menghadapi masalah yang mungkin suatu hari juga kita temui.

Setelah Menutup Buku, Kita Kembali ke Dunia Nyata

Memahami dunia fiksi yang rumit sejatinya adalah latihan untuk memahami kehidupan nyata yang juga tidak kalah membingungkan. Fiksi mengajarkan kita untuk membaca yang tersirat di balik yang tersurat, mengasah kepekaan terhadap emosi dan situasi, serta melihat persoalan dari lebih dari satu sudut pandang.

Bagi sebagian orang, membaca fiksi juga merupakan cara melintasi batas geografis dan zaman tanpa perlu berpindah tempat. Kita bisa mengenal kehidupan manusia dari masa dan tempat yang jauh berbeda dengan kehidupan kita sendiri.

Kita bertemu karakter yang mungkin tidak akan pernah kita temui di dunia nyata, tetapi justru melalui mereka kita bisa belajar sesuatu tentang manusia.
Pada akhirnya, membaca fiksi bukanlah sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Fiksi memang tidak selalu memberikan formula sukses atau lima langkah yang bisa langsung dipraktikkan. Namun, ia memberikan sesuatu yang tidak kalah penting: kemampuan untuk memahami.

Jika non-fiksi memberi kita wawasan untuk menaklukkan dunia, fiksi memberi kita kedalaman untuk memahaminya. Membaca fiksi bukanlah bentuk penolakan terhadap kenyataan, melainkan cara untuk kembali menghadapi realitas dengan pikiran yang lebih terbuka.

Sebab, mungkin dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai mencari solusi. Dunia juga membutuhkan orang-orang yang mau berhenti sejenak, mendengarkan, dan mencoba memahami.

Fajri WP

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *