BeritaSeputar Kampus

Penyandang Autisme Ringan, Faizi Tuntaskan Studi Hukum 3,5 Tahun

WAWASANPROKLAMATOR,- Hak pendidikan jaminan kesetaraan bagi seluruh Warga Negara Indonesia (WNI), tercermin di wisuda akademik ke-85. Di antara ratusan wisudawan bahagia, satu sosok buktikan keterbatasan bukan penghalang berlangsung di Bung Hatta Convention Hall (BHCH), Kampus Proklamator I, Sabtu (25/4/2026).

Ia adalah Faizi Aulia Naldi, mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Hukum. Meski penyandang disabilitas autisme ringan, ia berhasil mematahkan stigma dengan meraih IPK 3,39 serta menyandang predikat “Sangat Memuaskan”.

Judul skripsi Faizi ialah “Pemenuhan Hak atas Pendidikan Tinggi Kelompok Penyandang Disabilitas di Kota Padang”. Kondisi autisme ringan, justru tidak menghalangi langkah menaklukkan labirin hukum yang rumit.

Pendamping Faizi, Selvia Afnika, S.Pd., menyatakan, dipilih langsung orang tua Faizi untuk mendampingi selama kuliah. Menurut Selvia, kebutuhan pendamping tidak hanya dari Faizi, tapi juga dari universitas untuk memastikan hak pendidikannya terpenuhi. Ia mengaku, sosok Faizi anak yang cuek, tetapi tekun belajar karena semangat tinggi dan mau diarahkan.

​”Ketulusan menjadi modal kelancaran komunikasi interaksi dengan Faizi. Ia mampu merespons melalui senyuman sebagai bukti kebahagiaannya,” jelas Selvia.

Hal luar biasa lainnya, Faizi mumpuni dalam membaca, menghitung, hingga mengoperasikan komputer. Capaiannya mengirimkan pesan kuat bagi mahasiswa lain bahwa dengan tekad yang kuat, keterbatasan fisik maupun saraf tidak akan menghentikan langkah menuju kesuksesan.

“Pada tahap revisi, saya intens berkoordinasi dengan orang tua dan dosen pembimbing. Jika tugas tersebut masih dalam batas kemampuannya, maka penyelesaiannya tetap diserahkan sepenuhnya kepada Faizi,” ungkapnya.

Ayah Faizi, Ir. H. Al Fredo, berharap putranya bisa mengenyam pendidikan dengan baik tanpa tekanan target nilai. Namun di luar dugaan, Faizi justru menunjukkan tanggung jawab besar dengan menyelesaikan studi lebih cepat, yakni dalam waktu 3,5 tahun.

​”Alhamdulillah, perasaan kami sangat luar biasa dan benar-benar di luar ekspektasi. Melihatnya memakai toga hari ini dengan pribadi yang lebih mandiri, rasanya seperti sedang bermimpi,” ujarnya jujur.

Ia menekankan kesabaran dan pengorbanan orang tua adalah kunci, termasuk keputusannya mengambil pensiun dini demi fokus mendampingi Faizi. Ia berpesan, agar guru Sekolah Luar Biasa (SLB) mengenali karakteristik anak secara mendalam.

“Harapan saya, dengan kesabaran dan bimbingan yang selama ini kami berikan, Faizi dapat kembali melanjutkan pendidikan ke tahap berikutnya. Menurut saya, pengorbanan ini belum usai karena kami ingin terus mengarahkan Faizi hingga ia benar-benar mandiri dan sukses di masa depan,” tutupnya.

Adiva WP

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *