Tuesday, June 22, 2021
Mulai Terkikisnya Kebebasan Berekspresi Pers Saat Ini

Mulai Terkikisnya Kebebasan Berekspresi Pers Saat Ini



WAWASAN PROKLAMATOR,- Aliansi Jurnalis Idependen (AJI) Padang, mengadakan sesi keempat diskusi ngabuburit jurnalistik sekaligus memperingati World Press Freedom Day. Topik yang dibahas mengenai “Ekspedisi ke Pelosok Negeri, Ekspresi Kemerdekaan Pers”, dilaksanakan secara online melalui aplikasi Zoom dan live streaming Youtube, Senin (03/05/2021).

Diskusi ini berlangsung mulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 17.30 WIB. Dihadiri oleh narasumber yaitu Dandhy Dwi Laksono Anggota AJI/Watchdoc. Dimoderatori Hendra Makmur, Anggota AJI Padang.

Dandhy menjelaskan alasannya melakukannya ekspedisi, sebagai bentuk respon terhadap kejenuhan mengerjakan liputan agenda setting di Watchdoc dan bentuk respon dari berjunalis di  media industri. Watchdoc sebuah rumah produksi audio visual yang cukup dikenal penikmat video dokumenter.

“Respon terhadap kejenuhan kami di Watchdoc yang mengerjakan liputan agenda setting, dan Watchdoc sendiri merupakan bentuk respon terhadap kejenuhan kami berjunalis di industri. Manusia tidak pernah merasa puas, kami bentuk Watchdoc karena jenuh bekerja dalam logika media industri,” ucap Dandhy.

Dalam hal ini Dandhy juga menanggapi mengenai kebebasan untuk mengekplorasi sebuah topik yang mengganggu kepentingan politik pemilik media.

“Yang kita lihat dari media industri adalah topiknya. Kami tidak merasa ketika itu  punya ruang untuk mengekplorasi sebuah topik, dan kami berhadapan dengan kepentingan politik dari  pemilik media dengan logika industri seperti itu. Ketika berita harus bisa dijual iklannya itu bagi kami tidak cocok,” imbuhnya.

Dandhy juga menyoroti masyarakat yang ingin memiliki pilihan lain terhadap tontonan, seperti dengan adanya konten ilmu pengetahuan. Banyaknya orang jenuh dengan konten Televisi (TV), tetapi masyarakat tidak punya pilihan karena internet dan kuota masih dianggap mahal sampai saat sekarang. Sehingga mau tidak mau mereka hanya dapat tontonan dari TV secara gratis.

“Artinya memang betul premis tidak semua penonton kita ingin menonton hiburan saja tetapi juga menonton konten tentang ilmu pengetahuan. Konten ini tidak bisa didapat dari media secara gratis karena media ingin meraup keuntungan disela program tersebut dengan adanya iklan, maka dari itu produk jurnalis sebagai program kelas 2,” tutupnya.

(Cawan WP : Riko Azardi)

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai