Wednesday, May 12, 2021
AJI Padang Adakan Ngabuburit Jurnalistik

AJI Padang Adakan Ngabuburit Jurnalistik



WAWASAN PROKLAMATOR,- Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang menyelenggarakan acara diskusi jurnalistik menjelang berbuka puasa yang dinamakan “Ngabuburit Jurnalistik”. Kegiatan ini merupakan serangkaian dari 5 sesi diskusi selama bulan Ramadhan yang dilaksanakan secara daring menggunakan aplikasi Zoom dan disiarkan langsung via Youtube, Senin (19/03/2021).

Diskusi digelar secara gratis dan terbuka untuk umum, dengan mengusung tema “Ancaman Kekerasan dan Pentingnya Keamanan Digital Bagi Jurnalis”. Materi ini disampaikan oleh Sasmito Madrim, Ketua Umum AJI Indonesia dan Joni Aswira, Ketua Bidang Internet AJI Indonesia.

Sasmito Madrim, Ketua Umum AJI Indonesia mengungkapkan gambaran terkait ancaman kekerasan terhadap jurnalis.

“Keselamatan jurnalis dijamin Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, tetapi fakta di lapangan kekerasan terhadap jurnalis itu masih tinggi. Dalam 10 tahun terakhir, tahun 2020 merupakan angka kasus kekerasan terhadap jurnalis yang paling tinggi. Ironinya pelaku kekerasan ini paling dominan adalah dari aparat kepolisian,” ungkapnya.

Ketua Umum AJI Indonesia juga mengatakan beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menghentikan kekerasan terhadap jurnalis.

“Upaya yang dapat dilakukan secara internal yaitu dengan adanya pelatihan jurnalistik berupa kapasitas dalam keamanan meliput, pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP) kasus kekerasan jurnalis, penguatan perusaan media dan dewan pers. Obat mujarab dalam penanganan kekerasan terhadap jurnalis ini adalah kasusnya harus tuntas,” ucapnya.

Joni Aswira, Ketua Bidang Internet AJI menyampaikan tren serangan digital terhadap jurnalis.

 “AJI mencatat setiap tahunnya angka kekerasan terhadap jurnalis masih ada. Kasus-kasus serangan digital ini dilatarbelakangi oleh kebiasaan masyarakat terhadap internet, hal ini dibuktikan dengan penggunaan media sosial yang semakin tinggi. Selain itu, dikarenakan situasi pandemi seperti saat sekarang, membuat masyarakat bergantung terhadap dunia digital,” ujarnya.

Lebih lanjut, Joni Aswira juga memaparkan beberapa kasus kekerasan terhadap jurnalis yang pernah terjadi di Indonesia.

“Kasus kekerasan terhadap jurnalis dapat berupa Distrubuted Denial of Service (DDos), hacking, malware, dan persekusi, biasanya motif yang dilakukan untuk menebar teror diiringi kalimat provokatif atau menghakimi yang disebarluaskan ke media sosial. Hal ini timbul dari ketidaksukaan terhadap pemberitaan jurnalis, kemudian sekelompok atau golongan orang tertentu menyerang jurnalis tersebut. Serangan digital saat ini sudah mulai berkembang, tidak hanya terhadap jurnalis tetapi juga kepada media-media bahkan aktivis,” paparnya.

Rika Novitry, salah satu peserta diskusi dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Medika, menyampaikan kesan dan pesannya selama mengikuti kegiatan.

“Acara yang diselenggarakan oleh Aji ini memberikan banyak sekali ilmu yang mungkin kita sebagai pers mahasiswa belum mengetahuinya, dan kita juga dapat sharing satu sama lainnya. Semoga kegiatan ini sering diadakan dan alangkah baiknya secara offline, agar kita dapat bertemu langsung dan bersilahturahmi,” ucapnya.

Senada dengan Rika, Randi, peserta diskusi dari LPM Jempol juga menyampaikan kesan dan pesannya dari kegiatan ini.

“Kegiatan ini bermanfaat besar bagi pers mahasiswa dan juga jurnalis, karena kita bisa mempelajari dan mendapatkan pengetahuan baru tentang pentingnya sebagai jurnalis untuk waspada dalam keamanan jejak digital. Semoga kedepannya terus ada kajian tentang jurnalistik yang mampu membangkitkan semangat menulis terutama bagi pers mahasiswa,” ujarnya.

Dita WP

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai