Sunday, September 19, 2021

Bukan Keinginan Ku



Di sebuah desa, pada siang hari anak tampak duduk termenung di bawah pohon rindang di tepi jalan. Menggunakan baju yang sederhana dengan celana yang lusuh sesekali membasuh air mata yang terkadang mengalir deras dari pelupuk matanya itu, yang sering mengeluh tentang hidupnya.

Dunia sangat tidak adil, mengapa semua ini harus aku yang menjalani. Mengapa harus aku yang seperti ini, aku ingin kehidupan seperti orang-orang yang lain yang hidup bahagia dengan keluarga yang utuh itulah yang Salsa inginkan, teriak Salsa sambil memukul pohon dengan tangannya yang keras sehingga menimbulkan beberapa bercak darah di ruas-ruas jarinya, setiap hari ia merasa sedih dan kesepian ingin menolak takdir serta ingin menuntut keadilan itu seperti orang-orang lain yang bisa hidup dengan kedua orangtuanya

Salsa adalah seorang wanita berumur 12 tahun yang semenjak lahir hidup tanpa pernah melihat wajah orang tuanya, karena kedua orang tuanya mengalami kecelakaan tepat setelah 1 minggu kelahirannya saat hendak pulang ke rumah, setelah dari rumah sakit bersalin. Ia hanya hidup dengan tantenya yang merupakan adik dari ibu kandungnya yang 6 tahun kemudian harus dipanggil menghadap Sang Kuasa karena mengalami penyakit kanker. Sehingga saat Salsa berumur 6 tahun Ia harus bertahan hidup sendirian. Hidup terasa amat berat untuk wanita kecil sepertinya.

“Wanita bodoh! Kerjaannya cuma minta-minta mulu!”

Cibir seseorang yang risih melihat Salsa selalu mengemis di tempat yang sama.  Banyak desisan seperti ini yang sering Salsa dengar dari orang di sekelilingnya, teman-teman pengemis pun serasa enggan bermain dengannya yang hidup tanpa kedua kaki.

Pernah di suatu gang yang gelap gulita, Salsa mengalami sebuah kejadian menyakitkan.

“Berikan uangmu, kalau tidak jangan harap bisa hidup di dunia ini lagi kami akan membunuhmu cepat berikan!” kata seseorang dengan kasar sambil berusaha merampas kantung putih yang Salsa pegang.

“Tidak bisa, Ini hasil jerih payahku hanya ini yang kupunya ini untukku untuk makan ku untuk bertahan hidup ku! Ini untuk masa depanku!” Plaakkk ! Tamparan keras tepat mendarat di pipinya yang kini berwarna merah tamparan dari orang yang tak dikenalnya. Buughh ! Kepalan tangan keras para preman tersebut tepat mengenai perut Salsa. Salsa menangis dan meringis kesakitan sambil berteriak meminta tolong. Berharap ada yang menolongnya, lalu beberapa menit kemudian jatuhlah Salsa tak berdaya tergeletak di tanah dan tak sadarkan diri seketika.

Para preman tersebut dengan kasar merebut uang yang digenggam Salsa lalu dengan cepat berlari hilang ditelan kegelapan, tanpa mempedulikan seorang bocah yang pingsan di tanah tak sadarkan diri.

Salsa membuka mata perlahan, kini ia berada di sebuah tempat asing dengan beberapa perabotan sederhana tapi tertata rapi di kamar tempatnya berbaring. Tak lama kemudian ada seorang pria tua yang menemukan Salsa pingsan tak berdaya, Ia pun bergegas menolong anak kecil itu sembari menggendong berlari dan menghantarnya ke rumah sakit untuk meminta obat dan membawanya untuk dirawat di rumah.

Krriiittt... tak lama Salsa sadar, kamar terbuka, tampaklah seseorang yang familiar di mata Salsa, dengan gamis serta peci putih, ia adalah Pak Sabar yang menolong dan membantunya, dengan tersenyum sambil membawakan segelas minuman dan semangkuk bubur yang terlihat lezat.

“Ini untukmu, ambillah Salsa. Segera makan lalu minum obat agar dirimu kuat dan sehat! Lekas sembuhlah anakku!” Salsa terkaget dengan perkataan Pak Sabar. Bagaimana bisa beliau memanggil dirinya anak? Gelagat Salsa yang keheranan ternyata dapat ditangkap Pak Sabar,

Lalu pak Sabar bertanya Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Salsa bisa pingsan?

Salsha pun menceritakan hal yang terjadi padanya, dia dirampok dan uang yang satu-satunya ia miliki hilang dilarikan preman. Lalu ia dipukul sampai tak sadarkan diri.

Salsa pun berterima kasih kepada Pak sabar karena telah menolongnya, lalu Salsa diam sejenak, dia bingung harus kemana dan harus bagaimana lagi. Dengan muka yang lemas ia pun menangis bertanya pada dirinya sendiri harus kemana lagi aku bertahan hidup, harus bagaimana lagi aku.

Setelah mendengar cerita Salsa, Pak Sabar pun berniat menolong dengan mengasuh Salsa yang yatim piatu dan dan tak punya arah. Karena menurut Pak Sabar, akan bahaya jika Salsa hidup di jalanan sendirian.

Pak Sabar pun berkata “Tenang Sa, kamu sudah saya jadikan sebagai salah satu penghuni dari rumah ini.”

Lalu terdengar sorak-sorak yang sangat ramai makin mendekat ke arah Salsa “yeahhh, sekarang kita punya teman baru,” kata seseorang anak tunarungu.

Salsa Berterima kasih kepada Pak sabar sekali lagi, telah membantunya dan ingin merawatnya. Salsa tersenyum, ternyata Pak Sabar adalah pengasuh anak cacat. Dengan wajah berseri Salsa berlari lalu bersatu dengan para anak-anak lainnya yang sedang berusaha mengejar mimpinya, agar kelak semua orang tahu bahwa dunia tidak memandang apapun dari fisik, melainkan niat hati serta tekad yang tinggi dan mau selalu berusaha.

Begitulah hidup akan banyak lika-liku serta warna baru yang mungkin kita semua alami, tetaplah bersyukur, berusaha dan selalu menjadi orang baik.

(Cawan WP : Aiysa Wulandari)

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai

foto thumbnail
  • 02 September 2021
Teman Singgah
2012-11-04 12:50:09
  • 25 June 2021
Surat untuk Eca
foto thumbnail
  • 23 June 2021
Istikharah
2012-10-16 12:34:57
  • 23 June 2021
Ragu Semesta