Sunday, September 19, 2021

Istikharah



Siti mengintip dari jendela. Kenapa rumah Pak Long berisik. Seperti ada tamu. Seseorang, dia tidak yakin. Dia melanjutkan pekerjaannya. Sandy telah pergi entah kemana. Sudah jam 3 sore tapi dia juga belum pulang. Mungkin mampir ke rumah teman. Dia seperti tidak mengerti Sandy, jika dia sedang berkumpul dengan teman-temannya, dia pasti tidak ingat pulang. Siti menyajikan makanan siap saji. Dia hendak pergi ke rumah Mak Long. Dia sudah berjanji untuk memasak kari ayam. Terdengar suara mobil di depan rumah. Dia tahu Sandy sudah di rumah Mak Long. Siti tersenyum. Sandy adalah abang kandung Siti.

Aizzudin melihat ke rumah di sebelah guru Ahmad. Ada mobil baru di depan rumah. Sejak dia datang lebih awal, dia hanya ingin bertanya siapa yang tinggal di rumah mantan mertuanya. Namun, keinginannya dibiarkan begitu saja. Aizzzudin segan  ingin menanyakan itu. Ia melihat dua orang keluar menuju rumah guru Ahmad. Mereka berdua masuk melalui pintu belakang. Mak Long mengundang Aizzudin dan Amelia ke dapur. Amelia adalah adik perempuan Aizzudin. Amelia berbeda enam tahun darinya. Amelia sekarang berusia 23 tahun sementara dia berusia 28 tahun. Akhirnya mereka semua berkumpul di rumah Mak Long.

“Kak Sit, kan? Kak Siti,” Amelia memeluk Siti yang tercengang. Dia menatap Sandy. Siti hanya mengangguk. Dan berpikir hanya ingin pulang karena Siti segan gadis itu adalah mantan adik iparnya.

"Jauh sekali kesini. Amy merindukan kakak Sit,” Siti hanya tersenyum. Dia tidak tahu harus berkata apa.

Aizzudin menatap Siti. Ia sangat merindukan gadis itu.

“Siti,kamu bilang kamu ingin pergi ke toko, kan? ” kata Sandy sambil tersenyum. Dia menolak tawaran Aizzudin untuk makan bersama mereka. Siti hanya mengangguk. Dia bahkan tidak ingin pergi ke toko. Tapi dia mengerti atas ajakan Sandy. Sandy sangat memahami keadaannya saat itu.

Mobil Sandy meluncur keluar. Sepanjang jalan mereka hanya diam. Sandy melirik ke arah Siti. Wajahnya muram hanya setelah pertemuan tadi. Dia sangat mengerti perasaan Siti. Dia tahu mengapa Siti menolak pria mana pun yang ingin mendekatinya. Siti masih setia. Kesetiaan yang sangat menyakitkan. Ia tahu Siti masih mencintai Aizzudin. Itulah impian Siti.

Mereka turun dari mobil. Siti berjalan menuju pantai. Pintar Sandy membawanya ke sana. Setetes demi setetes air mata jatuh. Dia menangis lagi. Sudah lama dia tidak menangis. Sungguh, dia terlalu lemah untuk menghadapi pria itu. Kamu kangen, dia benar-benar merindukan. Tapi dia masih disakiti oleh Aizzudin. Hatinya sakit saat mengingat apa yang terjadi. Sakit rasanya melihat kecurangan pertama Aizzudin di depan matanya

"Kenapa dia datang? Mengapa Siti masih mencintainya?” Siti benar-benar tidak kuat menghadapinya, Siti menangis .

Apa yang dikatakan adalah kebenaran. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Sandy. Sandy mengusap lembut kepalanya. Sandy tidak punya kata-kata untuk diucapkan. Dia lemah ketika melihat Siti menangis. Dia mencintai Siti. Ia tidak ingin Siti kecewa. Itu janjinya pada umi yang sudah meninggalkan dunia terlebih dahulu. Dia berjanji akan menjaga Siti sebaik mungkin.

Tiba-tiba kemeja yang baru saja dipakainya dilemparkan ke arahnya. Dia menoleh ke Fattah, temannya tertawa dan menertawakannya. Dia melemparkan kemejanya kembali ke Siti. Siti berjalan menuju Sandy. Baju yang Sandy lempar tadi, dia tepuk-tepuk di wajah Sandy. Fattah sudah tertawa terbahak-bahak.

"Baunya enak, bang Sandy. Sandy, Siti mengatakan bahwa pakaian kotor diletakkan di dekat keranjang dan tidak dibuang. Apakah ada calon kakak ipar untuk Siti?” Sandy yang baru saja ingin meminum air yang dibawa Siti, tiba-tiba tersedak kalimat terakhir. Pikir Siti menebak. Siti tersenyum pada Sandy.

“Memang dia sudah punya calon adik ipar Siti. Orang yang cantik. Namanya Aisyah. Rekan kerjaku" Speed ​​saja Fattah menceritakan. Sandy menampar Fattah. Rahasianya terungkap. Tentu saja dia jatuh cinta pada Aisyah, tetapi dia belum tahu seperti apa temperamen Aisyah. Siti sudah menatapnya dengan tatapan yang sulit untuk dia artikan.

"Orang macam apa dia? Baiklah kalau begitu? Kalau boleh, minggu depan Siti akan melamarnya untuk Sandy. Coba ceritanya di dekatku, Fattah. Orang macam apa Aisyah itu?” Sandy hampir mengerjap mendengar jawaban Siti. Dia mengira Siti akan memarahinya atau menegurnya.

Fattah menceritakan semua tentang Aisyah. Dengan apa yang Fattah ceritakan, Siti memang sudah tertarik dengan Aisyah. Orang baik. Mungkin menurut Sandy. Setelah mendengarkan kepribadian eksternal Aisyah. Dia akan melamar Aisyah untuk Sandy minggu depan.

Alhamdulillah. Semua yang direncanakan Siti berjalan dengan baik. Sandy tidak bisa mengikuti karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Siti pergi ke rumah Aisyah dengan mak long dan pak long. Jelas Aisyah terkejut dengan lamaran itu. Dia sudah jatuh cinta dengan Sandy. Namun keinginannya itu terlupa karena melihat Sandy berteman dengan wanita lain. Ia juga kaget saat melihat Siti yang datang melamarnya untuk Sandy.

“Tidak kak..,” Aisyah ragu untuk mengatakan apa yang ada di lubuk hatinya. Siti tersenyum. Aisyah pernah melihat Sandy dan Siti di pantai. Aisyah kira mereka berdua adalah pasangan suami istri.

"Kak Siti. kakak bukan istri Sandy tapi adiknya. Kami selalu bersama" Aisyah mengangguk mengerti. Dia meminta waktu untuk menjawabnya. Dia tidak ingin bertindak terburu-buru.

***

Tiga bulan kemudian……

Baru saja sampai di depan masjid. Sandy tidak turun dari mobil. Siti meneriakinya. Sandy menarik tangan Siti. Dia mencengkeramnya dengan begitu dingin.

“Tenanglah saudaraku. Allah bersama kita. Ayolah. Siti selalu bersamamu. Siti dukung Sandy?” kata Siti untuk menenangkan Sandy. Sandy setuju dengan Siti. Ia segera turun dari mobil. Setelah itu mereka masuk ke dalam masjid. Al-fatihah dan salawat dibacakan agar segala urusan dimudahkan.

Alhamdulillah. Kontrak pernikahan sudah berakhir. Ya, Aisyah dan Sandy sudah sah menjadi suami istri. Setelah itu mereka mengikuti arahan masing-masing. Pantai tujuan mereka setelah akad nikah. Sandy sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Pahami bahwa dia sah sebagai suami Aisyah. Senyum sampai ke telinganya.

“Terima kasih sudah menjadi adik terbaik untukku,” ucap Sandy.

“Ini suatu kewajiban bagiku bang untuk membahagiakanmu,” jawab Siti.

Akhirnya mereka bahagia, Sandy sangat mencintai adiknya dari dulu sampai sekarang. Sandy shalat istikharah dan jawabannya adalah Aisyah. Sholat istikharah sejati menjadi pendamping baginya dalam mengambil segala keputusan. Tuhan telah menetapkan bahwa Aisyah menjadi jodohnya.

Istikharah

(Cawan WP : Nur Amina Harahap)

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai

foto thumbnail
  • 02 September 2021
Teman Singgah
2012-11-04 12:50:09
  • 25 June 2021
Surat untuk Eca
2012-10-16 12:34:57
  • 23 June 2021
Ragu Semesta