Sunday, September 19, 2021

Terjebak Perhatian Virtual



Sore yang tenang membuatku bersemangat memulai hariku untuk pergi bekerja. Minggu ini giliran grupku mendapat shift sore. Aku bekerja di salah satu perusahaan swasta di kotaku. Jaraknya cukup jauh ditempuh jika suasana lalu lintas sedang padat merayap disaat pagi dan sore. Sialnya jam masuk kerjaku juga sama dengan waktu padatnya aktivitas jalan raya.

Setelah semuanya selesai, aku berpamitan dengan orang tuaku untuk pergi bekerja. Kemudian aku berjalan menuju halte simpang perumahanku untuk menunggu angkutan karyawan yang akan mengantarkan menuju tempatku mencari pundi-pundi rupiah. Ketika sedang menunggu angkutan karyawan, tak lupa aku chattingan dengan sahabat sejak diriku duduk di kelas 3 SD untuk mengusir rasa bosanku. Fadi namanya. Dia lah sahabat yang tahu akan segala hal tentang diriku. Dia pun begitu. Berbeda dengan diriku, Fadi masih belum bisa mengungkapkan beberapa kisahnya kepadaku. Dia berjanji akan menceritakan semua yang belum aku ketahui mengenai dirinya suatu saat nanti. Dan hal itu tidak menjadi masalah bagiku sedikit pun. Karena aku yakin suatu saat dia akan menceritakan semuanya kepadaku. Aku tahu bagaimana Fadi.

“Fadi, yuhu…aku lagi nunggu bus nih, temenin aku dong biar nggak kesepian disini. Lagi di halte nih aku,”

“Kesepian dari mana sih Olivia? bukannya disana ramai? mobil sama motor kan banyak yang lewat. Jangan ngada-ngada deh kalo ngomong,”

“Betulan ini aku kesepian. Di halte cuma ada aku sendiri yang duduk. Temenin aku ya,”

“Emang si Diko kemana? Tumben nggak nemenin kamu chattan,”

“Dia pasti juga lagi siap-siap buat berangkat kerja lah, kamu lupa aku sama dia satu grup?”

“Oh iya wkwkwk. Maap. Yaudah sini aku temenin. Mau ngapain kita kali ini?”

“Bahas apa aja sampe bus aku datang deh,”

“Okay”

Memang cuma Fadi yang selalu bisa ku renggut waktunya untuk mengisi waktu menungguku bahkan ketika aku sedang bosan sekalipun. Dari hal yang sama sekali tidak penting untuk dibahas sampai hal yang membuat air mata berlinang bisa ku ceritakan padanya. Tak heran aku mempercayainya menjadi sahabatku. Fadi terkesan cuek, tapi sebenarnya ia sangat peduli padaku. Bahkan urusan percintaanku pun tak luput menjadi urusannya juga.

Saat Fadi mengetik nama Diko tadi, aku sedikit tersenyum. Bagaimana tidak, Diko yang awalnya hanya iseng menghubungiku via direct message Instagram akhirnyameminta nomor Whatsappku karena sudah klopnya percakapan diantara kami. Waktu semakin berjalan, hatiku semakin luluh disaat aku dan Diko chattingan di Whatsapp. Diko selalu memfoto aktivitasnya padaku padahal aku sama sekali tidak memintanya. Dan percakapan kami dari hari ke hari semakin intens, pembahasan yang menurut beberapa orang biasa saja, hingga menyangkut hal yang aku gemari, yaitu K-Pop. Benar, Diko seorang laki-laki tampan, keren,  menyukai K-Pop yang sejatinya digemari oleh kaum hawa.

Kegemaran Diko pada K-Pop menjadikan obrolan via Whatsapp kami tiap hari semakin cocok. Terkadang Diko mem-voice note suaranya ketika menyanyikan lagu Korea. Hal itu

Membuatku tertawa sekaligus kagum mendengarnya. Terkesan sedikit berlebihan, tapi itulah yang ku alami kini. Bahkan tak jarang ia tiba-tiba mengirim sebuah video yang menampilkan wajahnya. Aku tidak tahu apa maksudnya, jujur hal itu membuatku berpikir untuk membuka pintu hatiku padanya.

Aku dan Diko hanya bertemu saat sedang memasuki area tempat kerja. Kami memang satu grup, tetapi aku dan Diko terpisah gedung ketika kami sedang bekerja. Di saat istirahat untuk sholat aku kembali bertemu dengannya. Jujur ketika Diko selesai berwudhu entah kenapa hatiku luluh melihatnya. Padahal sebelumnya aku belum pernah luluh melihat laki-laki selain seniorku ketika aku masih duduk dibangku SMK dulu.

“Ah, ini hanya perasaanku saja. Aku masih tetap mengagumi Bang Rindra. Belum ada yang bisa menggantikan posisinya di hatiku,” gumamku dalam hati.

Aku memang mengangumi Bang Rindra, seniorku sejak aku duduk di kelas 10 SMK dulu. Berprestasi, rajin beribadah, parasnya yang menyejukkan hati membuatku terpesona akan kepribadiannya. Sayangnya hingga kini jangankan untuk berbincang dengannya, sekedar mem-follow akun Instagramnya saja aku tak mampu. Aku takut jika mengikuti akunnya di Instagram akan membuat hubungan dengan kekasihnya menjadi renggang.

Ya, senior yang ku kagumi ini sudah memiliki pujaan hati. Sama seperti dirinya, pujaan hatinya juga memiliki paras yang cantik, anggun, lemah gemulai, berprestasi. Hal itu membuatku berpikir keras untuk berusaha mendekatinya. Jangankan untuk mendekati, sekedar menyapanya saja aku tidak berani. Betapa menyedihkannya kisah mengangumi seniorku ini. Dan akhirnya ku putuskan untuk mencintainya dalam diam saja. Tentu saja hal ini tak luput dari sepengetahuan Fadi. Tak jarang ia selalu memberiku motivasi-motivasi untuk bisa sekedar mem-follow ­Instagram seniorku. Cuma memang dasarnya aku tidak berani, motivasi dari Fadi seolah seperti angin lalu bagiku. Maafkan aku, Fadi.

Setelah selesai sholat, terkadang Diko menyapaku. Hanya sekedar menyapa, entah kenapa hatiku berdegup kencang. Apakah mungkin karena kami setiap hari melakukan obrolan via Whatsapp? Apakah mungkin posisi seniorku bergeser karena Diko? Banyak sekali pertanyaan-pertannyaan yang muncul di benakku.

“Apakah aku jatuh cinta pada Diko? Apakah mungkin hatiku sekarang sudah bisa menerima Diko? Bagaimana dengan posisi Bang Rindra sekarang? Tapi aku masih tetap mengangumi Bang Rindra lebih dari apapun. Kenapa sekarang aku merasa bimbang? Apa yang harus ku lakukan sekarang?”

Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepalaku. Aku merasa bimbang. Apakah mungkin aku mencintai dua orang dalam satu waktu? Apakah aku terlihat seperti penjahat perasaan yang sudah mengagumi dua orang sekaligus? Aku harus mengakhiri teka-teki perasaan ini sekarang. Aku harus berani menanyakan pada Diko bagaimana kelanjutan hubungan diantara kami. Besok akan ku tanyakan padanya melalui chat di Whatsapp. Aku akan akhiri semua kegundahan ini.

Hari sudah berganti. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Pekerjaanku sudah selesai dari pukul 5 subuh tadi. Aku bergegas menyiapkan barang-barangku untuk segera pulang. Segera aku menuju bus untuk pulang ke rumah. Tidak sabar rasanya aku ingin bertanya pada Diko terkait hubungan kami. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang timbul di benakku. Saking banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang ada di benakku, aku sampai tak sadar bahwa bus yang ku tumpangi sudah tiba di simpang perumahanku.

Sampailah aku dirumah. Setelah sarapan, aku memulai chat lagi dengan Diko. Rasa penasaran, takut, deg-degan, semua dicampur menjadi satu. Namun semua ku lawan untuk menghilangkan semua rasa penasaranku.

“Diko, aku mau nanya”

Seperti biasanya, Diko selalu cepat membalas pesanku.

“Eh tumben serius Liv,”

“Aku mau nanya, sebenarnya hubungan kita ini apa? Kenapa kamu selalu mengirimkan foto-foto kamu disela kegiatan kamu? Kenapa kamu selalu cepat membalas chat aku? Kenapa kamu tiba-tiba mengirim voice note? Padahal aku sama sekali tidak menyuruh kamu untuk melakukannya? Kenapa ada beberapa chat dari kamu yang terkesan memberi kode untuk melanjutkan hubungan yang lebih dari sekedar teman?”

Jantungku semakin berdegup kencang ketika pesan ini sudah terkirim ke Diko. Dan Diko langsung membaca pesan yang sudah ku kirimkan. Cukup lama dia membaca chatku. Selang beberapa menit, akhirnya Diko mulai mengetik pesan. Dan cukup lama aku menunggu Diko mengetik pesan, hingga akhirnya Diko membalas seperti ini.

“Sejujurnya aku sama sekali tidak bermaksud melanjutkan hubungan kita lebih dari teman Liv. Aku nyaman chat sama kamu. Aku sering chat sama kamu karena aku udah nganggap kamu seperti sahabatku sendiri Liv. Maaf kalau aku udah bikin kamu jadi berharap sama aku Liv. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk melanjutkan hubungan kita lebih dari ini. Bagaimana jika kita tetap seperti ini saja? Aku sudah terlanjur nyaman chat sama kamu karena kamu sudah ku anggap seperti sahabatku sendiri,”

“Oh begitu ya Ko,”

“Iya Liv, maaf ya gara-gara aku kamu jadi berharap lebih sama aku,”

“Enggak, enggak apa-apa kok Ko, aku Cuma mau memastikan aja kok tadi,”

“Iya Liv, tolong jangan menjauh ya, aku butuh teman chat seperti kamu Liv”

Sakit rasanya membaca chat yang dikirimkan Diko. Tapi disisi lain ada perasaan lega setelah aku menanyakannya pada Diko. Jadi aku tak menaruh harapan lagi padanya. Memang dari jauh-jauh hari Fadi sudah memperingatkanku untuk tidak jatuh hati pada Diko, karena aku dan Diko hanya sekedar akrab di dunia maya. Fadi takut aku terjebak dalam hubungan virtual.  Dan yang ditakutkan Fadi itu terjadi padaku saat ini. Maksudku tadi, sebelum Diko menolak perasaanku.

Dan ya, sekarang aku memutuskan untuk tetap mengagumi Bang Rindra, seniorku waktu SMK dulu. Aku sudah tidak lagi menaruh perasaanku pada Diko. Memang benar, lebih baik mencintai dalam diam, daripada menunjukkan rasa kagum kita pada orang yang kita kagumi. Menghindari sakit hati, dan mempertahankan hubungan pertemanan.

Sekarang Diko sudah tidak secepat dulu lagi membalas pesanku. Padahal dia sendiri yang mengatakan untuk tidak menjauh. Mungkin Diko sudah menemukan sosok baru yang lebih mengerti dia daripada aku. Menjadi pelajaran untukku. Bahwa jangan terlalu gampang menaruh perasaan pada seseorang yang hanya sekedar akrab di sosial media. Bisa dibilang aku salah satu korban hubungan virtual.

(Cawan WP: Fidiah Elfi)

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai

foto thumbnail
  • 02 September 2021
Teman Singgah
2012-11-04 12:50:09
  • 25 June 2021
Surat untuk Eca
foto thumbnail
  • 23 June 2021
Istikharah
2012-10-16 12:34:57
  • 23 June 2021
Ragu Semesta