Sunday, September 19, 2021

Ragu Semesta



Awal yang baik belum tentu berakhir baik, begitu pun sebaliknya. Setiap pertemuan silih berganti menanti waktu untuk berpisah. Tak ada yang sama persis, hanya beberapa kebetulan yang disebut takdir. Kenangan yang membekas, warna-warni kehidupan yang sangat nyata terlihat, tapi hanya ilusi. Bahkan setiap jam, setiap menit, setiap detik selalu timbul kejadian yang tak terduga. Hari yang dinanti bagai keajaiban, indah seolah-olah hal itu hilang dalam sekejap. Perlakuan yang membuat diri ini candu, mendekat tapi seolah jauh, beriringan tapi tak searah, selalu bersama hingga akhirnya semesta menciptakan cara untuk memisahkan. Cerita ini bahkan tak pernah menjadi awal. Cukup hatiku dan hatimu, serta doa-doa kita, yang selalu berdialog dengan Tuhan.

***

Ini sebuah kisah tentang diriku, dan seseorang yang bahkan aku sendiri bingung menempatkannya sebagai apa di hati ini. Perkenalkan nama ku Anggun Edelwis, cukup akrabnya dipanggil Anggun. Saat ini aku menempuh pendidikan di salah satu kampus negeri yang ada di Kota Bandung, cukup jauh dari kampung halaman ku di Aceh. Aku mengambil program studi Ilmu Komunikasi, kebetulan yang cukup memihak antara program studi dan hobiku yang bisa dibilang sejalan.

Sore ini aku berjalan menelusuri kampus dengan seorang teman dekat ku, dia adalah Rani. Gadis cantik asal Yogyakarta yang juga menjadi perantau sama sepertiku. Tak hanya satu jurusan, bahkan kami satu kossan. Rani sosok yang sangat ceria dan baik, aku selalu senang jika berada di dekat Rani.

“Eh Nggun liat disana kok ramai-ramai gitu?” tunjuk Rani mengarah kepada sebuah papan informasi yang terletak di auditorium kampus.

“Ga tahu, mungkin ga penting,” aku cuek seolah tak peduli dengan kerumunan orang yang berada disana.

“Ya udah, kamu tunggu disini, aku mau kesana ya,” belum sempat ku menjawab, Rani langsung berlari menerobos orang-orang yang berada dihadapannya. Tampak dari kejauhan wajah orang-orang kesal karena Rani yang menggeser badan mereka seolah-olah badannya cukup elastis dan dapat sampai di depan papan dengan mudahnya.

“Anggun, sini cepat kesini,” Rani berteriak dari depan papan informasi sambil melambai memberikan isyarat.

Dengan badan yang setengah malas, aku berjalan lambat menuju ke arah Rani.

“Apaan sih Ran, mending kita pulang soalnya cuaca ntar lagi mendung, kalau hujan gimana?” gerutu aku dengan nada sedikit pelan.

“Coba lihat itu, impian kamu selama ini Nggun. Ga mau coba ikut?”

Mataku langsung tertuju ke sebuah kertas yang ditempel tepat di papan. Disana tertulis akan dibukanya open requirement bagi calon anggota baru sebuah unit kegiatan mahasiswa penyiaran di kampus ku. Kali ini Rani benar-benar tahu apa yang aku kejar.

“Wah, terima kasih ya Ran, kamu tahu aja apa yang aku butuhkan,” aku masih penasaran dan teliti membaca persyaratan untuk menjadi calon anggota.

Siapa sangka dari hal kecil yang aku anggap cukup sepele ini, ternyata Tuhan merencanakan sesuatu yang tak pernah ku minta sebelumnya. Terdengar sedikit klise, tetapi hal singkat ini cukup mengajarkan aku beberapa arti tentang sebuah perasaan, perasaan yang tak pernah dimulai. Sejak saat itu, sekarang dan belum berujung ke akhir.

***

Sejak kali pertama, aku cukup bersemangat mengikuti setiap proses kaderisasi di organisasi penyiaran. Hingga tiba lah saat yang di nanti, setelah melaksanakan magang selama tiga bulan sebagai penyiar di salah satu radio ternama di Kota Bandung, akhirnya sekarang aku telah resmi menjadi announcer kampus.

Tentunya hal ini sangat ku sukai, seperti beberapa hal yang cocok jika digabungkan. Seperti itulah situasi yang menggambarkan perasaanku serta kecintaan terhadap hobi ku ini. Jika dibilang sesuatu yang melelahkan, pasti memang timbul perasaan seperti itu, tetapi aku selalu berusaha menjadikan lelah itu sebagai pemacu dalam setiap kegiatan ku. Dari sini aku juga mendapat relasi yang cukup banyak, baik secara internal maupun eksternal kampus.

***

Cuaca siang ini cukup cerah, aku duduk di sebuah kursi yang berada di depan sekretariatan sambil menghafalkan beberapa teks naskah yang nantinya akan kubacakan saat membawakan podcast tentang pergerakan mahasiswa. Tiba-tiba Putra datang menghampiriku, Dia ketua organisasi ini, usianya terpaut 2 tahun di atas ku.

“Nggun bisa bicara sebentar?” ucap Putra dengan raut wajah yang sedikit cemas.

“Boleh bang, ada apa ya?”

“Jadi gini Nggun, si Syifa dia kan sebelumnya dikirim sebagai delegasi dalam event suara mahasiswa, eh ternyata dia ga bisa datang. Abang bingung banget sekarang mau minta tolong sama siapa Nggun, karena kita juga kekurangan anggota, dan yang lainnya pada ada acara di tanggal segitu. Boleh ga semisal abang minta tolong ke Anggun?”

“Hmmmm gimana ya bg, soalnya Nggun juga ada kelas tambahan di hari tersebut. Tapi Nggun bakal usahain datang ya bang, semoga ga ada kendala,” aku sedikit ragu untuk menghadiri acara kali ini, ntah mengapa pikiran ku akhir-akhir ini sedikit kalut dan terkadang tak karuan. Ku coba memikirkan kembali dengan matang perkataan Putra.

***

Hari ini, aku menghadari event tersebut dengan tujuan mempererat silaturahmi bersama announcer lainnya. Aku duduk di kursi paling belakang sambil memperhatikan sekitar. Tiap orang silih berganti mendekatiku sambil berbincang-bincang atau sekedar menyapa saja.

Aku masih asyik memperhatikan seseorang yang saat ini tengah tampil di atas pentas. Perhatianku pudar sesaat salah satu cowok yang tidak ku ketahui identitasnya duduk dengan santai di sampingku.

“Hai, aku duduk disini ya,” tanpa aku persilahkan pun dia langsung duduk dan bicara santai kepada ku. Seolah-olah kami sudah mengenal cukup lama, sehingga tak tampak batasan yang terbentang diantara kami.

Aku masih terkejut ditambah sedikit ilfeel melihat tingkah cowok itu. Menyadari reaksiku yang cukup merasa tak nyaman, akhirnya dia memberanikan dirinya untuk mendekat dimulai dengan percakapan singkat yang menjadi awalan, awalan yang mungkin tak akan pernah ku lupakan.

“Aku Rava Andrean, siapa namamu?” tampak jelas ekspresinya yang penasaran dengan kehidupan pribadiku.

“Anggun,” jawabku singkat seolah ingin menuntaskan percakapan ini dan beralih menjauh dari Rava. Sebenarnya aku sedikit risih dengan orang-orang baru, sejak diriku menginjak bangku sekolah menengah aku jarang terlihat berhubungan dengan cowok dalam artian seperti pendekatan atau pun pacaran.

Rava mulai melontarkan beberapa pertanyaan yang umum ditanyakan kepada seseorang yang baru dikenal. Mulai dari umur, universitas, kampung halamanku serta beberapa hal terkait dengan organisasi yang sama-sama kami ikuti. Siapa sangka dialog sederhana yang kesannya mendadak ini membuatku merasa Rava sebagai pendengar yang baik, begitupun sebaliknya. Lahir pada tahun yang sama, membuatku leluasa berbicara dengan santai. Selain itu, ternyata jarak antara daerah asal ku dan dia juga berdekatan. Jika ditempuh dengan sepeda motor sekitar satu sampai dua jam perjalanan.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, hingga aku harus pamit pulang menuju kossan. Rava menawari untuk mengantar pulang, mengingat hari yang sudah larut. Awalnya aku menolak ajakan tersebut, dan berlalu menuju halte bus terdekat. Rava memperhatikan ku dari kejauhan dengan sepeda motornya. Kurang lebih sudah sekitar 30 menit aku menanti, Rava menghampiriku lagi dan menawarkan untuk terakhir kalinya.

“Nggun udah lama disini, ayo biar aku saja yang ngantar pulang. Ini kesempatan terakhir, kalau ga mau juga aku terpaksa pulang,” Rava bergumam mengajakku seperti memaksa agar aku naik ke motornya.

“Ya udah, ayo,” aku langsung melangkah duduk di motornya.

Malam itu terasa panjang, padahal perjalanan ini cukup singkat. Bagaimanapun aku mengelak, selalu saja ada jalan dari hati ini untuk tetap mendekat kepadanya. Semesta selalu begitu dan kita tak kan pernah tahu sampai akhirnya benar-benar merasakan kehilangan.

Sepeda Motor Rava melaju santai mengelilingi Kota Bandung, cuaca yang cukup dingin membuatku ingin segera sampai dan merebahkan badan di kasur tercinta. Jika diingat-ingat sudah lama sekali diri ku tidak berkelana selarut ini. Mata ku terpana melihat sorot lampu malam yang cukup indah, orang-orang bercengkrama seolah menyalurkan semua beban yang mereka lalui hari ini. Lantas, setiap kejadian seperti itu seperti pengulangan-pengulangan yang sama dalam beberapa episode yang berbeda. Lamunan ku buyar setelah  Rava bertanya arah kossan ku.

“Nggun, dimana? Masih jauh atau kita kelewatan ya, aku perhatikan keliatannya kamu ngelamun dari tadi sepanjang perjalanan” tebak Rava dengan suara dan nada khasnya. Seperti paham betul aku sedang memikirkan beberapa hal yang terus berputar di otak.

“Ih, tau aja ya kamu, dikit lagi sampai kok. Oiya Rava menurut kamu apa hal yang paling sering dipikirkan manusia di dunia?” aku mulai memancing pertanyaan seolah meminta Rava menyampaikan pandangannya terkait pertanyaanku itu.

“Apa ya, sebetulnya pertanyaan kamu ga perlu dijawab karena ya sepanjang perjalanan pun pasti kamu memperhatikan berbagai macam kejadian yang dilakukan oleh manusia. Bagi aku, selama manusia itu mampu menghadapi masalah tersebut dengan baik, berarti dia sanggup menerima ketetapan atau takdir Tuhan. Jadi setiap permasalahan di dunia ini begitu complicated. Dari sisi manapun dan cara pandang seperti apa kita mampu menyikapinya. Terdengar seperti omong kosong, tapi bagiku cara pandang terhadap dunia adalah dengan berusaha menerima, menjalankan dan tetap taat sesuai ketetapan Tuhan.”

“Wah, mantap banget sih pemikiran kamu. Aku bahkan masih saja memikirkan hal-hal dangkal tanpa berusaha menyikapinya dengan luar biasa seperti penyampaian kamu,” Percakapan Rava dan aku bermula dan terjadi seperti air mengalir. Setiap berbincang dengannya aku seperti menemukan teman cerita yang sefrekuensi. Hal ini ku rasa menjadi pemicu kenapa kami cukup dekat dalam waktu yang singkat.

***

Dua bulan berlalu semenjak kejadian di event organisasi, cukup membuktikan bahwa aku dan Rava menjadi dekat dan semakin dekat. Bahkan diantara pertemanan ini timbul benih-benih cinta. Aku tahu seharusnya kami hanya tetap dekat seperti ini dan semuanya akan baik-baik saja. Ternyata kesalahpahaman ini menimbulkan jarak di antara kami berdua.

Rava datang dan ingin menemuiku pada sebuah acara organisasi di kampus ku, aku pun tak pernah merasakan hal yang berbeda dari Rava sejak awal hingga kini. Tetapi, kurasa waktu mendadak berhenti. Semua hal yang selama ini Rava pendam, dia utarakan kepadaku dengan sangat jelas dan sungguh-sungguh.

Selama ini, aku selalu bercerita banyak hal kepada Rava. Mulai dari urusan pribadiku, seperti kehidupanku, keluarga, teman, serta percintaan. Rava pun paham betul aku cukup menjaga jarak dengan cowok yang ingin dekat dalam artian lebih dari sekedar teman. Kurasa beban perkataanku itulah yang membuat langkah Rava menjadi maju mundur mengutarakan perasaannya.

Rava sudah siap menerima berbagai rangkaian kata yang keluar dari mulutku. Aku pun sudah menganggap Rava lebih dari sekedar teman, dan anehnya perilaku inilah yang membuat Rava tertarik dan jatuh hati kepada ku. Bisa dibilang kami 24/7 selalu bersama, walaupun berbeda kampus, disela kesibukannya pasti Rava selalu menemuiku, tak jarang kami berbincang dan duduk sebentar di alun-alun kota.

Setelah acara organisasiku selesai. Rava mulai melirik seolah mencari seseorang, dan tentu saja tepat mata ku dan mata nya bertatapan selama dua detik.

“Nggun,” Rava berlari menghampiriku yang masih saja terdiam seperti patung di tengah-tengah kerumunan orang.

Rava menarik lembut tanganku, menunjukkan isyarat sepertinya kita harus kabur dari situasi ini. Betul saja, sesampainya di luar ruangan, Rava mengajakku untuk berjalan ke sebuah taman di kampusku. Taman ini memiliki bunga yang cukup indah dan suasananya yang sejuk menambah keinginan untuk tetap tinggal dan beristirahat sejenak.

“Ngun, aku tahu kamu ga suka hal yang bertele-tele, jadi aku akan langsung ke intinya saja. Aku jatuh cinta sama kamu Anggun, sejak awal sampai sekarang aku seolah menemukan apa yang aku cari di diri kamu, aku bahkan tahu ini terlalu cepat. Tapi aku tak mampu lagi membendung perasaan ini terlalu lama,” Rava meyakinkan ku dengan kalimat yang terlontar barusan, mata Rava seolah menunggu jawaban dari diri ku yang kini diam membatu.

“Rava, aku pun juga merasakan perasaan yang nyaman, terutama saat berada di dekatmu. Namun, untuk saat sekarang ini aku belum bisa melangkah ke hubungan yang lebih serius. Bukan karena alasan ini aku seperti menolak kehadiranmu, aku hanya sedang tidak ingin berpacaran dengan siapapun. Ku harap kamu mau mengerti dan menerima apapun jawaban yang aku berikan saat ini,” sebenarnya aku masih belum mampu membuka hati teruntuk cowok yang mendekatiku. Aku hanya ingin berhubungan baik dengan orang lain, tanpa melibatkan perasaan yang berlebihan.

“Gapapa Nggun, aku sudah lega karena bisa dekat dan mengutarakan hal ini kepadamu. Kita jalani saja seperti hal nya sekarang, bahkan kedepannya kita tidak pernah mengetahui isi hati masing-masing. Tuhan maha membolak-balikkan hati manusia,” jawab Rava seolah mengisyaratkan dirinya baik-baik saja dan tidak ingin aku memikirkan dirinya karena kejadian ini. Hari ini berlalu dengan cepat, aku hanya bisa menunggu untuk setiap ketidakpastian yang nanti menghampiriku.

***

Dua bulan setelah kejadian itu, hubungan aku dan Rava sedikit berjarak. Sepertinya Rava hanya ingin membiasakan diri agar tidak terikat dengan ku. Aku bahkan hampir kehilangan sosok Rava di dalam hidupku. Kami sibuk menyibukkan diri dengan urusan masing-masing, untuk sekedar menanyakan kabar pun tak pernah terucap dalam rentang waktu yang cukup lama.

Aku tidak mengerti banyak hal, kenapa situasi seperti ini selalu terjadi? mungkin memang betul kata-kata yang sering terdengar seorang cowok tidak akan bisa berteman baik dengan seorang cewek tanpa melibatkan perasaan. Kasus ini cukup relate dengan kisah percintaanku. Pernah suatu kali, aku juga memiliki sahabat cowok yang jujur terhadap perasaannya, dan aku menolak dengan alasan aku dan dia bersahabat atau bisa dibilang kita terjebak friend zone. Tak lama, cowok itu menjauhiku, bahkan aku sampai saat ini tidak mengerti mengapa kejadian seperti ini terjadi.

Jujur, aku merasa kehilangan. Bayangkan saja jika ada yang mendekatimu, lalu tiba-tiba dia menjauh atau sekedar memberikan isyarat untuk menjaga jarak walau secara tersirat. Apa yang akan kamu lakukan? Menghubunginya? Kurasa itu hal yang tak perlu. Toh jika dia memang benar ingin dekat denganmu, sesibuk apapun tak ada alasan baginya untuk mengabaikanmu. Tetapi jika situasinya berbeda, ku rasa dia saat ini tidak menginginkanmu lagi.

Banyak sekali hal yang membuat seseorang ragu untuk mengutaran atau menerima cinta. Setiap orang memiliki trauma terhadap perasaan jatuh cinta, apabila sudah merasakan kecewa, sangat sulit untuk menerima kembali cinta yang baru. Pada akhirnya aku sampai pada kesimpulan, diri ku dan diri nya bahkan tak pernah menjadi awalan, hanya imajinasi ku saja yang beranggapan kami dekat. Faktanya, aku merasa kembali asing dengan Rava, seperti tidak ada hal yang pernah menjadi bagian dari kita. Ku meminta kepada Tuhan untuk melepaskan segala rasa itu, kenapa begitu sulit untukku dan terlihat mudah baginya?

Egois memang, disaat yang bersamaan aku merasa kehilangan sebab perasaan itu muncul. Tak lagi ada harapan untuk ku bisa sedikit memperbaiki, bahkan aku tidak tahu harus memulai dari mana lagi. Kita seperti enggan bertemu dan hanya coba mencari cara untuk larikan diri dengan melupakan secara perlahan. Kini kita tak lagi beriringan, aku hanya tertinggal oleh bayang-bayangmu yang semu. Semesta tak lagi merestui, tapi aku masih akan tetap mengingat kenangan singkat itu, tak peduli bagaimana perasaanmu untukku saat ini, kuharap kau baik-baik saja dan tetap bahagia. Aku yakin suatu saat akan ada titik temu untuk kita berjumpa, atau kembali menjadi seperti dua orang asing lagi.

Dita WP

WawasanProklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai

foto thumbnail
  • 02 September 2021
Teman Singgah
2012-11-04 12:50:09
  • 25 June 2021
Surat untuk Eca
foto thumbnail
  • 23 June 2021
Istikharah