Thursday, July 29, 2021

Kepergian yang Tak di Inginkan



Sudah dua tahun kepergiannya, sahabatku Kinanti. Wanita yang telah menjadi temanku sedari kecil, hingga aku tumbuh di usiaku yang ke 17 tahun. Dia selalu bersamaku, mewarnai hari-hariku setiap saat, waktu bersamanya aku habiskan untuk bersenda gurau dan bermain dengan suka ria. Namun tepat di hari ulang tahunku itulah dia kecelakaan mobil di depan rumahku, dia berlari dan melambaikan tangannya ke arahku namun ada mobil kencang menuju ke arahnya lalu menabraknya, hingga dia tidak bisa di selamatkan dengan bantuan medis.

Aku merasa sangat sedih kala itu, dia membawa kado boneka couple yang dia belikan untukku yang dia beli menggunakan uang celengannya dan berharap aku suka serta merawat kado itu sama seperti dia merawatnya. Tetapi entah kenapa, malah kado itu yang mengingatkanku pada kejadian tragis kepergiannya kala itu. Kepergian yang mengejutkan aku, membuatku syok dan terasa sangat kehilangan. Andai hari itu Tuhan mengabulkan permintaanku untuk tidak mengambilnya dariku. Aku pasti sangat bahagia akan hal itu.

Di setiap ulang tahunku aku selalu mengingat kejadian menyedihkan itu, dan selalu menyadarkan diri bahwa Kinanti sudah tidak ada lagi. Sekarang tepat di hari ulang tahunku, pada usia yang sudah menginjak ke 19 tahun. Aku selalu teringat akan kenanganku bersama Kinanti. Mengenang semua hal yang pernah kami lakukan bersama, dimulai dari bercerita dan banyak hal konyol yang selalu Kinanti lakukan hanya untuk membuatku tertawa. Memang dulu Kinanti adalah wanita yang ceria dan sangat mengasyikkan. Tetapi apakah aku pernah membuatnya sebahagia dia membuatku bahagia? Pertanyaan kikuk yang selalu hadir di pikiranku. Namun hingga saat ini aku tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu.

Tok… Tok… Tok…

Aku mendengar bunyi pintu namun aku masih ragu untuk keluar kamar. Tidak sengaja aku mendengar suara Ibu Kinanti yang singgah sebentar ke rumah, hanya saja aku tidak berniat keluar karena merasa bersalah dan menyangkal akulah penyebab kecelakaan Kinanti. Setiap hari aku merasa sedih dan kesepian, selalu murung di pojok kamar, padahal sudah dua tahun Kinanti meninggal. Dimulai dari hari itu aku memilih untuk tidak dekat dengan siapapun hingga saat ini. Aku takut bahwa aku lah pembawa malapetaka bagi orang terdekatku.

“Nindy,” Panggil Bundaku dari ruang tamu.

“Ya bund, ada apa?” jawabku cemas, sambil menghampirinya.

“Ini ada diari Kinanti, dari Ibunya,” sahut Bundaku.

“Kenapa dengan diari ini bund?” jawabku terheran.

“Baca saja ya,” jawab Bunda menenangkan.

Aku pun melihat dan mengambil diari itu lalu berlari. Aku takut bundaku melihat tetes air mata yang tidak sengaja terjatuh ke pipiku.

Aku benar-benar terheran melihat diari itu. Penuh dengan namaku dan Kinanti. Apakah sebegitu sayangnya dia padaku? Aku sangat khidmat membaca satu persatu kata yang dituliskannya pada diari itu. Menghayati setiap kalimat yang ada dan meresapinya. Aku tertegun, semua isi diari itu hanya tentangku. Terjatuh air mataku membanjiri pipi, batin terasa perih dan aku terasa ingin meneriaki diri sendiri. Rasanya aku telah tega menyalahkan diri ini, bahkan di tengah halaman diari itu ada kalimat yang menyentuh relung hatiku, “Walaupun nanti jika aku mati, aku tidak akan pergi, aku akan selalu ada di sisimu, aku akan selalu berusaha untuk memelukmu”.

Rasanya semua ini seperti diluar batas sadar ku, aku tidak rela jika Kinanti melihatku terus bersedih begini dan terus menyalahkan diri sendiri akan kepergiannya. Aku harus memenuhi pikiranku dengan kalimat “Itu bukan salahku, hanya takdirlah yang bisa menentukan kapan dia akan meninggal, bukan aku yang mau dan juga bukan aku yang menetapkannya”. Aku tahu pasti Kinanti menginginkan aku bahagia seperti dulu saat bersama dengannya, aku yakin sekarang dia ingin melihat senyumanku.

Aku tertidur pulas hingga memimpikan Kinanti. Entah itu hanya sebuah bunga tidur atau memang itulah pesan yang ingin disampaikan Kinanti padaku. Kami pun berbincang di dalam mimpi itu.

“Nindy, aku disini,” panggilnya.

“Kinanti!” seruku sambil berlari dan memeluknya.

“Nin, aku ngga pergi kok, aku selalu ada di dekatmu,” sahutnya.

“Nan, aku sayang banget sama kamu, maafin aku ya,” ujarku.

“Apaan sih kamu Nin, aku tuh juga sayang kamu, jaga diri ya,” ucapnya.

Aku terjaga dari tidurku, mimpi itu terasa benar adanya. Mimpi itu seakan nyata. Aku yakin itu pasti benar-benar Kinanti. Aku yakin Kinanti selalu ada bersamaku.

Semenjak saat itu aku pun kembali seperti aku yang dulu, aku yakin Kinanti pasti akan bahagia melihatku bahagia. Aku membuka relasi pertemanan baru untuk menyibukkan diri agar aku tidak terbaluti kesedihan di masa lalu lagi. Benar saja Kinanti, kamu mengajarkanku akan banyak hal di setiap keadaan di dalam hidupku. Walaupun kini kamu tidak ada, tapi aku yakin kamu memperhatikanku. Aku akan selalu menyayangimu Kinanti. Tunggu aku.

(Cawan WP : Siti Fatimah Azzahrah)

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai

2012-11-04 12:50:09
  • 25 June 2021
Surat untuk Eca
foto thumbnail
  • 23 June 2021
Istikharah
2012-10-16 12:34:57
  • 23 June 2021
Ragu Semesta