Thursday, July 29, 2021

Datang Untuk Kembali



Seberkas cahaya mentari merangkak naik menerangi bumi. Dihiasi oleh langit biru yang luas membentang menghias cakrawala. Di bawahnya riak ombak menari-nari kecil lalu menghempaskan diri di tepian pantai. Sungguh pemandangan yang sangat indah.

Pikiran ku mengudara ke masa lalu. Terpikirkan kembali kenangan yang memang sudah sepantasnya harus selalu ku ingat.

Ini semua tentangnya. Tentang dia yang berhasil mencuri perhatian ku. Tentang dia yang membuat ku jatuh se jatuhnya. Namun, kini keberadaannya entah di mana. Tak lagi pernah ku dengar kabar tentangnya sejak lima tahun yang lalu.

Semua ini bermula sejak aku pertama kali menjadi mahasiswa di salah satu Universitas Negeri di kota Surabaya. Tempat pertama kali aku bertemu dengannya. Senior ku yang berada 1 tingkat di atasku. Saat itu esoknya sangat menyilaukan. Bahkan aku merasa tidak pantas untuk bicara dengannya.

Sepertinya pada saat itu aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun aku sadar, seseorang seperti ku sangat tidak pantas berada di sampingnya. Aku hanya berani memandangi nya dari kejauhan sambil sesekali berharap aku akan terlihat oleh matanya. Tentu saja hal itu sangat mustahil. Ada begitu banyak cewek cantik, pintar, dan berkelas yang berada di sekelilingnya. Mana mungkin dia akan melirik ke arah ku.

Setidaknya pemikiran itu selalu membuat ku merasa rendah diri. Tapi pada hari itu, entah angin apa yang berembus padanya. Untuk pertama kalinya, ia mengajak aku berbicara. Begitu banyak hal-hal kecil yang kami ceritakan. Hal yang tidak penting pun ikut masuk dalam percakapan kami. Aku sangat bahagia. Hal yang ku pikir mustahil terjadi padaku, ternyata tak begitu buruk adanya.

Semuanya berjalan lancar. Makin lama hubungan kami makin dekat. Tanpa ku sangka, ternyata dia juga memiliki perasaan yang sama. Aku senang. Teramat senang. Tapi tak ada hubungan yang jelas antara kami. Tak masalah bagi ku, dekat dengannya seperti ini saja sudah sangat membahagiakan. Sangat ku nikmati bagaimana angin musim semi ini berembus ke arah ku.

Walau hubungan ku dengannya tidak ada status, aku merasa telah menjalin hubungan khusus dengannya. Entah dia juga merasakan atau tidak, yang terpenting aku telah menyimpan namanya di salah satu ruang hatiku.

Namun entah mengapa, saat aku memasuki semester 4 aku merasakan perubahan yang sangat kentara darinya. Dia menghindari ku. Betul-betul menghindari ku. Saat berpapasan dengannya, ia langsung memutar arah.

Aku bingung. Aku tidak merasa telah membuat kesalahan padanya. Berkali-kali ku coba menghubungi nya, tidak pernah sekali pun digubris. Berkali-kali aku mengajak nya berbicara, tak dihiraukan.

Hingga pada akhirnya, aku betul-betul kehilangan jejak nya. Sejak hari itu, dia hilang bagai ditelan bumi. Telah ku tanyakan kepada seluruh temannya, tidak ada satu pun yang mengetahui ke mana perginya.

Aku betul-betul merasa dipermainkan. Tapi di satu sisi aku pun tak bisa membunuh perasaan ini. Malah rasanya kian hari rasa ini makin tumbuh subur. Seolah-olah hatiku diciptakan hanya untuk menyimpan namanya. Pernah ku coba untuk membuka hati untuk yang lain, namun semuanya sia-sia. Aku masih dihantui bayang-bayang nya.

Bahkan hingga saat ini, walau lima tahun telah berlalu tapi rasa itu masih nyata adanya. Ku akui kini aku sangat merindukan nya. Setidaknya jika dia memang tidak ditakdirkan untukku, aku ingin bertemu dengannya untuk yang terakhir kalinya. Entah lah, aku tak ingin berharap banyak untuk saat ini. Entah dia masih ada di dunia ini atau tidak.

Aku berdiri dari duduk ku, berniat untuk pulang meninggalkan pantai ini yang hanya membawa ku pada kenangan lama yang menggores luka. Lucunya, aku seolah menikmati luka kenangan ini. Di mana hanya ada kisah ku dan kisahnya di dalamnya.

Aku berbalik badan dan aku melihatnya ada di sana. Jantung ku berdegup kencang. Aku tak percaya ini. Apa ini hanya delusi ku yang begitu mendamba kehadirannya di sini?

Ia mendekat. Wajah tampan nya dihiasi oleh senyuman manis yang mencetak lesung pipi di kedua pipi nya. Ia memeluk ku. Oh Tuhan, ini bukan delusi, ia benar-benar nyata. Dia ada di sini!

“Aku kembali, Sora.”

Setelah sekian lama, aku kembali mendengar suaranya menyebut namaku. Aku benar-benar rindu dengan semua hal tentangnya.

Masa bodoh orang-orang akan menyebut ku bodoh atau semacamnya, tapi saat ini aku sangat merindukan nya. Aku membalas memeluk tubuh tegap nya. Menyalurkan semua rasa rindu ku padanya selama lima tahun ini.

“Aku rindu, Fatih.”

Fatih mengucapkan beribu-ribu maaf pada ku. Aku memintanya menjelaskan ke mana ia menghilang. Fatih mengatakan ia diminta oleh ayah nya mengurus nenek nya yang sedang sakit di Amerika sekaligus belajar bisnis yang telah dirintis ayah nya semenjak dulu. Aku bahkan tidak tahu bahwa Fatih berasal dari golongan atas. Lagi-lagi ada saja hal yang membuat ku merasa tidak pantas berada di sisinya.

“Ra, aku nggak ada niatan untuk ninggalin kamu, aku berani buktiin, Ra. Maafin aku, Ra, please.

Aku memaafkan Fatih. Aku percaya pada nya. Ditambah ia mempertemukan ku dengan keluarga besarnya. Di sana semua orang menceritakan betapa tertekan nya Fatih berada jauh dari ku. Sedikit memalukan, tapi memang itu yang diceritakan ibu Fatih padaku.

Aku bahagia. Keluarga Fatih menerima ku apa adanya tanpa memandang latar belakangku. Pada akhirnya, aku dan Fatih melangkah ke jenjang yang lebih serius. Aku tahu, ini hanyalah permulaan kisah sebenarnya. Masih banyak lika-liku kehidupan yang akan aku lewati bersamanya. Tapi aku yakin, apa pun itu kami pasti bisa melewatinya bersama-sama.

Inilah happy ending yang selalu ku harapkan. Terima kasih telah kembali, Fatih.

(Cawan WP: Jelita Maharani)

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat)

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai

2012-11-04 12:50:09
  • 25 June 2021
Surat untuk Eca
foto thumbnail
  • 23 June 2021
Istikharah
2012-10-16 12:34:57
  • 23 June 2021
Ragu Semesta