Thursday, July 29, 2021

Angan Belaka



Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Setiap perpisahan belum tentu menyisakan  sebuah perpisahan yang tidak berarti setelahnya. Begitulah aku dengan kenanganku. Akulah pemberi traumanya, mungkin itu termasuk kenangan pahit didalam hidupnya. Namaku Laura, Aku adalah siswi terbaik di sekolahku. Lelaki mana yang tidak mengagumiku? Hanya saja aku selalu berpura-pura untuk terlihat judes di depan semua lelaki yang ingin mendekatiku. Mungkin itu bisa aku katakan trik jitu agar lelaki-lelaki itu tidak seenaknya mendekatiku.

Pertemuanku di mulai pada awal semester baru dengan sosok kakak kelas yang merupakan siswa pindahan dari sekolah diluar Provinsi. Namanya Diki, dia lelaki yang ceria dan pintar namun terlihat biasa-biasa saja. Teman-teman dikelasku selalu menertawakannya, hanya karena dia tidak mempunyai badan yang proporsional. Dia memang terlihat pendek dan gemuk tetapi dia dan teman-temannya tidak pernah mempermasalahkan hal itu.

Setiap hari aku lewat di depan kelasnya untuk menuju ke kelasku. Dia selalu terlihat duduk di meja guru dengan kesibukannya yang terkadang menulis dan mengerjakan tugas lainnya. Tak jarang dia sesekali melihat ke arah luar kelas, entah itu sengaja melihatku atau hanya sekedar menatap tak sengaja saja. Terkadang aku bertanya pada diriku, apa salahnya dia dengan semua kekurangannya? Bahkan dia terlihat bisa menutupi kekurangan itu.

Menjelang tengah semester, aku di sapa oleh teman dekatnya, Niko. Yang tidak lain ingin menjahiliku dan memperkenalkanku dengan dia.

“Laura” sapanya

“Iya, ada apa kak?” jawabku ketus

“Kenal ngga?” bertanya sambil menunjuk ke arah Diki

“Ngapain harus kenal? Emangnya dia siapa sih?” jawabku lagi

“Itu lho, kakak kelas baru di kelas kami. Bukannya dia tinggal di dekat rumahmu ya?” tanyanya

“Oh, itu sih kurang tau ya kak. Permisi,” jawabku sambil berbalik badan.

***

Setahun berlalu, dia mulai mencari informasi mengenai aku. Bermodalkan kelihaian teman-temannya dia pun mendapatkan nomor handphone milikku. Aku pun terkagum dengan usahanya itu. Mengherankan memang, aku mulai tertarik dengannya. Hanya saja aku tidak semudah itu untuk didapatkan, maka dengan trik yang lain aku mulai mengacuhkan seakan aku tidak pernah mengenalnya.

Lewat tiga bulan setelah itu, ada acara panggung gembira dan aku di pilih menjadi peran pembawa carano yaitu cawan berisi kapur dan sirih sebagai bentuk penghormatan untuk para tamu yang hadir di dalam undangan acara. Anehnya dia juga ikut sebagai penari di belakangku. Tetapi aku menganggap hal itu hanya kebetulan saja. Hingga suatu hari dia menyapaku.

“Laura, sini kakak bawakan radionya,” berkata sambil menunjuk ke radio di tanganku.

“Tidak apa, Laura bisa kok,” jawabku ketus.

“Berikan saja, biar kakak yang membawanya,” ujarnya.

“Baiklah, ini ambil,” jawabku sambil meletakkan radio ke lantai lalu pergi.

Beberapa hari latihan, tibalah saat pertunjukan tarian tersebut. Tepuk tangan yang meriah dan khidmat dalam peragaan tarian sangat membuat aku puas dengan usaha selama berhari-hari berlatih. Setelah selesai menari semua penari ke belakang layar untuk istirahat dan minum. Tiba-tiba dia menghampiriku.

“Ini minum, masih dingin lho,” berkata sambil menyodorkan minuman.

“Ngga usah kak, Laura minum air putih aja,” jawabku ketus.

“Nih minum saja,” ujarnya sambil terengah.

Aku pun menerima minuman darinya, karena aku tahu sebelum itu dia berlari kencang untuk membelinya dan kembali lagi ke belakang layar hanya untuk memberikan aku sebotol teh dingin. Hari itu mungkin dapat dijadikan bukti sejarah kedekatanku dengannya.

***

Beberapa hari kemudian kami pun berpacaran. Dia menungguku setahun untuk mencari tahu semua tentangku, agar nanti dia tidak mengecewakanku, begitulah ucapan spontan dari mulutnya. Aku tertegun seakan tak percaya dengan ucapan itu, namun dari perlakuannya aku tahu bahwa dia benar-benar tulus padaku.

Kami berpacaran sampai dua tahun dua bulan. Orang tua dan keluarganya tahu dia denganku tetapi keluargaku sebaliknya. Aku bukan tipe anak yang terbuka dengan orang tuaku.

“Apakah kamu malu berpacaran denganku?” tanyanya

“Bukannya begitu, tetapi aku memang tidak terbuka saja dengan orang tuaku,” jawabku.

“Baiklah,” ujarnya lalu pergi meninggalkanku.

Dia selalu berusaha menjadi yang terbaik untukku. Bahkan dia rela memperbaiki tubuhnya agar lebih ideal hanya agar aku tidak malu berpacaran dengannya. Dan setelah itupun dia juga memperbaiki penampilannya menjadi lebih terlihat keren dari biasanya. Memang perubahan yang patut aku acungi jempol.

***

Di waktu kelulusanku di kelas 3 SMP dan dia sudah berada kelas 2 SMA. Itulah kali perpisahan yang berat untukku. Aku yang selalu dapat perhatian lebih darinya kini hanya bisa berkomunikasi lewat whatsapp saja, video call yang hanya berdurasi singkat karena dia sudah mengemban amanah menjadi ketua OSIS. Membuatku kehilangan sosok yang dulunya selalu ada untukku, karena jarangnya komunikasi aku pun lebih asik sendiri dan berkomunikasi dengan teman-temanku, hingga menceritakan tentang kesulitanku berkomunikasi dengannya.

Akupun meminta agar hubunganku dengannya tidak lagi terjalin sebab tidak tahan Long Distance Relationship tetapi dia tidak menginginkannya. Dan kami pun terus menjalin hubungan hingga akhirnya aku yang membuat kesalahan untuk menduakannya, berpacaran dengan orang lain sebagai pelampiasan akan ketidakhadirannya di dalam setiap waktuku lagi karena kesibukannya yang tidak bisa dibagi.

Kali kedua aku meminta putus dengannya. Langsung dia mengakatakan iya tanpa berkomentar apapun. Aku pun merasa sangat kehilangan dia, menangis serta merenungi kesalahanku sendiri untuk memutuskan hubungan dengannya. Memang tidak sebentar waktu dua tahun dua bulan, tapi tidak semudah itu aku bisa mendapatkan orang setulus dia.

Sesal selalu datangnya di akhir. Aku benar-benar hampa tanpanya, bahkan rasanya lebih memilih tidak berkomunikasi dibandingkan tidak berhubungan lagi dengannya. Sangat sulit waktu itu, tapi aku memang yang bersalah. Ini yang dinamakan karma bukan? Menghakimi orang yang tidak bersalah dengan mencari-cari kesalahan dan membuat hal yang tidak baik supaya dia tahu dan memperhatikan. Tetapi apa yang aku dapatkan? Hanya kehilangan tanpa ada sedikit pun murka dikeluarkan dari lisannya.

Memang terlihat dia tidak ingin menyakiti aku. Hanya kesalahanku mengecewakan dia, tidak mengerti dan sedikit lebih sabar. Disaat habis rasanya otakku berpikir, aku meminta dia kembali. Sangat bodoh bukan? Orang yang aku sakiti sedalam-dalamnya, yang belum terobati, bahkan belum bisa lupa sakitnya malah aku harapkan untuk kembali lagi. Seakan membuka peluang untuk aku sakiti lagi.

Pikirku memang bisa bersamanya lagi. Hingga kini aku dan dia tidak mempunyai kekasih hati. Aku sebagai manusia egois ini selalu berharap bahwa takdir memberi peluang yang baik untukku, hanya ingin dipersatukan kembali dengannya. Dia kini hanya memperhatikanku dari kejauhan dan menyibukkan diri dengan skripsinya. Dan aku seakan sama, menyibukkan diri dengan tugas kuliah yang menumpuk.

Apa kisah ini hanya cukup dijadikan masa lalu saja? Semoga Tuhan memberikan jalan terindahnya. Aku hanya ingin bersama dia, di setiap doa selalu aku panjatkan. Semoga Tuhan membalikkan hatinya untuk kembali padaku. Walaupun mungkin itu semua hanya angan yang berputar-putar di dalam otakku.

(Cawan WP : Siti Fatimah Azzahrah)

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai

2012-11-04 12:50:09
  • 25 June 2021
Surat untuk Eca
foto thumbnail
  • 23 June 2021
Istikharah
2012-10-16 12:34:57
  • 23 June 2021
Ragu Semesta