Thursday, July 29, 2021

Tempat Terakhir



Aku menikahinya, wanita yang mengukirkan kebahagiaan di dalam hidupku. Puri, wanita teranggun yang pernah aku temui. Wanita yang berbeda dengan wanita lain, aku seperti menemukan malaikat pada dirinya. Pertama kali melihatnya aku sangat tertarik padanya. Tatapan yang seakan malu untuk menatapku dan senyum indah yang selalu di pancarkannya dalam setiap keadaannya. Siapa lelaki yang tidak tertarik dengan sosok sehangat dia? Apa dia dilahirkan untuk memberikan kehangatan kepada siapapun? Itulah awal pikirku tentangnya.

Sore dua tahun lalu, aku bertemu dengannya di sebuah pameran. Disana ada 2 macam pameran yaitu pameran foto dan lukisan. Tentu saja aku termasuk orang dalam pameran tersebut begitupun juga dia. Tepatnya dia adalah pelukis handal di pameran tersebut sedangkan aku hanya seorang fotografer biasa yang mencari untung memamerkan jepretan foto terbaikku yang sudah lama aku kumpulkan hanya untuk mengikuti acara pameran tersebut.

“Hai” sapanya.

“H-a-i” jawabku terbata.

“Kenapa begitu menatapku,” tanyanya.

“Aku hanya terkesima dengan lukisanmu,” jawabku gugup.

“Wah, fotomu bagus juga ya,” ujarnya tersenyum.

 “Terimakasih,” jawabku sambil tersenyum.

Lalu dia menghilang dari pandanganku dengan senyumannya dan kembali di posisi tempat pameran lukisan itu.

Bagaimana aku tidak jatuh cinta dengannya? Wanita yang selalu memikirkan lingkungan social hingga di setiap pameran.  Dia mendonasikan hasil pemerannya untuk bantuan sosial anak yatim piatu di tempat dia dulu di telantarkan oleh orang tuanya, yang katanya hanya itu yang dapat dia berikan untuk panti asuhan yang membesarkannya hingga menjadi seperti itu. Entah selembut apa hatinya, selalu berpandangan positif dengan apa yang dilakukannya. Tidak ada dendam sedikitpun kepada orang tua yang telah menelantarkannya di panti asuhan itu, tetapi dia malah bersyukur. Bagaimana jika dia tidak ditelantarkan? Apakah dia bisa seperti sekarang? Itu selalu ada didalam pikirannya.  Siapa yang Tidak suka dengan wanita seperti itu? Sungguh sangat berbeda, aku sangat terkagum olehnya.

Aku bersyukur, Tuhan memberikan dia untukku. Puri si malaikat yang selalu aku dambakan. Memang aku hanya lelaki biasa yang tidak sesukses dia dan aku juga tidak seberani lelaki lain dalam mengutarakan perasaan kepadanya. Tetapi akulah lelaki serius yang dia anggap tidak main-main dalam setiap ucapan. Aku bukan mencintainya dengan kata-kata yang aku berikan untuknya. Tetapi suara hatiku yang tersampaikan padanya, entah bagaimana? Apakah itu yang dinamakan kuasa Tuhan?

Senja itu, di balkon kantor tempatnya bekerja. Aku sengaja mengunjunginya karena aku tahu persis kebiasaannya melukis disenja hari. Dengan membawakan bunga dan cincin untuk mengikatnya pada pernikahan yang aku inginkan bisa berbahagia dengannya hingga hari tua.

“Pur…Puri,” panggilku.

“Ya, ada apa? Tumben kesini ngga bilang ka?” ujarnya menjahiliku

“Aku mau ngomongin sesuatu sama kamu,” jawabku.

“Apa? Jangan-jangan masalah kerjaanmu ya? Mau kemana lagi nyari inspirasi Raka?” ujarnya sambil tertawa kecil.

“Ngga, bukan itu Puri. Aku beneran mau ngomong, kamu dengar dulu ya,” jawabku mulai grogi.

“Iya, tapi itu bunga buat di taruh di mejaku ya?” ujarnya jahilnya lagi.

“Puri, jangan ngaco deh, diam dulu, sebentar aja,” jawabku sambil memegang tangannya.

Dia pun terdiam, dan menatap mataku tajam sebab ingin tahu apa yang akan aku sampaikan padanya.

“Puri, maukah kamu mau menikah denganku?” ujarku serius.

“Jangan bercanda deh Raka!” serunya.

“Beneran, mau ngga?” tanyaku sambil menyodorkan cincin.

Dia pun tersenyum dan memelukku, air mata dari tangisan bahagianya jatuh di pundakku. Aku tidak tahu bagaimana bisa dia menutupi rapat-rapat perasaannya padaku, padahal dia juga telah jatuh hati pada kali pertama bertemu. Sangatlah terasa dramatis kisah ini. Dia yang selalu menutupi perasaannya agar tidak terlihat berharap pada lelaki dambaannya. Padahal selama ini aku tidak merasa ada tanda-tanda dia juga mencintaiku sebelumnya.

Sangat bahagia rasanya, dicintai oleh wanita yang mencintaiku. Hingga hari pernikahan, tepat satu tahun setelah pertemuan yang tidak sengaja itu kami resmi mengikat janji untuk selalu bersama hingga maut memisahkan. Akulah lelaki beruntung itu, mendapatkannya merupakan hasrat terhebat yang pernah aku rasakan. Dengan itu aku selalu membuat semua momen di dalam hidupnya sebahagia mungkin dan lebih dari sebisaku. Bagaimanapun hal yang membuatnya bahagia akan aku lakukan untuknya. Sebegitu cintanya aku, sayangku pun begitu menyelimutinya, rasanya tidak ada yang bisa menghitung seberapa cinta dan sayangnya aku padanya.

***

Setelah tiga bulan pernikahanku dengannya, dia dinyatakan hamil dan kami pun sangat senang dengan kehadiran calon bayi dalam kandungannya. Tidak terhitung seberapa rasa berbahagianya jika aku menjadi orang tua serta menjadi suami dari wanita terbaik yang tentunya pilihanku. Tetapi takdir tidak berpihak kepadaku, Istriku kecelakaan sepulang bekerja. Istriku keguguran dan kehilangan ingatannya. Betapa sedihnya dan merasa kali ini Tuhan tidak adil padaku, memberikan kepedihan begitu dalam setelah kebahagiaan yang benar-benar membuatku merasa akan Bahagia selamanya dalam hidupku. Impian dan mimpiku mengenai hal-hal indah yang sebelumnya aku pikirkan kini hanya menjadi khayalan belaka. Hatiku langsung terasa remuk dan hancur. Istriku pun tidak mengenali dirinya sendiri, hanya mengingatku saja tanpa mengingat hal lainnya.

Aku selalu mengusahakan bagaimana istriku bisa pulih dan mengingat semuanya. Selalu aku sodorkan foto-foto kenangan dulu bersamanya. Hingga dari fotonya waktu itu saat dia  tidak mengenali dirinya  sendiri menjadi paham bahwa orang yang ada di foto itu adalah dia. Tak jauh berselang setelah itu dia pun sedikit demi sedikit mengingat semuanya.

Aku jatuh sakit dan perlu perawatan medis, penyakit leukemia ku sudah mencapai akut. Disitulah orang tuaku mulai merawatnya setiap hari.  Memang sedari dulu tidak ada yang tahu penyakitku ini, hanya akulah yang berusaha menutupinya dari siapapun. Aku selalu berusaha untuk sembuh demi istriku, aku tidak tega meninggalkannya.

Tepat dua bulan aku di rumah sakit, akupun tidak bisa menahan rohku untuk terus berada di ragaku. Aku berpulang ke pangkuan Tuhan. Harapanku dia bisa bahagia tanpa aku dan tetap tersenyum disepanjang harinya, jika nanti aku diizinkan oleh Tuhan menemuinya, Aku melihat senyuman itu dan merasa tenang dan ikut bahagia di dalam diriku.

***

Dua tahun berlalu, Puri pun sembuh dari sakitnya. Setiap hari dia melihat foto kebersamaannya dengan Raka, memori yang terlalu indah untuk hanya sekedar dilupa. Raka, suami yang sangat mencintainya. Dia sangat merasakan bahwa dulunya tiada hari di setiap detik dalam hidup suaminya untuk tidak mencintainya. Dia bersyukur Tuhan berikan dan menakdirkan Raka untuknya. Mempertemukan dia dan memberikan dia waktu untuk bersamanya. Dia pun tidak menyalahkan takdir itu, karena dia merasa bahwa bersama dengan Raka adalah anugerah di dalam hidupnya. Hingga tutup usia pun dia tidak akan melupakan suaminya itu. Harapnya pada Tuhan, Persatukanlah kembali di surge nanti.

(Cawan WP: Siti Fatimah Azzahrah)

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai

2012-11-04 12:50:09
  • 25 June 2021
Surat untuk Eca
foto thumbnail
  • 23 June 2021
Istikharah
2012-10-16 12:34:57
  • 23 June 2021
Ragu Semesta