Tuesday, June 22, 2021

Zaana



Langit terlihat gelap berkelabu disertai dengan angin yang berembus sedikit kencang. Rintik hujan perlahan turun membasahi bumi. Tampaknya udara di luar sangat dingin. Untung saja saat ini aku tengah berada di ruangan hangat yang berpadu dengan aroma buku. Yap, saat ini aku sedang berada di perpustakaan. Berniat menghabiskan waktu weekend sore ku dengan setumpuk tugas yang belum sempat ku kerjakan. Perpaduan aroma buku ditambah suasana hujan merupakan suasana yang sangat nyaman.

Aku sudah berada di sini sejak dua jam yang lalu. Selama ini juga aku sedikit mencuri pandang kepada sosok gadis yang duduk di dekat jendela. Tampaknya ia juga sedang mengerjakan tugas di laptopnya. Terlihat sesekali ia menghela napas dan kembali menatap laptopnya.  Tampak lucu saat ia menggerutu entah kepada siapa.

Aku mengenalinya. Ah sebetulnya aku hanya mengetahui namanya. Zaana Adhira. Adik tingkat ku di kampus. Dari pertama kali melihatnya, ia cukup menarik perhatianku. Entah lah, aku tidak bisa memastikan perasaanku yang kini terasa samar.

Aku mengemasi barang-barangku dan mencoba mendekatinya. Dan betul saja, ia terlihat sedang mengetik di laptopnya dengan huruf-huruf  yang tidak ku ketahui. Sepertinya dia anak jurusan bahasa asing, lebih tepatnya mungkin Sastra Jepang.

“Hai,” aku duduk tepat di sebelahnya. Ia terlonjak kaget dengan raut wajah yang lucu.

“Eh, hai?” Zaana menatap ku dengan raut wajah kebingungan dan alisnya yang menyatu.

“Ah aku ganggu, ya?”

“Iya,” singkat dan padat. Tampaknya memang seperti itu.

“Maaf, aku permisi, ya?” Aku bangun dan berniat untuk meninggalkannya. Ternyata memang bukan sekarang waktunya.

“Eh enggak, bang, aku cuma bercanda kok,” katanya saat aku baru berdiri dan menggeser sedikit kursi.

Aku kembali duduk dan memperkenalkan diri. Ternyata Zaana juga sudah mengetahui namaku sebelumnya. Sepele, tapi efek nya sangat besar untukku.

Saat ini Zaana sedang mengerjakan tugas merangkai cerita dalam bahasa Jepang. Sesuai dugaanku, ia mengambil program studi Sastra Jepang.

Zaana anak yang supel dan ceria. Aku pun merasa nyaman berbincang dengannya. Sepertinya dari awal aku memang telah jatuh hati padanya. Terperangkap dalam pesona Zaana yang menyejukkan hati dengan senyum manisnya.

Namun sayang, aku dan Zaana berbeda kepercayaan. Di kala tangannya mengadah berdo’a kepada Tuhan-nya, tanganku malah tergenggam erat. Sangat luas jarak yang terbentang antara aku dan Zaana.

Tapi seolah buta dengan hal itu, kami malah kian dekat sejak pertemuan di perpustakaan. Kian hari kian erat. Makin akrabnya obrolan antara aku dan Zaana membuat ku berani menyatakan perasaanku terlebih dahulu kepada nya. Untungnya Zaana juga memiliki perasaan yang sama kepadaku.

Kini sudah berjalan tiga tahun hubungan ku terjalin dengan Zaana. Waktu yang cukup lama. Keluarga kami sudah cukup dekat. Bahkan sudah mengadakan beberapa kali pertemuan antar keluarga.

Keluarga Zaana mengetahui keyakinan yang ku anut, walaupun ibu Zaana terlihat sedikit terkejut saat melihat kalung salib yang melingkar di leher ku. Begitu juga dengan keluargaku. Bahkan ibuku tampak menyayangi Zaana seperti putri kandungnya sendiri. Memang sedari dulu ibu sangat menginginkan seorang putri. Karena satu alasan, ibu tidak dapat lagi mengandung dikarenakan rahim ibu diangkat sesaat sesudah melahirkanku, anak pertama dan satu-satunya.

Hari ini, ibuku meminta ku datang ke restoran yang selalu kami kunjungi bersama keluarga Zaana. Ibu bilang, ada pertemuan dengan keluarga Zaana. Tapi anehnya aku tidak pernah tahu dengan rencana ini. Saat ku tanya kepada Zaana pun, ia tidak mengetahuinya. Ia juga kebingungan saat ditelepon ayahnya, yang menyuruhnya untuk segera menyusul ke restoran biasa.

Aku datang bersamaan dengan Zaana yang ku jemput terlebih dahulu sebelum ke sini. Saat kami sampai, kedua pasang orang tua itu menatap kedatangan kami. Entah kenapa jantung berdegup kencang. Pikiran buruk mulai menguasai otakku. Dalam hati berdo’a semoga pikiran buruk yang terlintas di otak ku tidak menjadi kenyataan.

Kami duduk di bangku yang memang telah disediakan sebelumnya untukku dan Zaana. Tanpa basa-basi, ayahku dan ayah Zaana mulai menjelaskan titik permasalahan sehingga kami berkumpul tanpa direncanakan seperti saat ini.

Ternyata benar, pikiran burukku menjadi kenyataan. Aku dan Zaana tidak dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Harusnya dari awal aku tidak menyatakan perasaanku. Harusnya dari awal aku menyadari betapa luasnya jarang yang terbentang antara aku dan Zaana. Harusnya dari awal aku tidak jatuh hati pada Zaana.

Dadaku sangat sakit saat melihat Zaana yang kini tengah menangis di pelukan ibuku. Berulang kali ibu mengucapkan maaf dan berkata bahwa ibu menyayangi Zaana. Begitu juga dengan ayah Zaana yang saat ini tengah menepuk-nepuk bahuku seolah memberiku kekuatan untuk menghadapi masalah ini. Tapi apa yang bisa ku perbuat? Di saat salah satu dari kami harus mengalah dengan keyakinan yang telah dianut sedari kecil? Tak ada yang dapat ku perbuat saat ini.

Zaana berdiri dari duduknya dan berjalan keluar. Aku melihat kepada kedua pasang orang tua, meminta izin untuk mengejar Zaana. Mereka mengizinkan ku untuk mengejar Zaana.

Zaana berdiri di sebelah mobilku. Air matanya masih mengalir dari kedua mata indahnya. Aku langsung merengkuh nya dalam pelukanku.

“Ayo... kita lari..., Abyl.”

Untuk pertama kalinya sejak perkenalanku dengan Zaana, ia memanggilku dengan nama. Tanpa embel-embel “bang” atau panggilan biasanya.

Saat ini sepertinya Zaana sangat terpukul dengan kenyataan yang ia dapat. Aku membawanya pergi memutari kota hingga malam. Zaana tertidur karena lelah telah menangis seharian. Aku mengantarnya pulang. Di luar, ayah Zaana telah menunggu kepulangan kami berdua. Zaana sepertinya enggan meninggalkan mobilku. Aku pun sebenarnya sangat tidak rela Zaana turun dari mobilku. Tapi apa boleh buat? Seperti kata kedua orang tua kami, ini lah jalan terbaik untuk kami berdua.

Aku hanya bisa menatap punggung Zaana yang bergetar sambil berjalan memasuki rumahnya. Untuk kesekian kalinya, Zaana menangis dalam seharian ini. Ingin rasanya aku berlari dan membawanya pergi ke ujung dunia, hingga hanya ada kami di sana. Menikmati sisa waktu yang sementara untuk selamanya berdua. Tapi, tentu saja hal itu tak kuasa ku lakukan. Aku tau hal itu akan sama-sama menyakiti kami berdua.

Namun, satu hal yang pasti dan selalu ku yakini. Jika dia memang ditakdirkan untukku, sejauh apa pun ia terbang, jika aku ditakdirkan menjadi rumahnya, ia pasti akan pulang kepadaku. Begitu sebaliknya, jika ia tidak ditakdirkan untukku, seerat apa pun aku menggenggamnya, pasti akan ada celah sehingga ia terlepas dariku.

Begitulah kisah ku dan Zaana berakhir. Kini kami melangkah masing-masing di jalan yang telah dituliskan Tuhan.

Berbahagialah, Zaana.

Pesan terakhir ku yang telah ku kirim kepada Zaana semenjak 2 tahun yang lalu, hingga kini tak kunjung berbalas. Bahkan kini, tak lagi ku mendengar kabar tentangnya. Yang ku tahu saat ini, semenjak kejadian itu, Zaana melanjutkan studinya di negeri Sakura. Seperti impian nya semenjak dulu. Bahkan sejak saat itu, sosial medianya juga tak aktif lagi. Aku benar-benar telah kehilangan Zaana sepenuhnya.

Di mana pun Zaana berada, semoga Tuhan selalu menyertaimu.

(Cawan WP : Jelita Maharani)

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai

foto thumbnail
  • 15 June 2021
Angan Belaka
2012-10-23 11:03:30
  • 15 June 2021
Tempat Terakhir