Tuesday, June 22, 2021

Tempat Pulang



Perkenalkan namaku Asyifa Firjatul. Aku gadis kelahiran Padang. Aku sangat suka bercerita dan juga tertawa. Karena itu sangat menyenangkan. Saat ini aku tengah menempuh studi Ilmu Komputer di salah satu Universitas Swasta yang ada di kota ku. Walaupun swasta, aku tidak merasa minder jika berkumpul dengan teman-temanku yang berada di Universitas Negeri. Karena aku yakin, dimana pun menimba ilmu, jika bersungguh-sungguh pasti akan mendapat ilmu yang bermanfaat.

Aku baru saja menyelesaikan kelas terakhirku hari ini. Aku bergegas menuju parkiran, bermaksud untuk mengambil motor dan segera pulang menuju rumah.

Dari kampusku menuju rumah lumayan jauh. Perlu waktu sekitar 25 menit dari rumahku menuju kampus. Itupun kalau tidak macet.

Di jalan aku sudah terbayang dengan kasurku yang pasti saat ini telah menungguku dengan sabar. Aku sangat mengantuk sekarang. Aku mempercepat laju motorku.

Assalamu’alaikum.

Wa’alaikumussalam,” jawab seseorang dari ruang tamu. Itu ayahku. Sosok cinta pertamaku. Dulu, kini, dan nanti. Aku mencium punggung tangannya.

“Baru pulang, eh? Keluyuran dulu pasti, kan?”

Lagi. Selalu saja begini. Tidak pernah mempercayaiku. Selalu berpikiran buruk tentangku.

“Enggak pa, tadi kan baru abis kelas jam 3, Syifa langsung pulang kok.”

“Alah, emang belajar apa sih sampai selama ini? Paling otak-atik komputer aja, kan?”

Tidak ingin memperpanjang perdebatan, aku minta izin masuk ke kamarku. Jika dilanjutkan, apapun yang terjadi aku pasti akan disudutkan.

“Dasar nggak sopan. Mirip banget kamu sama mamamu.”

Aku sangat ingin menangis saat ini. Tapi tak mengapa sedikit banyak aku telah terbiasa dengan keadaan ini.

Waktu terus berjalan. Kini waktu menunjukkan pukul 20.13 WIB. Aku baru selesai sholat isya, berniat untuk menghafal dikarenakan besok ada kuis. Baru saja berjalan sekitar 10 menit aku mengerjakan contoh-contoh soal, tedengar suara ribut dari luar kamarku. Aku mencoba mengabaikannya dan tetap fokus pada kegiatanku.

Tok! Tok! Tok!

Aku terlonjak kaget. Seseorang menggedor pintu kamarku begitu keras dan tidak sabaran.

“Cepat buka pintunya, anak sialan!”

Makian itu berasal dari mamaku. Selalu saja begini. Jika papa dan mama bertengkar, pasti selalu aku sasaran empuknya. Entah apa salahku. Terkadang aku berpikir, apa aku adalah anak yang tidak pernah diharapkan kehadirannya? Aku tidak mendramatisir keadaan. Hanya saja, terkadang aku merasa sedikit dibedakan dari saudaraku yang lainnya. 

“Kenapa lama sekali buka pintunya?!” bentak mama saat aku sudah di hadapannya.

“Maaf ma, tadi Syifa lagi ngafal.”

“Lihat kelakuan papamu, mama sudah nggak tahan lagi sama sifat dan semua kelakuan papamu. Mama dan papa akan bercerai,” jelas mama kepadaku. Aku tidak kaget. Aku sudah biasa. Setiap bertengkar selalu keluar kata-kata “cerai’”, tapi tidak pernah terlaksana.

Kalian mungkin berpikiran aku adalah anak yang kurang ajar, tapi sangat melelahkan menjadi diriku. Di saat lelah tidak ada tempat untuk berpulang. Di saat rapuh tidak ada yang menguatkan. Seolah di bumi ini aku hanya berjalan seorang diri. Punya orang tua, tapi tidak merasa memilikinya.

“Lalu?” aku bertanya sangat santai. Seolah-olah kata cerai yang keluar dari mulut mama bukanlah hal yang mengganggu.

“Kamu malah nanya begitu? Kamu betul-betul nggak ada perhatian ya sama keluargamu. Kamu sama aja kayak papamu, selalu bodo amat dan nggak peduli.”

Kenapa? Kenapa hanya aku yang diperlakukan begini? Kenapa kakak perempuan dan adik laki-laki ku selalu dirajakan. Aku sedikit iri dengan kehidupan mereka. Mereka selalu diperhatikan, disanjung, dipuja dan didamba. Bahkan untuk hal yang sangat sepele.

Kenapa aku merasa aku selalu ditekan? Terkadang aku berpikir, kenapa aku harus terlahir di dunia ini? Apa hanya untuk merasakan semua penderitaan ini?

Bukan hanya sekali ini aku selalu jadi sasaran empuk mereka saat bertengkar. 4 tahun yang lalu, saat aku akan melaksanakan Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama, pada hari kedua orang tuaku ribut besar. Mereka bahkan menahanku untuk tidak mengikuti ujian. Sempat terlintas dipikiran mereka untuk tidak melanjutkan pendidikanku ke bangku Sekolah Menengah Atas. Untung saja saat itu mak tuo ku, kakak dari papa, datang berkunjung ke rumah. Aku sangat berterima kasih saat itu. Akhirnya aku diperbolehkan mengikuti Ujian Nasional. Meski mak tuo dan papa sedikit adu mulut.

“Lakukan apa yang mau papa dan mama lakukan, Syifa capek. Syifa besok ada kuis,” aku berniat ingin masuk ke kamarku. Namun langkah ku terhenti saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut mama ku.

“Mama nggak akan ambil hak asuh kamu, Syifa.”

Hatiku sangat perih mendengar perkataan mama. Wanita yang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkanku ke dunia ini, kini tak menginginkanku. Seolah belum cukup sakit dengan ucapan mama, papa juga ikut menambahkan.

“Papa akan bawa Fatih. Papa tidak mau mengurus anak perempuan.”

Aku tersenyum pedih mendengarnya. Semakin yakin dengan pikiran ku, bahwa papa dan mama memang tidak mengharapkanku.

“Silakan.”

Aku masuk dan menutup pintu dengan kasar. Sakit. Aku menangis sejadi-jadinya. Apa yang telah ku perbuat selama ini? Bahkan orang tuaku saja tidak menginginkanku. Apa aku betul-betul tidak diinginkan?

Tuhan, beri aku kekuatan.

***

Hari ini papa dan mama ku resmi berpisah. Masing-masing telah membawa “anak” mereka ke genggamannya. Aku tidak pernah datang sekali pun dalam proses sidang kedua orang tuaku. Berada di sana hanya akan semakin memperbesar lukaku.

Saat ini, aku menyibukkan diri dengan mengikuti berbagai kegiatan di kampus untuk mengalihkan pikiran ku sepenuhnya dari hal-hal yang seharusnya tidak menggangguku.

“Syif, ada yang nyariin tuh di luar,” Julio, teman se-organisasi ku mengatakan itu kepadaku.

“Oh, siapa?”

“Nggak tau, ibu-ibu.”

“Makasih, Julio.”

Aku keluar dari ruangan organisasi. Dapat ku lihat di ujung sana berdiri mak tuo ku dan salah satu anak tertuanya. Aku segera mendekat dan mencium punggung tangannya.

“Ada apa, mak tuo?”

Mak tuo hanya menatapku. Bisa kurasakan perasaan iba yang terpancar dari sorot matanya kepadaku.

“Rita dibawa sama mamamu ke Aceh, sedangkan Fatih dibawa papamu ke Manado,” jelas mak tuo kepadaku.

“Wih jauh banget ya, mak tuo. Harusnya dari Sabang ke Merauke aja, biar kek lagu nasional, hehe.”

Mungkin mak tuo akan berpikiran aku anak yang tidak tahu malu. Di saat keluarganya tengah hancur, aku masih saja tertawa. Tapi aku tidak peduli dengan itu.

Entah kenapa mak tuo malah memelukku. Mak tuo menangis. Aneh. Harusnya aku yang menangis sekarang. Tapi air mataku sepertinya telah mengering.

“Kita bicara di dalam mobil aja ya, nak.”

Aku mengangguk mengiyakan perkataan mak tuo.

***

7 tahun telah berlalu sejak kejadian perpisahan mama dan papa. Kini aku telah bekerja di salah satu perusahaan yang ada di kota Bandung.

Sejak 7 tahun yang lalu, mak tuo lah yang membiayai seluruh kebutuhanku. Ternyata saat sidang hak asuh, mak tuo mengajukan diri sebagai wali ku. Aku tidak tau harus bagaimana berterima kasih kepada mak tuo. Membayari seluruh biayaku dan menampungku untuk tinggal. Meski harus pisah tempat tinggal, dikarenakan aku dan mak tuo yang berbeda keyakinan.

***

Mak tuo mengatakan kepadaku, 3 bulan yang lalu papaku telah meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya karena penyakit kanker paru-paru yang dideritanya. Setelah 7 tahun lamanya aku tidak mengeluarkan air mata, pada hari itu runtuh sudah pertahananku. Walau telah berpisah begitu lama, walau selama ini tak lagi kurasakan kasih sayangnya, papa tetaplah cinta pertamaku.

Fatih, adik bungsu ku, kini bekerja di salah satu bank yang ada di kota Bali.

Sedangkan mama, setelah sekian lama aku lost contact dengan kakakku, akhirnya aku berhubungan lagi. Rita bilang, saat ini mama tengah membuka toko kue yang dibantu oleh adik mama. Dan Rita sendiri akan menikah 6 bulan lagi. Dia mengundang ku dan juga Fatih.

***

Tampaknya semua keluargaku telah menemukan porsi kebahagiaannya masing-masing. Walaupun kami harus hancur terlebih dahulu.

Aku yakin. Suatu saat nanti, aku pun pasti akan menemukan kebahagianku. Dan suatu saat nanti, aku pasti akan berkumpul lagi dengan keluargaku. Pasti.

(Cawan : Jelita Maharani)

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai

foto thumbnail
  • 15 June 2021
Angan Belaka
2012-10-23 11:03:30
  • 15 June 2021
Tempat Terakhir
foto thumbnail
  • 06 June 2021
Zaana