Tuesday, June 22, 2021

Romansa Terluka



Aku berlari, berpacu dengan waktu yang tidak pernah ingin mengalah. Mendapat kabar bahwa Angkasa laki-laki yang sudah menghilang semenjak 10 tahun silam kini ditemukan keberadaannya. Tubuhku rasanya seperti disambar petir saat mendapat kabar itu.

Bahkan hiruk pikuk bandara saat ini tidak bisa mengacaukan pikiranku yang isinya dia. Aku mengambil benda pipih yang berukuran 6 inci itu lalu mencari nama Juna.

“Hallo, aku sudah sampai. Bisa kamu menjemputku?” tanyaku.

“Hallo, Maaf Rain. Aku tidak bisa. Aku ada urusan siang ini,” jawab Juna dari seberang telfon sana.

Di mana aku menemukannya? Di kota Berlin yang sama sekali tidak pernah aku kunjungi selama aku hidup. Aku duduk memegangi buku kecil yang pernah Angkasa tinggalkan. Aku tidak bisa membukanya, sebab kunci itu dipegang oleh Angkasa sendiri.

“Semesta, ini cara terakhir aku menemukan Angkasa. Aku harap aku bisa bertemu dengannya.”

Aku kembali berjalan, mencari kendaraan yang mungkin bisa membawaku mencari penginapan. Tubuhku rasanya tidak kuasa lagi menumpang lelah dalam perjalan Jakarta-Berlin selama 16 jam.

“Escort me to Potsdam Sir,”   pintaku ke pada supir yang terlihat seumuran denganku.

Which country are you from?”

“Indonesia.” Dia terlihat kaget saat aku menjawab Indonesia, seolah sangat tidak asing baginya.

“Saya juga dari Indonesia nyonya, tapi saya sudah sangat lama di sini.” aku sedikit kaget mendengarnya, ternyata tidaklah sulit menemukan orang Indonesia di Berlin.

“Saya tidak menyangka.”

“Kalau nyonya butuh bantuan di Berlin, aku siap membantu.”

Aku tidak menjawab apapun, karena aku sendiri percaya aku bisa menemukan Angkasa dengan usahaku sendiri. Lagian Angkasa bukanlah orang terpenting di Berlin, jadi tidak mungkin juga semua orang mengenal sosok dirinya.

Saat aku sudah sampai di Potsdam supir yang tidak aku ketahui namanya, melambaikan tangan. Dia orang baik pertama yang aku jumpai di Berlin. Aku melangkah ke dalam lalu mengambil kunci kamar, pasalnya aku sudah check in sebelum tiba ke Potsdam.

***

Aku terus merengek ke pada laki-laki berbadan tinggi di hadapanku.

“Juna tolong, antarkan aku ke tempat Angkasa.”

“Rain, aku tidak bisa menolongmu. Aku hanya bisa memberikan sedikit informasi di mana Angkasa berada. Tolong Rain, keluar aku ingin meeting beberapa saat lagi,” jawab Juna panjang lebar.

Aku tidak tahu persis, mengapa Juna bahkan seisi semesta tidak ingin memberitahu aku di mana keberadaan Angkasa.

Excuse me sir, mr. Asa would like to see you at this time.” seorang perempuan bertubuh tinggi dan langsung masuk ke dalam ruangan, aku langsung menoleh ke arah Juna, ia tampak gelisah.

Tak…takkk..takkk

Suara langkah sepatu mendekat. “Juna kenapa ti--”

Bagai didorong dari semesta, aku tidak kuat menahan air mata saat melihat wajahnya lagi. Aku berjalan mendekat lalu menghujaninya dengan pelukan penuh rindu.

“Angkasa, kamu ke mana saja hah?!” Angkasa tidak menjawab apapun, bahkan tangan kekarnya tidak memelukku, dia tidak sehangat Angkasa dulu.

“Angkasa jawab.”

Angkasa melepaskan aku dari pelukannya, ia tersenyum hangat lalu mengacak-ngacak rambutku, Angkasa sudah menjadi Pria dewasa. Bukan anak laki-laki berseragam putih abu-abu lagi.

“Rain, lupakan aku. Mengingat diriku hanya menjadi luka bagimu. Maaf telah membuatmu menunggu terlalu lama,” ujar Angkasa, tangannya perlahan menghapus buliran air mata dari pelupuk mataku.

“Ini jawaban selama sepuluh tahun?”

“Daddyyyyyyy!!” teriak anak kecil memasuki ruangan tempat kami bertemu, matanya sangat mirip dengan Angkasa kecil. Jemarinya memeluk kaki panjang milik Angkasa. Angkasa langsung menggendongnya lalu tersenyum penuh arti.

“Angkasa?”

“Rain, maaf telah membuat Romansamu terluka. Dia Glen anakku, sedikit sama dengan Angkasamu waktu kecil. Rain aku mendengar kamu akan tunangan dengan seseorang, aku sudah mengirimimu surat lima tahun silam. Aku pikir kamu sudah membacanya.”

Tunangan? Kapan aku berencana tunangan? Aku tidak pernah bertunangan dengan siapapun. Romansaku masih milik Angkasa. Tidak ada satupun yang akan berhasil melewatinya.

“Juna? Apa kamu sudah memberikannya ke Rain?”

Juna diam

Diam

Dan diam.

Aku tau persis siapa dalang dibalik semua ini, Juna.

“Rain, maaf aku tidak bermaksud. Aku hanya tidak ingin kamu kembali ke pelukan Angkasa, aku sayang kamu Rain.”

Kakiku tidak bisa bertumpu lagi, ini tidak sepenuhnya salah Juna. Antara aku dan Angkasa sudah selesai walaupun tidak pernah memulai. Rasanya tidak bisa aku ceritakan.

“Rain, maaf telah membuat hidupmu berantakan. Aku sayang kamu Rain. Ternyata cerita ini sudah lama selesai Rain.”

Aku memeluk tubuh Angkasa untuk terakhir kalinya, rasanya sungguh hangat. Aku benar-benar akan selalu merindukannya. Walaupun, Angkasa tidak bisa kembali setidaknya keberadaan Angkasa dalam romansaku tidak menjadi teka teki lagi.

(Cawan WP: Nadia Wulandari)

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai

foto thumbnail
  • 15 June 2021
Angan Belaka
2012-10-23 11:03:30
  • 15 June 2021
Tempat Terakhir
foto thumbnail
  • 06 June 2021
Zaana