Tuesday, June 22, 2021

Minat Baca Indonesia Rendah, Masa Sih?



WAWASAN PROKLAMATOR,- Minat baca di Indonesia telah menjadi topik hangat yang sering dibahas. Dari pembahasan topik ini, banyak orang yang sudah mengetahui bahwa minat membaca di Indonesia menempati peringkat cukup rendah. Hal itu sudah di jelaskan dalam beberapa studi penelitian tentang minat baca negara-negara dunia. Seperti Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) pada 2015 silam. Kemudian  studi World Most Literate Countries yang dilakukan oleh Presiden Central Connecticut State University (CCSU), John W Miller pada Maret 2016.

Bayangkan saja, menurut studi yang dilakukan PISA terhadap anak berusia 15 tahun yang dipilih secara acak, Indonesia menempati 62 dari 70 negara pada kategori umum, yaitu Performa dalam Sains, Membaca, dan Matematika. Sedangkan pada kategori Membaca saja, Indonesia berada di peringkat 44 dari 70 negara. Setelah satu tahun berlalu, minat baca di Indonesia tetap tidak mengalami kenaikan. Hal ini ditunjukkan oleh studi yang dilakukan oleh CCSU di mana Indonesia menempati posisi yang lebih buruk, yaitu peringkat 60 dari 61 negara. Miris sekali, bukan?

Bukan begitu persisnya, indikator rendahnya minat baca Indonesia dapat dihitung dari jumlah buku yang diterbitkan yang masih jauh di bawah penerbitan buku di negara - negara maju lainnya. Kondisi rendahnya budaya membaca pada Indonesia sungguh sangat memprihatinkan. Rendahnya minat membaca merupakan problem bagi bangsa kita yang harus diselesaikan. Sebab dengan rendahnya minat baca, maka kita tidak bisa mengetahui dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi di dunia. Peradaban suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya, sedangkan kecerdasan dan pengetahuan dihasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang di dapat, salah satu caranya adalah dengan membaca.

Kurangnya minat membaca ini juga dipengaruhi oleh kurangnya ketersediaan bahan bacaan. Jadi, disini jelas Indonesia hanya kurang bahan bacaan bukan malas membaca. Ada beberapa faktor penghambat yang membuat minat baca Indonesia rendah adalah akses buku sangat sulit di daerah yang belum ada fasilitas lengkap dan juga seperti buku yang di terbitkan kurang menarik dibaca ataupun kurang menggunakan gambar dan kalimat yang mampu menarik orang lain untuk membacanya.

Jika mengingat bagaimana budaya membaca yang dimiliki masyarakat Indonesia, seharusnya kita sadar bahwa nyaris semua orang Indonesia memiliki kebiasaan membaca buku tanpa datang ke perpustakaan. Orang Indonesia cenderung lebih memilih membeli buku di toko buku ataupun membeli saat ada bazar. Ada juga yang sering meminjam buku dari teman, keluarga, bahkan tetangga. Maka dari itu, datang ke perpustakaan memang bukan budaya kita, sehingga kunjungan ke perpustakaan tidak bisa menjadi acuan dalam penilaian minat baca masyarakat Indonesia.

Selain itu, di era globalisasi ini membaca tidak harus dengan membalik setiap lembaran- lembaran  halaman buku. Bila sebelumnya membaca identik dengan media cetak saja, maka di zaman sekarang yang sudah serba digital membaca tidak lagi terpaku pada membaca kertas karena segala informasi terkini teleh tersedia di dunia maya atau  internet dan media elektronik lainnya. Membaca buku secara daring bisa saja menjadi pilihan terfavorit bagi banyak orang dibanding harus membeli surat kabar ataupun membaca buku.

(Cawan WP : Siti Fatimah Azzahrah)

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai