Tuesday, June 22, 2021
Ibuk,

Ibuk,



Ibuk, novel karya penulis national best seller Iwan Setyawan. Novel ini merupakan novelisasi perjuangan hidup keluarga penulis, kisah yang sangat apik dan inspiratif. Rangkaian ceritanya mampu menghipnotis pembaca, Iwan Setyawan sebagai penulis ingin menunjukkan keteguhan hati seorang Ibuk menjaga keseimbangan dalam keluarganya. Novel ini kobarkan api semangat untuk selalu semangat menjalani hidup, seperti halnya tokoh Ibuk yang tak pernah menyerah membesarkan anak-anaknya.

Diceritakan Tinah, seorang gadis Desa Batu, yang tidak bisa melajutkan pendidikannya dikarenakan masalah ekonomi. Diusianya yang masih belia, Tinah telah merasakan susahnya untuk mencari uang demi menjalani kehidupan. Sejak kecil, Tinah telah diajak Mbok Pah berjualan baju-baju bekas di Pasar Batu. Seiring berjalannya waktu, disaat Tinah telah dewasa diam-diam Tinah disukai oleh Cak Ali, seorang penjual tempe di depan kios Tinah.

Pada suatu pagi, saat Tinah berada di kiosnya dia melihat seorang laki-laki berambut klimis dan berwajah tampan sedang menjadi kernet angkot. Pandangan mata mereka pun bertemu dan beradu pandang, seorang supir angkot pun mengagetkan pemuda tersebut yang memanggilnya dengan nama Sim, akhirnya pada suatu malam Sim pergi kerumah Tinah untuk menonton layar tancap.

Seiring berjalannya waktu, mereka menikah dan lima anak terlahir sebagai buah cinta  (Isa, Nani, Iwan (Bayek), Rini dan Mira). Hidup yang semakin meriah juga semakin penuh perjuangan. Angkot yang sering rusak, rumah mungil yang bocor di kala hujan, biaya pendidikan anak-anak yang besar, dan pernak-pernik permasalahan kehidupan dihadapi Ibuk dengan tabah, dengan sekuat tenaga Tinah dan Sim selalu berjuang untuk memenuhi biaya pendidikan kelima anaknya. Tinah tidak menginginkan nasib anak-anaknya seperti dia, dengan kerja keras, anak-anak mereka pun tumbuh menjadi anak-anak yang berprestasi.

Meskipun terhimpit masalah ekonomi, usaha Tinah dan Sim tidak pernah sia-sia. Melalui Bayek usaha Tinah dan Sim selama membesarkan putra-putrinya pun terbayar sudah, Bayek kecil yang dulunya sering merengek kepada ibunya pun kini tumbuh menjadi seorang Bayek dewasa. Bayek, anak lelaki Ibuk satu-satunya telah mengubah kehidupan mereka sekeluarga. Kerja keras Ibuk dan Bapak pada akhirnya menghadirkan buah dari hasil yang mereka nanti selama ini. Sebuah kehidupan yang jauh lebih baik dibanding dulu.

Berawal dari keinginan Bayek untuk kuliah dengan berharap tidak hanya sekadar hidup sebagai anak sopir angkot yang akan meneruskan pekerjaan bapaknya, Bayek menempuh pendidikan di Bogor, tepatnya di IPB menjadi mahasiswa berprestasi, hingga mendapat tawaran bekerja di Jakarta dan New York. Sepuluh tahun kehidupan di New York dilaluinya penuh dengan kehangatan kasih sayang dan nasihat dari  ibuk yang selalu meneleponya. New York tak mengubahnya menjadi anak yang kehilangan jati diri. Rumah di gang buntu selalu mengingatkannya untuk berjuang mengangkat taraf hidup keluarganya tanpa meninggalkan pijakan yang telah dibangunnya. Sebuah rumah yang selalu mengingatkannya untuk menjadi orang yang merindukan rumah sebagai tempat berpulang.

Bapak yang melewati masa hidupnya selama menjadi sopir angkot, akhirnya merasakan kehidupan yang lebih nyaman setelah Bayek membantu keluarganya. Rumah dibangun, kakak dan adiknya kuliah, membiayai pernikahan saudaranya, hingga membangun kosan untuk Bapak. Sampai akhirnya Bapak Bayek berpulang terlebih dahulu ke Rahmatullah. Bayek menggenggam dunia lewat pendidikan yang dirasakannya sedari kecil. Salut dengan ibuk yang memiliki perhatian lebih dan perjuangan penuh pada anak-anaknya.

Nilai-nilai kesederhanaan pun bisa pembaca dapatkan ketika membaca novel ini. Semua tersebar dalam rangkaian kisah Tinah sebagai Ibuk yang membina anak-anaknya. Lewat tokoh Tinah kita akan disadarkan bahwa kemiskinan sebenarnya sederhana, yang patut dilakukan adalah memandang hal itu sebagai titik awal perjuangan untuk menjadikan hidup lebih baik lagi.

Novel ini sangat menginspiratif, perjuangan hidup tokoh-tokoh yang ada di dalamnya mampu memberikan inspirasi kepada pembaca agar tidak putus asa menghadapi permasalahan hidup. Serta mengajarkan kepada pembaca untuk tidak menyerah demi mencapai sebuah kesuksesan.

(Cawan WP : Siti Fatimah Azzahrah)

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai

2011-10-05 09:56:25
  • 03 October 2011
Negeri 5 Menara