Tuesday, June 22, 2021

Pertemuan Tak Disengaja



Senja ini, aku memandangi langit indah dan melihat burung dengan kicauan yang seakan sama seperti waktu dulu. Mengingat semua kenangan tentang pertemuan singkat awal mula bertemu. Pertemuan dengan sapaan penuh kehangatan batinmu,

“Hei gadis, siapa namamu?”

Pertanyaan yang membuatku getar disekujur tubuhku,

“Rembulan” aku hanya menjawab, tidak berani bertanya balik.

Dia adalah lelaki yang baru saja aku kenal namun aku merasa sangat cepat akrab dengannya, lebih tua sekitar 2 tahun diatasku. Kami pun saling bicara, duduk hingga berlarian kecil dipinggir pantai. Kebetulan rumahku berada disekitaran pantai jadi, aku bisa berbicara lebih lama pada pertemuan pertama itu. Dengan mudahnya semua perbincangan dibaluti oleh tawa. Ada pertemuan yang tidak disengaja namun, beruntungnya akulah pemenang waktu karena akulah orang yang menikmatinya.

Lama sudah waktu berlalu, kenangan saat itu.  Aku berlarian dengannya yang menjadi sosok terkasihku kala itu, sebut saja namanya Awan, seorang lelaki jenius namun terlihat sangat sederhana. Tidak hanya sedikit kata, dia menjanjikan untuk terus bersama. Bahkan jauh sebelum dia menyanjungku dan berkata ingin selalu membahagiakanku. Aku hanya bergumam seakan mau, belum tahu apakah waktu akan mengecewakanku dengan datangnya lelaki sesederhana dia? Tidak terlihat sedikitpun akan menyakitkan. Memang yang terasa benar akan terjadi nanti belum tentu nantinya akan seperti itu bukan?

 ***

Tempat bahagia selepas dia pulang dari kursusnya adalah di bibir pantai bersamaku, sangat bahagia yang aku rasakan bersamanya saat itu. Setiap dia memandangku dengan tatapan sayu dan senyum lebarnya, saat dia menggandengku dengan tangan kokohnya, erat seakan tidak akan terlepas. Menatap langit dengan canda guraunya yang membuatku geli hingga tertawa selepas-lepasnya, duduk diantara bebatuan menjulang membuatku nyaman bersandar dibahunya. Menikmati terbenamnya matahari dengan membuat rumah pasir di pinggir pantai sungguh mengasyikkan. Selalu ada hal yang membuatku bahagia salah satunya dengan bersepeda dan bercengkrama, sangat indah melihat senyumnya, hingga aroma parfum yang dikenakannya pun aku selalu mengingatnya. Tidak pernah aku temui hal sebahagia itu sebelumnya.

Aku terkagum dan terkesima, semua seakan baik-baik saja hingga aku berpikir akan bersamanya hingga tutup usia. Naifnya keinginanku, Tuhan tidak merestui itu, dia lelaki jenius itu sangat memikirkan pendidikannya hingga aku tidak dapat bertemu lagi dengannya. Pindah ke Negeri Jiran, Malaysia bersama keluarganya, mengambil studi dan menetap disana. Hal yang sangat menyedihkan untukku, entah bagaimana nanti jika ingin bertemu.

Sore itu, mungkin dia ragu untuk datang. Aku menunggunya sangat lama, di bawah pohon sambil membawakannya gelang kerang untuknya. Tak lama kemudian dia menghampiriku sambil berbicara di belakangku.

“Maaf, aku harus pergi, tidak bisa datang lagi” gumamnya gemetar.

Belum sempat aku bertanya, dia melanjutkan pembicaraannya itu,

“Maaf aku tidak bisa terus menetap, seperti kataku dulu. Takdir tidak menyatukan kita untuk terus bersama.”

Aku langsung memberikan gelang buatanku dan berlari dengan diselubungi rasa kecewa. Isak tangis yang tidak akan mengubah kenyataan akan kepergian sosok pewarna hariku itu. Semua berkecamuk antara bahagia, dia pernah hadir di kehidupanku atau malah kesedihan, akan kepergiannya yang membuat rasa bimbangku memenuhi pikiran ini. Terlantar disini, aku dan perasaanku, hingga murung dan kelam di hari-hariku. Aku yang merasa tidak bisa tanpanya, tanpa canda guraunya, tanpa senyuman dan genggaman tangannya. Hangat yang dulu tidak terasa lagi adanya.

Tapi itu hanya masa lalu, kini telah ada mentariku yaitu anak dari pernikahanku dengan lelaki pilihan orang tuaku, lelaki yang mencintai dan menerima dengan segala masa lalu pelikku itu. Bahagia aku rasakan semenjak hadirnya suamiku di hidupku. Namanya Senja jika diibaratkan, dia seperti pengantarku menemui mentari di kehidupanku. Sebab itulah aku menamai buah hatiku “Mentari” nama yang indah dan mencerminkan penerangan dengan harap dialah penerang dalam segala kegelapanku.

***

Aku sedang memperhatikan sekitar pantai, tidak aku temui mentariku, berputar kian kemari mencarinya tidak aku temukan, hingga ada suara memanggilku,

“Bunda” itulah panggilanku, yang terucap dari bibir munyilnya.

“Iya sayang”  Jawabku.

Aku lihat dia sedang menggenggam tangan lelaki disampingnya. Tertegun aku melihat ke wajah lelaki itu, diapun menyapaku.

“Hai Rembulan, cantik sekali” melihatku sambil melirik anak kecil disampingnya.

“Dia anakku, Mentari” sahutku.

“Mirip sekali, persis sepertimu.” Jawabnya sambil menggenggam tangan wanita disampingnya.

“Ini Pelangi, tunanganku” ucapnya.

“Hai” Aku tersenyum kecil dan menjabat tangannya.

Setelah pertemuan singkat itu, diapun lambat laun melangkah pergi dariku.

Benar saja, aku kehilangan dia, seorang lelaki yang terlihat menyayangiku dengan hatinya. Yang aku kira rumah namun hanya tempat untuk singgah, terlena akan kenyamanan dan kehangatannya hingga lupa kini awan tidak lagi menyelimuti senja, senja datang dengan sendirinya setelah awan beranjak, yang nantinya akan berganti dengan bulan. Dari cahaya bulan aku belajar keindahan malam mampu menerangi tapi tidak untuk dirinya sendiri. Namun, akan datang mentari pagi yang lebih menerikkan, yang menerangi kehidupan di kemudian harinya. Masa depanku tidak akan tertutup oleh dinginnya bulan karena sejatinya mentari akan datang jika waktunya telah tiba.

(Cawan WP : Siti Fatimah Azzahrah)

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai

foto thumbnail
  • 15 June 2021
Angan Belaka
2012-10-23 11:03:30
  • 15 June 2021
Tempat Terakhir
foto thumbnail
  • 06 June 2021
Zaana