Tuesday, June 22, 2021

Lebaran Terakhir



Bulan suci Ramadan telah berakhir. Kini telah masuk bulan Syawal. Walau di tengah pandemi Covid-19, semua orang tampak bersuka cita menyambut bulan penuh kemenangan ini. Saat di mana seluruh keluarga bisa berkumpul dan kembali menjalin silaturahmi yang sempat merenggang.

Hari ini merupakan lebaranku yang kelima tanpa kehadiran papa.  Papa terlebih dulu menghadap sang Ilahi lima tahun yang lalu, pada kecelakaan beruntun yang dialaminya di perjalanan menuju pulang setelah bekerja.

Pada saat itu, duniaku hancur lebur tak bersisa. Orang yang dulu selalu menatapku dengan sorot matanya yang tegas namun penuh kasih itu, telah pergi untuk selamanya. Waktu itu aku berpikir, aku tidak punya lagi tempat untuk berteduh. Tidak akan ada lagi yang akan menampung segala keluh kesahku.

Namun aku salah, masih ada mama yang selalu menuntunku. Masih ada mama yang senantiasa menenangkanku dikala gundah. Duniaku masih ada. Duniaku tetap terang benderang. Mama pasti akan selalu ada ada. Setidaknya kalimat itulah yang selalu menenangkanku.

Sekarang kalimat itu tak lagi dapat menenangkanku sepenuhnya. Melihat keadaan mama yang sekarang, aku benar-benar takut. Takut mama juga pergi meninggalkanku. Bahkan tadi pagi aku tidak ikut melaksanakan sholat Eid hanya untuk memastikan bahwa mama baik-baik saja. Aku anak tunggal. Hanya ada aku dan mama di rumah. Jika bukan aku, siapa lagi yang akan menjaga mama?

Dari sore kemarin, mama mengeluh sakit perut dan pusing. Saat diajak ke rumah sakit, mama menolak. Mama bilang, pergi ke rumah sakit disaat pandemi masih mewabah seperti saat ini, sama saja dengan masuk ke kandang Harimau.

“Tata pergi duluan aja ke rumah mami, mama nggak apa-apa kok. Nanti kalau udah mendingan, mama pasti nyusul,” ujar mama padaku.

“Nanti aja deh, ma. Tata mau disini aja, nemanin mama.”

Aku tidak akan meninggalkan rumah tanpa mama. Meskipun hanya sedetik saja.

Sebelumnya, aku juga telah mengabarkan pada saudara mama bahwa aku dan mama tidak dapat berkunjung hari ini. Mereka memakluminya dan mendo’akan kesembuhan untuk mamaku.

“Assalamu’alaikum,” ada begitu banyak suara yang mengucapkan salam dari luar rumahku, bersamaan dengan bunyi ketukan pintu.

“Wa’alaikumussalam,” aku sedikit terkejut sekaligus terharu melihat kedatangan semua saudara mama. Aku pun mempersilahkan mereka masuk.

“Gimana mamamu, Ta?” tanya mami, kakak mama.

“Masih pusing, mi. Tadi pas mama makan, malah muntah.”

Setelah mengantar mami ke kamar mama, mama menyuruhku keluar. Mama bilang ada hal penting yang mau mama bicarakan dengan mami.

Aku pun keluar dan berjalan menuju ruang tamu, tempat di mana seluruh sepupuku duduk berkumpul. Begitu ramai dan berisik. Tapi aku senang, rumahku terasa lebih hidup. Aku berharap, lebaran seterusnya kami tetap lengkap seperti saat ini.

Sekarang waktu menunjukkan pukul 12.10 WIB. Semuanya tampak kekenyangan setelah menyantap ketupat dan beberapa kue kering. Namun entah mengapa, suasana rumahku sedikit sepi dibanding tadi. Semua saudara mamaku juga tidak ada di ruang tamu maupun ruang keluarga. Hanya ada beberapa anak kecil yang sedang bermain dan tertawa lepas di sana.

Aku tidak tenang. Jantungku berdetak tak karuan. Aku pun tak tau apa penyebabnya. Saat ini hanya mama yang terlintas di otakku. Aku bergegas menuju kamar mama. Ku dapati semua saudara mama duduk disekitar tepian kasur mama. Wajah mereka tidak sumringah seperti beberapa jam yang lalu.

Ku lirik mama yang tampak sedang menutup matanya, namun tangan mama terlipat. Aku menoleh menatap yang lain. Ku dapati mami menangis tanpa suara. Ada apa ini? Ini tidak seperti yang ku takutkan, bukan?

“Mami, mama Tata tidur ya, mi?”

Tangis mami makin kencang. Ku lihat mami berjalan kearahku dan memelukku erat. Bukan reaksi ini yang ku harapkan.

“Mama kenapa, mi?”

Aku masih berharap apa yang ku takutkan hanya sebatas kekhawatiranku yang berlebihan.

“Mama udah tenang, Ta. Ikhlaskan mama ya, sayang.”

 Deg.

Seluruh tubuh bergetar hebat, nafasku tercekat, waktu seolah berhenti. Duniaku seakan hancur tak karuan. Pelitaku. Satu-satunya cahaya hidupku telah redup. Tak ada lagi yang tersisa untukku.

Mamaku. Malaikat yang dikirim Tuhan padaku telah pergi. Terbang jauh menembus ruang hampa menuju pasangan abadinya, papa.

Kenapa mama harus pergi sekarang? waktu yang harusnya membahagiakan untuk kami, malah menjadi duka yang begitu pilu untukku. Bahkan, tak sempat bibirku mengucapkan sejuta rasa cintaku pada mama. Belum sempat terucapkan beribu kata maaf dan rasa terima kasih pada mama. Namun, kini mama telah terbang tinggi, jauh ke tempat yang tak akan bisa ku gapai untuk saat ini.

***

Kini hanya tinggal aku seorang diri. Meratapi nasib yang begitu malang. Tak lagi punya tempat untuk berkeluh kesah. Tak lagi nyaman rasannya pulang ke rumah. Tak lagi merasa hangat dikala dingin menyelimuti.

Semoga tenang dan damai di keabadian, papa, mama. Aku disini selalu mengirim do’a untuk papa dan mama. Aku sangat menyayangi papa dan mama.


(Cawan WP : Jelita Maharani)

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai

foto thumbnail
  • 15 June 2021
Angan Belaka
2012-10-23 11:03:30
  • 15 June 2021
Tempat Terakhir
foto thumbnail
  • 06 June 2021
Zaana