Tuesday, June 22, 2021

Kuliah di Kampus Swasta Tidak Seburuk yang Kamu Pikirkan



WAWASAN PROKLAMATOR,- Masa transisi dari siswa menjadi mahasiswa selalu menjadi polemik yang hangat dibicarakan. Dimana, siswa yang telah menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Menengah Atas (SMA) dapat memilih  jalan yang akan ditempuh kedepannya. Apakah bekerja, berkuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swasta (PTS), kedinasaan atau pilihan lainnya.

Saat seseorang memilih untuk masuk ke PTS pasti ada yang pro dan kontra. Tentunya keduanya itu memiliki alasan masing-masing. Namun alasan dominan yang beredar adalah kontra dengan berspekulasi “meletakkan harapan terakhir pada PTS atau gap year saja dan coba lagi tahun depan”. Hal ini terjadi karena beberapa faktor. Diantaranya, kurangnya informasi yang didapatkan masyarakat terhadap PTS sehingga masyarakat lebih banyak mengonsumsi  informasi - informasi yang tidak valid dan secara tidak langsung membuat citra PTS tidak begitu baik.

Selain itu, ketidakpercayaan masyarakat terhadap PTS dilihat dari kurangnya media yang meliput prestasi mahasiswa ataupun alumni yang berasal dari PTS. Hal ini mengakibatkan masyarakat ragu akan kualitas PTS, padahal selama ini telah banyak dilakukan pembenahan dari pihak kampus seperti penerapan kurikulum, melakukan kerjasama intra dan luar kampus dan upaya lainnya.

Parahnya argumen yang menyatakan PTS hanya untuk golongan orang kaya. Ini tidaklah benar. Banyak beasiswa yang dapat diperoleh dari PTS. Contohnya Universitas Bung Hatta, Sumatera Barat. Mahasiswanya bisa mendapatkan beasiswa bidikmisi. Seperti yang telah diketahui, beasiswa bidikmisi itu untuk uang kuliah tunggal (UKT) bernilai nol. Selain itu juga ada beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik), Beasiswa Van Deventer Maas Indonesia (VDMI), Beasiswa Generasi Baru Indonesia (GenBi) dan masih banyak lagi. Artinya, tidak semua mahasiswa di PTS adalah orang kaya.

Berkuliah di PTS tidak akan membuat hak kita berkurang sebagai mahasiswa. PTS pastinya berupaya untuk meningkatkan kualitas sarjana lulusannya seperti magang, student exchange, mengikutkan mahasiswanya terhadap perlombaan Nasional, penelitian, melegalkan organisasi dan sebagainya. Sehingga tidak menutup kemungkinan keterampilan pasca sarjana lulusan swasta mumpuni di perusahaan nantinya.

Oleh sebab itu, beredarnya argumen-argumen negatif ini memicu seseorang berpikir dua kali saat mendaftar ke PTS atau bahkan sebagai pilihan terakhir jika semua kesempatan gagal.  Padahal PTS tidaklah seburuk itu. Kita bisa berproses bersama-sama.

Telah banyak contoh pengusaha muda yang sukses alumni PTS. Contohnya William Tanuwijaya alumni Binus yang merupakan salah satu pendiri platform Tokopedia. Seperti yang kita lihat sekarang ini, kebanyakan orang terutama anak muda pastinya mengenal tokopedia, aplikasi yang  bergerak pada jual beli online. Contoh lainnya Cynthia Tenggara yang mampu mendirikan startup bidang makanan yakni  berrykitchen.com dan masih banyak lagi.  Ini menunjukkan bahwa lulusan swasta bisa bersaing di segala bidang yang ada di Indonesia. Sehingga jangan cemas dan takut untuk memilih PTS.

Intinya, masa depan tidak bergantung kepada tempat kamu berkuliah tapi bagaimana caranya survive dan struggle dimasa perkuliahan. Pembentukan karakter, berlatih kepemimpinan, membagi waktu dan bergabung dengan organisasi kelembagaan sangat membantu untuk mengasah skill yang akan kamu gunakan setelah tamat nantinya. Dimana semua hal tidak hanya didapatkan di PTN tapi juga di PTS. Selain itu tidak ada yang bisa meramalkan takdir seseorang.  Boleh jadi lulusan swastalah yang nantinya menjadi pemimpin perusahaan.

(Cawan WP: Lisa Aprilia)

Wawasanproklamator.com Jauh lebih dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai