Tuesday, June 22, 2021

Sabtu Bersama Bapak



Sabtu Bersama Bapak adalah novel dari Adhitya Mulya, merupakan karya best seller dari penulisnya yang dikonversikan dalam sebuah film dengan judul yang sama pada tahun 2016. Novel ini sangat menginspirasi terkait cara mendidik anak dengan baik serta mengajarkan kita tentang arti sebuah kesabaran, ketulusan, dan kasih sayang. Pembaca cepat menyerap ilmu  dari novel ini karena disajikan dalam bentuk cerita. Cerita yang disajikan Adhitya Mulya ini sangat menghibur dan menyentuh hati pembaca. Dengan alur menarik dan tata bahasa yang mudah dipahami karena menggunakan bahasa sehari – hari membuat novel ini banyak diburu oleh pembaca.

Novel ini menceritakan kehidupan dari keluarga sederhana. Pak Gunawan yang berkarakter bijaksana, Ibu Itje yang berkarakter sabar, Satya yang berkarakter pemberani, dan Cakra yang berkarakter santun. Keluarga ini selalu menerapkan hal-hal baik untuk membangun keluarga yang tentram dan damai. Namun, Pak Gunawan tidak bisa mendampingi anak-anaknya sampai dewasa karena menderita kanker.

Dengan waktu yang sedikit itu , Pak Gunawan mulai melakukan langkah-langkah yang luar biasa yaitu dengan membuat rekaman video dirinya untuk mewariskan pemikirannya yang ia tuangkan dalam berpuluh-puluh kaset video yang dibuat sebelum ia  meninggal. Video itu berisi pesan-pesan hidup yang bijak dan bermanfaat, hal itu nanti akan mengajarkan anak-anaknya banyak hal tentang kebijakan hidup. Bertujuan agar kelak ia dapat selalu mendampingi anak-anaknya tumbuh besar hingga menjadi seorang suami dan ayah yang baik.

Kemudian ia memberikan nasihat kepada anak-anaknya didalam video-video itu seolah sudah mengetahui jawaban yang tepat untuk pertanyaan anak-anaknya kelak. Karena pesan Bapak, Satya dan Cakra tumbuh menjadi lelaki baik. Meski keduanya memiliki masalah yang berbeda, Satya yang berusaha berubah menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya dan Cakra yang berusaha mencari calon istri yang tepat, mereka tetap menyerap pesan-pesan dari Bapak. Di sisi lain, novel ini juga menampilkan masalah Ibu Itje yang menderita kanker payudara, tapi tidak ingin merepotkan anak-anaknya.

Pak Gunawan paham betul, kelak, rekaman tersebut akan sangat membantu kedua anaknya meskipun sosok Bapak telah tiada di antara mereka, namun mereka tidak kehilangan sosok ayah, karena merasa Bapak selalu bersama mereka. Maka semenjak Bapaknya meninggal, Satya dan Cakra selalu menonton video-video peninggalan Bapak. Hal itu mereka lakukan setiap hari Sabtu, hingga menjadi rutinitas yang terus mereka lakukan setiap minggunya.

Keberadaan rekaman video tersebut mulai dirasakan pengaruhnya oleh Cakra dan Satya. Ketika Cakra merasakan kerinduan yang sangat pada Bapaknya. Ia memutar video tersebut terus-menerus. Merasakan kenangan saat-saat bersama Bapak hingga berkali-kali hingga tanpa terasa ia telah melihat rekaman tersebut sampai pagi menjelang. Melihat rekaman tersebut, ia merasa seakan Bapak masih ada, ia hadir di hadapannya dan berbicara banyak hal padanya. Cakra menitikkan air mata, merasakan betapa berharganya remakan-rekaman tersebut bagi dirinya.

Selain soal rekaman video dari Bapak tersebut dan bagaimana itu menjadi bekal berharga bagi Bu Itje beserta kedua anaknya dalam menjalani hidup, cerita dalam novel ini juga berlanjut dengan kehidupan Satya dan Cakra yang semakin tumbuh dewasa. Kedua anak Bu Itje dan pak Gunardi tumbuh menjadi lelaki cerdas dan mapan.

(Cawan WP : Siti Fatimah Azzahrah)

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai

foto thumbnail
  • 17 May 2021
Ibuk,
2011-10-05 09:56:25
  • 03 October 2011
Negeri 5 Menara