Tuesday, June 22, 2021

Percaya Pada Mimpimu



Malam kian sunyi, udara kian dingin menusuk kulit, namun matanya masih enggan terpejam untuk menelusuri mimpi. Kinan. Kinandra Valeshy nama lengkapnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.43 dini hari. Seharusnya, sekarang ia sudah terlelap. Tapi ia masih terlalu nervous untuk tidur.

Saat ini, gadis itu masih memikirkan nasibnya di hari esok. Besok adalah hari pertamanya mengikuti perlombaan bahasa Jepang yang diadakan di salah satu SMA negeri yang ada di kotanya. Ia mengikuti perlombaan huruf dasar Jepang. Jika boleh jujur, ia benar-benar takut kalah. Walaupun ini adalah kompetisi pertamanya seumur hidup, tapi tetap saja ia berharap langsung juara. Meskipun kemungkinannya sangat kecil.

Waktu terus berjalan, hingga akhirnya Kinan terlelap sendiri dengan seluruh rasa gugupnya.

Menjelang pukul lima pagi, Kinan terbangun dari tidurnya. Segera ia laksanakan kewajibannya, menunaikan sholat shubuh. Setelah usai, ia langsung bergegas mempersiapkan diri untuk berangkat ke sekolah dan tak lupa ia berpamitan kepada bundanya yang saat ini sedang duduk termenung di sofa ruang tamu.

“Kinan berangkat dulu, ya, nda. Assalamu’alaikum,” pamitnya sambil mencium punggung tangan bundanya. Bunda balas mencium pucuk kepala Kinan.

“Iya, hati-hati ya, nak. Semoga lombamu sukses,” doa sang bunda sambil menatap penuh iba kepada putri tengahnya itu. “Apapun kata orang, kamu jangan patah semangat. Bunda selalu mendukung apapun yang Kinan impikan,” tambahnya.

Percayalah, mendengar itu Kinan sangat ingin menangis sekarang. Tadi malam, saat Kinan menjelaskan tentang perlombaan yang akan dilakukannya hari ini, ayah Kinan menentang keras. Ayahnya berpikir, tidak ada gunanya mendalami bahasa asing, kecuali bahasa inggris yang memang sudah diakui sebagai bahasa Internasional.

“Iya, bunda. Kinan pergi dulu bunda.”

 ***

Lomba berakhir. Sangat berbanding jauh dengan yang Kinan harapkan. Ia kalah. Telak. Sepertinya ia benar-benar harus belajar lebih dalam lagi untuk menutupi kekurangannya. Tak apa. Ini akan menjadi pengalaman pahit sekaligus pembelajaran untuknya.

Kinan sedang dalam perjalanan pulang. Ia membawa kendaraannya sendiri. Sebelumnya, ayahnya sudah menelfon dan mengatakan bahwa kakak ayahnya datang berkunjung malam ini.

Sesampai di rumah, Kinan langsung masuk. Tak lupa juga ia mengucapkan salam sebelum masuk rumah.

Assalamu’alaikum, Kinan pulang.”

Wa’alaikumussalam, eh anak mama sudah pulang. Lelah, ya?” Rina, kakak ayahnya, menyambut Kinan di pintu masuk.

“Mama,” Kinan mencium punggung tangan kakak ayahnya yang ia panggil dengan sebutan Mama. “Nggak terlalu lelah kok ma, apalagi pas lihat mama yang makin muda gini, langsung hilang lelah Kinan hehe,” ujarku.

“Dasar, bisa aja ya, kamu. Masuk, yuk,” ajak Rina.

“Duh, mama. Ini kan rumah Kinan, Kinan dong yang harus ngajak mama masuk, kebalik ih,” canda Kinan sambil merangkul bahu Rina.

“Sembarangan, rumah orang tuamu loh ini,” balas Rina sambil mencubit pelan lengan keponakan kesayangannya ini. Mendengar itu, Kinan tertawa lepas.

Di ruang makan, sudah ada satu orang sepupunya, kedua saudara kandungnya dan juga kedua orang tuanya. Semuanya telah duduk di kursi masing-masing. Kinan menyalami Ryan, abang sepupunya yang usianya memang jauh diatas Kinan.

“Darimana, Nan? Jam segini baru pulang?” tanya Ryan.

“Habis dari lom---”

“Biasa, anak SMA kan hobi nongkrong-nongkrong dulu sebelum pulang ke rumah,” potong Andra, ayah Kinan.  Kinan menatap lama ayahnya yang kini sibuk menatap ponselnya. Kinan tersenyum masam.

“Baru pulang lomba, bang.” Andra langsung menatap Kinan tajam. Kinan menyadari itu, namun ia berusaha tidak peduli.

“Oh, ya? Lomba apa?” Ryan tampaknya sedikit tertarik dengan ucapan Kinan barusan. Bukannya Ryan tidak menyadari perubahan atmosfer di ruangan ini, hanya saja ia ingin memastikan apakah adik sepupunya itu berbohong atau tidak.

“Lomba tulis huruf .. Jepang, bang,” jawab Kinan ragu. Ia sedikit tertunduk. Takut melihat ekspresi ayahnya saat ini.

Hening. Tak ada lagi yang berbicara. Bahkan terdengar sangat jelas helaan napas Andra.

“Waw, pinter ya, kamu. Bisa bahasa Jepang, dong?” Tanya Ryan lagi. Sedikit banyak ia mulai mengerti mengapa atmosfer di ruangan ini berbeda.

Pandangan Kinan terangkat. Ia menatap Ryan.

“Baru dasar-dasarnya aja sih, bang. Kinan juga baru mulai belajar. Siapa tau ke depannya Kinan bisa,” ucapku.

“Sudah, mari makan,” Andra memotong perkataan Kinan untuk kedua kalinya.

Lagi-lagi Kinan hanya tersenyum masam. Ia mengalihkan pandangannya pada Dila, bundanya, yang saat ini memberinya senyum hangat nan menenangkan.

“Terima kasih, bunda,” Kinan berucap dalam hati. Sepertinya bunda memang tempat untuk berpulang yang paling tepat.

***

Tiga bulan berlalu. Hubungan Kinan dan ayahnya kini sedikit canggung. Sebenarnya, Kinan biasa-biasa saja. Tapi entah kenapa, sepertinya Andra menghindari Kinan.

Kini Kinan duduk termenung di balkon kamarnya. Pandangannya kosong ke depan. Tak terasa, air matanya menetes. Mungkin terkesan berlebihan. Tapi, sungguh menyakitkan rasanya ketika impian kita direndahkan orang lain, terlebih lagi oleh ayah sendiri.

Pintu kamarnya diketuk. Alfi, abang kandung Kinan masuk ke kamar Kinan dan ikut duduk tepat disebelah Kinan. Alfi paham, bagaimana perasaan adiknya saat ini.

Dulu, ia sempat seperti Kinan. Impiannya menjadi arsitek ditentang keras oleh Andra. Saat itu, Andra menginginkan Alfi menjadi Polisi atau TNI. Namun, saat itu Alfi masih mampu meyakinkan Andra. Entah kenapa, kini Andra lebih keras kepala dibandingkan dulu.

Saat ini, Andra menuntut Kinan untuk menjadi seorang Psikiater atau Dokter Gigi. Sedangkan Kinan sendiri lebih tertarik untuk mempelajari berbagai macam bahasa. Bahkan Kinan juga sudah punya rencana untuk masuk kuliah jurusan Hubungan Internasional. Tentu saja rencananya itu ditentang habis-habisan oleh Andra.

Andra yang masih keras kepala menginginkan Kinan menjadi Psikiater atau Dokter Gigi dan Kinan yang juga masih bersikeras menolak keinginan ayahnya itu. Sejak itulah hubungan ayah dan putri tengahnya ini menjadi sedikit canggung.

“Kenapa melamun, hm?” tanya Alfi.

Kinan menoleh, sedikit melempar seulas senyuman pendek kepada abang sulungnya itu.

“Nggak apa-apa kok,” kilah Kinan lalu mengalihkan pandangannya pada bumantara yang tampak cerah malam ini.

Alfi mendengus kesal. Jawaban adiknya benar-benar jawaban khas cewek.

“Ih, kayak cewek aja jawabannya,” celetuk Alfi. Mendengar itu, Kinan memberengut kesal.

“Bodo amat.”

Hening.

“Kinan suka belajar bahasa asing?” tanya Alfi memecah keheningan yang tercipta diantara mereka berdua. Kinan tetap bergeming, namun matanya berkaca-kaca.

“Nggak ada yang salah kok dengan mimpi Kinan, malahan bagi abang mimpi Kinan keren,” Alfi tetap melanjutkan monolognya. “Kinan mau jadi Dubes, ya? Aduh, kalah dong abang.”

Masih tidak ada jawaban dari Kinan.

“Tapi, Kinan sendiri paham kan bagaimana kerasnya ayah? Ayah kayak gitu bukan berarti ayah nggak sayang Kinan, bahkan ayah sangaaat sayang sama Kinan. Ayah cuma ingin yang terbaik untuk Kinan,” Alfi ikut memandang lurus pada langit malam yang terbentang luas dihadapannya. “Abang nggak nyuruh Kinan ninggalin mimpi Kinan, bahkan sedetik pun nggak pernah terlintas dipikiran abang untuk matahin mimpi adik abang.”

Alfi melirik Kinan yang kini menahan isak tangisnya. Merengkuh Kinan dalam dekapannya, seolah memberi isyarat bahwa Alfi bisa dijadikan sebagai rumah kedua untuk adik perempuan satu-satunya itu.

“Walau Kinan punya impian sendiri, bukan berarti Kinan harus menentang ayah, bukan? Kinan harus buktikan pada ayah, Kinan mampu berdiri tegak diatas kedua kaki Kinan sendiri. Kinan harus buktikan pada ayah, bahwa mimpi Kinan itu bisa membuat Kinan bahagia,” tangis Kinan semakin menjadi-jadi mendengar penuturan abangnya. Sungguh, Kinan benar-benar butuh dorongan saat ini.

“Abang percaya Kinan?”

“Apa abang ada alasan untuk nggak percaya sama adik abang? Kinan sendiri yang tau jawabannya.”

Kinan kian mengeratkan pelukannya. Ia semakin bertekad dalam hati, ia harus membuat ayahnya ikut yakin dengan jalan yang akan ditempuhnya. Walau mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama, mengingat betapa keras kepalanya Andra.

“Kinan janji, Kinan bakalan berusaha lebih keras lagi supaya ayah percaya sama Kinan.”

“Nah, gitu baru adik abang. Masuk gih, dah malam. Abang juga mau tidur, udah ngantuk.”

Alfi menguraikan pelukan mereka lalu mengusap pucuk kepala adiknya itu. Lalu pergi meninggalkan Kinan yang saat ini masih betah duduk diluar.

Tidak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkannya. Hanya Kinan sendiri dan Tuhan yang tahu.

***

Dua tahun berselang. Kini Kinan duduk di bangku kelas tiga SMA. Beberapa bulan lagi ia akan lulus.

Tadi pagi, sensei-nya memberitahukan bahwa Kinan lolos seleksi tingkat Nasional lomba bahasa Jepang cabang speech. Kinan senang, teramat senang. Tapi disatu sisi, ia bingung bagaimana caranya memberitahukan kabar ini pada Andra. Bagi Kinan, ini adalah kabar membahagiakan sekaligus kesempatan terakhirnya untuk melanjutkan studinya di Jepang seperti yang diimpikannya.

Selama dua tahun belakangan, kemampuan berbahasa Jepang Kinan meningkat pesat. Ia sering menjadi perwakilan sekolah atau bahkan menjadi perwakilan kota. Tanpa ampun, Kinan memenangkan semua perlombaan yang diikutinya.

Andra tahu tentang ini, namun ia masih menutup mata. Kinan tidak menyerah. Bahkan setelah tahu ia lolos seleksi, tekadnya makin menggebu-gebu.

Bel pulang sekolah berbunyi nyaring memenuhi seantero sekolah. Kinan bergegas membereskan peralatan tulisnya dan langsung keluar dari kelas. Untungnya pada jam pelajaran terakhir, gurunya tidak masuk.

Sesampainya di gerbang, Kinan kaget saat melihat mobil Andra terparkir tak jauh dari tempat ia berdiri. Langsung saja Kinan bergegas menuju mobil dan masuk kedalam mobil Andra yang tampaknya juga menanti kehadirannya.

Assalamu’alaikum, ayah.”

Wa’alaikumussalam. Kita langsung pulang, ya. Ada yang mau ayah bicarakan,” ucap Andra.

“Oke.”

***

Kinan terpaku di tempat duduknya. Pandangannya kosong menatap amplop yang berisikan surat kelulusannya di salah satu Universitas yang ada di Singapura. Fakultas Kedokteran.

Apa ini? Ia tidak merasa pernah mendaftarkan namanya di sana. Bahkan baru kali ini ia mendengar nama Universitas itu. Padahal kelulusannya tinggal empat bulan lagi. Masih ada seleksi nasional dan seleksi bersama masuk perguruan tinggi yang belum dilaluinya. Tapi sekarang statusnya telah berganti menjadi calon mahasiswa baru.

Bagaimana bisa? Apa ini kerjaannya Andra? Kenapa? Bahkan Andra tidak menanyakan pendapat Kinan terlebih dulu. Daripada itu, darimana Andra mendapatkan rangkap nilai Kinan? Dan kenapa ia bisa lolos? Apa nilainya setinggi itu?

Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk dipikiran Kinan. Terlalu banyak sampai rasanya kepalanya ingin pecah saat ini juga. Ia benar-benar tidak tahu menahu mengenai ini.

“Kenapa, yah?” tanya Kinan bergetar.

Bunda menatap iba putri tengahnya itu. Hari ini, mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Fadil, adik bungsunya yang masih duduk di bangku kelas tiga SMP juga ada. Harusnya pada jam segini, bocah tanggung itu ada jadwal les tambahan.

“Kok kamu malah nanya kenapa?” Andra balik bertanya. Sepertinya ayah tiga orang anak itu betul-betul tidak menyadari perubahan nada suara putrinya.

Sesak. Pedih. Sakit. Semuanya kini campur aduk terasa di dada Kinan. Apa sampai akhir ayahnya tetap memaksakan kehendaknya? Apa tidak ada secercah harapan bagi Kinan untuk mewujudkan impiannya? Apa ini adalah hal yang seharusnya membahagiakan untuknya? Tapi kenapa hal ini justru terasa sangat menyakitkan baginya? Bahkan dadanya terasa sangat sesak saat ia menghembuskan nafas.

“Ayah yang mendaftarkan Kinan?” Sebulir air mata lolos keluar dari kelopak mata Kinan saat ia melihat Andra mengangguk mengiyakan pertanyaannya. “Ayah betul-betul nggak ngasih Kinan kesempatan untuk membuktikan pada ayah kalau Kinan sendiri mampu menggapai mimpi Kinan?”

Tangis Kinan makin kencang. Begitu pilu dan menyayat hati bila mendengarnya. Bahkan Dila sendiri tak kuasa melihat putrinya yang tidak berdaya saat ini. Dila memeluk Kinan erat. Seolah ingin mengambil sedikit rasa perih yang menggerogoti perasaan putrinya.

“Kenapa ayah sampai seperti ini?” Sudah cukup Kinan diam selama ini. Ia tidak berniat melawan Andra. Tapi, ia juga tak ingin kehilangan impiannya.

Sebenarnya, Andra juga tidak tega melihat keadaan putrinya saat ini. Tapi apa boleh buat, ini demi masa depan Kinan.

“Ayah lakukan ini semua demi Kinan, putri ayah. Ayah ingin Kinan menjadi orang sukses dan berguna kedepannya.”

Kinan terdiam sesat. Mencerna satu persatu perkataan Andra.

“Apa ayah nggak lihat perjuangan Kinan selama ini? Apa bagi ayah impian Kinan itu hanya sekedar angin lalu? Apa ayah nggak bisa percaya sama Kinan?”

Perasaan Kinan meluap-luap. Ia ingin mengeluarkan semua emosinya saat ini.

“Kinan udah berusaha buktiin ke ayah, Kinan mampu yah. Kinan bisa berdiri di kaki Kinan sendiri. Kinan belajar mati-matian siang malam, ayah. Tapi kenapa ayah nggak bisa melihat itu? Kinan serius dengan impian Kinan ayah. Kinan juga ingin berusaha sendiri,” Andra terdiam melihat emosi putrinya yang meluap-luap.

“Dari Kinan kecil sampai sekarang, Kinan selalu dengerin omongan ayah. Kinan selalu jadi apa yang ayah inginkan. Kinan selalu jadi putri ayah yang penurut, nggak pernah ngebantah. Tapi cukup, yah. Kinan capek. Kinan capek berjalan dibawah bayang-bayang ayah.”

Kinan putus asa. Ia tak ingin menjadi dokter atau apapun yang berhubungan dengan dunia medis. Kinan hanya minta pengertian Andra kali ini. Ia ingin sukses tanpa perlu menyusahkan keluarganya.

“Kalau menurut ayah, menjadi Dokter adalah kesuksesan bagi Kinan,” Kinan menjeda ucapannya. Menatap Andra dengan sorot matanya yang layu. “Apa ayah bisa menjamin kebahagiaan Kinan dengan itu?”

Andra tergugu. Tak mampu menjawab pertanyaan sederhana dari Kinan. Semua yang ia lakukan selama ini, semata-mata untuk putrinya. Niatnya tulus ingin melihat Kinan sukses.

Andra rela mengeluarkan banyak uang hanya demi melihat anaknya menjadi seorang Dokter ataupun Psikiater. Andra tahu, sangat tahu bahwa putrinya itu begitu mencintai bahasa asing. Dari kecil ia sudah memperhatikan Kinan yang begitu tertarik dengan bahasa Inggris lalu sekarang mulai mendalami bahasa Jepang. Hanya saja, egonya lebih tinggi. Ia ingin putrinya itu masuk ke dunia medis.

Andra melirik Kinan yang saat ini tengah mengeluarkan amplop dari tas sekolahnya. Ia meletakkan amplop tersebut diatas meja, tepat disebelah amplop yang berisi surat kelulusan Kinan.

“Kinan lolos lomba speech tingkat Nasional.”

Hening. Semua yang diruangan membisu mendengar hal itu. Sebelumnya Kinan telah menceritakan tentang lomba itu. Lomba bergengsi yang akan memberikan sang juara utama hadiah berupa beasiswa full, sebagai bentuk apresiasi kerjasama antara Indonesia dan Jepang yang selama ini telah terjalin dengan baik.

“Lombanya dua minggu lagi, di Jakarta. Kinan mohon sama ayah, untuk terakhir kalinya kesempatan ada di tangan Kinan untuk membuktikkan pada ayah. Kinan mampu yah, Kinan nggak main-main dengan impian Kinan.”

Alfi tersenyum bangga melihat keberanian adiknya ini. Ah, adik kecilnya ini sekarang sudah dewasa rupanya.

“Kalau Kinan kalah, Kinan bakalan ngikutin semua rencana ayah,” Kinan menatap Andra dalam. “Tapi, kalau Kinan menang, gantian ayah yang harus percaya sama semua rencana Kinan.”

Andra tersenyum simpul. Putri kecilnya ini benar-benar keras kepala.

“Oke, siapa takut.”

Kinan kaget. Tak menyangka Andra semudah itu menyetujui idenya. Tapi ia juga bahagia, itu artinya Andra memberinya kesempatan. Kesempatan terakhir yang harus berjalan sesuai dengan rencananya.

 “Kinan ke kamar duluan, capek.”

Kinan berlalu menuju kamarnya meninggalkan ayah, bunda, abang serta adiknya yang masih terdiam di posisi masing-masing.

“Ayah lihat, kan? Kinan bukan anak kecil lagi, yah. Kali ini tolong percaya sama semua rencana Kinan. Toh ayah juga yang akan bangga nantinya setelah ayah melihat sendiri gimana Kinan dengan dunianya yang sekarang.”

Andra terdiam. Sedikit banyak ia merasa menyesal sudah terlalu ikut campur dalam rencana masa depan anaknya. Harusnya ia mengamati dan memberi solusi, bukannya malah memaksakan kehendaknya yang akan membuat putrinya hancur.

***

Hari yang dinanti-nanti tiba. Kinan telah selesai dengan pidatonya. Ia ke Jakarta hanya bersama dua orang guru bahasa Jepangnya.

Kini waktu menunjukkan pukul empat sore. Satu jam lagi akan diumumkan siapa orang beruntung yang akan menerima beasiswa itu. Kinan harap cemas saat ini. Inilah peluang terakhir yang ia miliki.

Kini, Kinan dan kedua orang senseinya duduk di bangku tamu yang telah disediakan oleh panitia lomba.

“Deg-degan, ya?” Eci, pembina ekskul Bahasa Jepang di SMA Kinan menyerahkan sebotol air mineral pada Kinan.

Arigatou gozaimasu, sensei.” Kinan mengambil air tersebut dan meminumnya hingga separuh botol.

Sensei yakin, Kinan pasti menang,” Kinan menoleh menatap pembina ekskulnya itu.

“Banyak yang lebih dari Kinan, sensei. Kecil kemungkinannya, apalagi tema pidato Kinan sudah terlalu sering didengar khalayak umum.”

“Mungkin memang banyak yang lebih pintar dari Kinan, tapi yang bisa berpidato seperti Kinan tadi ya hanya Kinan sendiri,” Eci tersenyum kecil melihat ekspresi bingung anak didiknya ini. “Sudah, kita lihat saja nanti.”

Lima belas menit lagi menuju pengumuman juara. Jantung Kinan makin berdetak tak karuan, suhu badannya sedikit panas. Padahal, kini ia berada diruangan yang dipenuhi oleh AC.

“Hoi.”

Seseorang menepuk pundak Kinan dari belakang hingga Kinan terlonjak kaget dibuatnya. Kinan menoleh, lalu ekspresi wajahnya langsung berubah senang saat melihat siapa yang menepuk pundaknya barusan.

“Abang? Kok bisa sampai kesini?”

“Terbang tadi pagi pakai pesawat,” jawab Alfi enteng.

“Dih,” Kinan celingak-celinguk melihat kebelakang punggung Alfi bermaksud mencari anggota keluarganya yang lain.

“Ayah, bunda, sama Fadil mana, bang?”

“Oh itu, ke WC bentar katanya tadi.”

Kinan mengangguk mengerti lalu memperkenalkan Alfi kepada senseinya.

“Nah itu ayah sama bunda,” tunjuk Alfi sambil melihat ke arah pintu masuk.

“Aduh anak bunda, kangen nih,” ucap Dila sambil mencium kedua pipi Kinan.

“Iih bunda, baru juga tiga hari udah rindu aja. Gimana nanti kalau Kinan ke Jepang coba?”

Semua orang tertawa mendengar celotehan gadis berusia 17 tahun ini.

Dari arah panggung, terdengar dengungan mic. Sudah terlihat juga kedua pembawa acara yang tampaknya telah siap untuk menyorakkan siapa juara utamanya pada perlombaan ini.

Benar saja, setelah beberapa patah kata dari petinggi-petinggi acara, tibalah saatnya pengumuman juara. Kinan tak lagi fokus pada sekelilingnya. Kini seluruh panca indranya berpusat di telinga.

“Juara 3 diraih oleh,” MC menggantung kalimatnya. Jantung Kinan ingin meledak rasanya.

“Vicola Syahputra dari SMA Negeri x Surabaya.”

Kinan sedikit bernafas lega namun sedetik kemudian jantungnya kembali berdetak cepat.

“Juara 2 diraih oleh Bima dari SMA y Pontianak.”

Riuh tepuk tangan memenuhi ruangan. Tapi Kinan tidak peduli. Hanya ada satu slot juara lagi yang kosong.

Astaga, ia benar-benar panik. Jantungnya bahkan berdetak lebih cepat dibanding tadi, suhu badannya kian naik.

“Baiklah, mari kita sambut sang juara utama yang jatuh kepada,” lagi-lagi MC menggantung kalimatnya seolah tidak peduli dengan para peserta yang menunggu dengan harap cemas.

“Selamat kepada Kinandra Valeshy dari SMA z Padang sebagai juara satu lomba nihon go no supiichi. Kepada nama yang terpanggil harap maju ke panggung.”

Kinan mematung, jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia masih tidak percaya dengan indra pendengarannya. Ia menoleh menatap Andra yang kini juga sedang melihatnya dengan tatapan haru sekaligus bahagia. Kinan sontak berdiri dan langsung memeluk tubuh Andra. Air matanya keluar. Ini air mata kebahagiaan yang selama ini didambakannya.

“Kinan berhasil, ayah. Kinan menang.”

Andra memeluk erat serta mencium pucuk kepala Kinan. Sejujurnya, ia datang sejak pagi tadi bersama Dila, Alfi, dan juga Fadil.  Hanya saja ia bersembunyi dari Kinan. Ia betul-betul bangga dengan putrinya ini. Apalagi setelah ia melihat dan mendengar isi pidato Kinan yang menceritakan tentang Andra. Yap, Kinan berpidato dengan tema Ayah menggunakan bahasa Jepang.

“Maju gih, gadis pintar ayah.”

Kinan menguraikan pelukan lalu berjalan menuju panggung dan mengambil piala serta tiket beasiswa yang berhasil ia dapatkan.

Dari atas Kinan bisa melihat jelas ekspresi bahagia keluarga serta senseinya yang terpampang dengan jelas. Pundak Kinan terasa ringan. Satu permasalahan terberatnya kini telah mengudara. Tak ada lagi yang perlu ia cemaskan.

Kinan hanya menunggu waktu keberangkatannya menuju Negeri Sakura. Tempat dimana ia akan menuntut pengetahuan lebih dalam lagi dan menjadi orang yang berguna bagi keluarga, nusa, dan bangsa.

(Cawan WP: Jelita Maharani)

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai

foto thumbnail
  • 15 June 2021
Angan Belaka
2012-10-23 11:03:30
  • 15 June 2021
Tempat Terakhir
foto thumbnail
  • 06 June 2021
Zaana