Tuesday, June 22, 2021

Wabah dan Bintang Jatuh Terakhir



Suatu malam, seorang wanita tersentak bangun tidur dan mendapati dadanya sesak. Hidungnya berair dan batuk-batuk selama tiga jam sebelum kemudian menelepon rumah sakit. Petugas tiba dua puluh menit setelah itu. Petugas itu berjumlah tiga orang. Mereka membawanya ke rumah sakit. Dan ia ditempatkan di ruang isolasi untuk mencegah penularan penyakit.

Wanita itu tak tahu bagaimana ia tertular wabah yang sedang melanda kawasan tempat tinggalnya padahal ia telah menjalankan segala yang dianjurkan oleh pemerintah setempat. Ia bekerja dari rumah, menghindari kerumunan, hanya keluar untuk membeli bahan makanan, rajin mencuci tangan, rajin memakai masker pada saat diluar rumah dan selalu menggunakan hand sanitizer di tangannya seusai memegang sesuatu di luar rumah.

Ia mencoba mengingat-ingat riwayat aktivitasnya. Terakhir kali ia keluar rumah untuk pergi ke warung sembako, satu setengah kilometer dari rumahnya, dua hari lalu. Di sana, ia membeli beras, minyak goreng, telur, dan mie instan. Warung sembako itu tidak begitu ramai. Ada dua pembeli selain dirinya. Satu diantaranya tidak mengenakan masker. Ia sengaja menjaga jarak dengan dua orang itu. Ketika antre membayar, salah satu di antara dua orang itu berdiri di belakangnya dan batuk-batuk. Sesampai di rumah, ia buru-buru ganti pakaian, lantas mandi sebersih-bersihnya. Ia bahkan menyabun tubuhnya dua kali.

Dalam masa-masa pengurungan diri di dalam rumah itu, kadang-kadang tangannya terlihat kisut dan pucat akibat terlampau sering dicuci. Suatu kali, dalam tidurnya, ia bermimpi tubuhnya menjadi hijau seperti batu kali yang dilapisi lumut. Ia terbangun dengan napas tersengal. Mengerikan sekali menjadi lumutan akibat terlalu sering terkena air. Namun, sekarang ketika dokter memastikan bahwa ia positif terpapar wabah, ia berpikir bahwa menjadi lumutan seperti batu kali jauh lebih baik.

Mimpi buruk semakin sering datang setelah ia berada di ruang isolasi rumah sakit itu. Awalnya, mimpi itu hanya singgah ketika ia tertidur, seperti mimpi pada umumnya. Dalam mimpinya, ia melihat tubuhnya yang kaku dibungkus plastik, seperti seonggok sayur. Lantas, sejumlah orang menggotongnya, meletakkannya dalam peti. Mereka membawanya ke pemakaman. Tak ada pelayat yang datang. Hanya sejumlah petugas itu saja. Dan tak satu pun dari petugas itu yang menangis atau terlihat bersedih. Mereka menggali kuburnya dengan cepat, lantas meninggalkannya begitu saja. Tanpa doa. Tanpa taburan kembang. Alangkah mengerikannya mati tanpa iringan kesedihan dari pelayat.

Sejak mimpi-mimpi semacam itu datang, ia jadi takut tidur. Kadang-kadang ia tidak tidur sehari semalam. Kurang tidur menyebabkan tubuhnya kian lemah. Dokter berkali-kali bilang bahwa ia harus tidur. Namun, pikirnya, dokter itu tidak tahu apa yang dilihatnya dalam tidur.

Sekalipun begitu, kadang-kadang ia jatuh tertidur juga tanpa kehendaknya. Dan beberapa menit setelah matanya ditutup, mimpi itu datang lagi. Semakin lama semakin jelas dan mengerikan. Ia melihat dirinya di dalam kubur, terbungkus plastik, perlahan meleleh. Ia merasa pengap sehingga napasnya bertambah sesak. Ia merasa bahwa ia benar-benar berada di dalam kubur dengan plastik membungkus tubuhnya.

Pada akhirnya, ia benar-benar memutuskan untuk tak lagi tertidur. Ia berusaha keras. Hari itu sudah empat puluh tiga jam ia terjaga. Dan mimpi itu datang lagi, meski ia yakin dirinya tidak tertidur. Dalam mimpi buruk kali itu, ia melihat malaikat maut terbang di ubun-ubunnya. Malaikat itu besar, berwarna hitam,badannya tinggi kokoh dan bersayap seperti gagak, lengkap dengan benda seperti kapak raksasa yang terlihat amat tajam. Malaikat itu membawa tali tambang besar di tangan kanannya. Tali tambang untuk menjerat jiwa yang meronta, pikirnya. Malaikat itu kemudian berkata bahwa wanita itu akan mati selepas malam hari itu.

Wanita itu berteriak, berusaha mengusir si malaikat maut. Dua orang perawat datang. Si wanita agak tenang.

”Jam berapa sekarang?” tanyanya.

”Jam setengah sepuluh,” kata salah satu perawat.

”Ah, sebentar lagi,” dengusnya. Napasnya terasa semakin berat saja. Paru-parunya panas dan hendak meletus. Ia merinding. Ia berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang barusan terjadi kepadanya hanyalah halusinasi dari orang yang tengah sakit. Bukankah orang yang demam memang suka melihat hal-hal yang sebetulnya tidak ada? Namun, jauh di kedalaman hatinya, ia tahu, ia sulit bertahan. Ia terlampau payah dan terlalu cemas.

”Bisakah saya meminta tolong supaya Anda membawa saya keluar sebentar saja?” ujar si wanita dengan susah payah. “Saya ingin melihat langit malam. Siapa tahu, ini adalah bintang jatuh terakhir yang bisa saya nikmati,” tambahnya.

Dua orang perawat itu ragu-ragu. Mereka menghubungi dokter. Dan dokter, yang sepertinya lebih mengerti kondisinya, memberi izin kepada para perawat itu untuk membawanya keluar. Mereka kemudian mendorong kursi roda yang ia tempati ke halaman belakang rumah sakit yang dilapisi rumput jepang tipis. Kepalanya menghadap ke langit yang terlihat sangat indah malam itu. Ada bintang jatuh. Ia mengucapkan harapannya dalam hati sambil menghela napas besar. Lantas batuk-batuk. Udara tak pernah semenyakitkan ini sebelumnya, pikirnya. Namun, bintang jatuh malam  itu, oh, juga tak pernah seberarti kali ini.

Wanita itu tak ingin berkedip. Ia tak ingin melewatkan sedetik pun tanpa menyaksikan jatuhnya bintang kala itu, hatinya terasa sangat teduh. Alangkah cepatnya waktu berjalan. Bintang itu pun tak tampak lagi seakan turun tergesa seperti enggan menampakkan dirinya.

Hari hampir saja tengah malam, lampu di sekitar tampaknya hampir padam. Ia bergidik. Ia belum siap. Ia masih ingin menikmati langit dengan kerlip bintang malam itu. Ia memejamkan mata, sedetik saja, berharap waktu berhenti. Matanya basah. Dan tiba-tiba waktu berhenti, seperti yang ia mau. Sepasang perawat yang berdiri di samping kanan-kirinya berhenti bergerak.

Dengan susah payah, ia menoleh ke kanan ke kiri. Ada perawat mendorong kursi roda yang membawa seorang lelaki dengan alat bantu pernapasan yang juga berhenti tak jauh darinya. Ada seorang dokter yang berhenti dengan kaki kanan berada beberapa sentimeter dari permukaan lantai. Ada keluarga pasien yang tengah menangis dan air matanya menggantung di pipi. Di sudut sana, seorang perawat tengah menyuapkan roti ke mulutnya. Mulutnya tetap terbuka dengan sepotong roti terhenti tepat di depan mulut itu.

Waktu benar-benar berhenti. Dan hanya dirinya sendiri yang mampu bergerak. Ia kalis dari waktu. Lantas, kilasan-kilasan peristiwa berhamburan di benaknya. Seorang ibu yang tengah melahirkan dan mengerang-ngerang kesakitan, terhenti. Sepasang suami istri yang menangis akan kehilangan putra mereka juga terhenti. Seorang ibu yang hendak memeluk anaknya terhenti. Seorang lelaki lapar yang hampir saja berhasil mendapatkan makanan yang diinginkan terhenti. Seluruh kehidupan, selain kehidupan wanita itu, terhenti. Wanita itu merasa menjadi satu-satunya makhluk hidup di dunia. Bila bintang itu mampu bertahan untuk tidak jatuh, bila langit malam itu tak memeteskan hujan, maka itu berarti ia akan tetap hidup. Wanita itu merasa sedikit tenang. Namun, sesak di dadanya juga bertahan. Wanita itu meringis. Bila waktu terus berhenti, maka itu berarti ia akan terus hidup dan kesakitan di dadanya juga akan terus ada. Siksa dan derita yang mesti ia tanggung akan berlangsung selamanya. Seperti berada di neraka.

Ia tiba-tiba merasa merana. Bagaimana rasanya terus hidup namun segala sesuatu di luarnya terhenti, beku, diam, tak mampu melakukan apa pun? Bagaimana rasanya terus hidup dengan menanggung bara panas di dada selamanya?

Wanita itu kemudian sampai pada sebuah kesimpulan bahwa kehidupan harus terus berjalan. Barangkali hidupnya yang hanya berhenti, namun hidup banyak orang lain, kehidupan di dunia ini, semestinya terus berjalan. Dan lebih dari itu, penderitaan yang ia tanggung memang seharusnya segera berakhir. Ia memejamkan mata sekali lagi, berharap waktu kembali seperti semula. Dan seperti yang ia pinta, ketika kembali membuka mata, waktu berjalan sesuai kodratnya.

Langit tampak meneteskan air seakan lantas bersedih. Kedua perawat itu kembali bergerak. Mereka mendorong kursi roda itu kembali ke kamar isolasi. Napas wanita itu kian susah. Dadanya kian sesak. Bara menyala kian besar. Wanita itu tahu, ia tak akan pernah melihat bintang jatuh lagi. Bahkan, ia tak akan sempat melihat ruang isolasinya sekali lagi. Ia mencoba tersenyum.

(Cawan WP: Siti Fatimah Azzahrah)

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai

foto thumbnail
  • 15 June 2021
Angan Belaka
2012-10-23 11:03:30
  • 15 June 2021
Tempat Terakhir
foto thumbnail
  • 06 June 2021
Zaana