Tuesday, June 22, 2021
Pemanfaatan Ekstrak Tanaman Mangrove Sebagai Anti Bakteri Pada Budidaya Udang Windu

Pemanfaatan Ekstrak Tanaman Mangrove Sebagai Anti Bakteri Pada Budidaya Udang Windu



Udang adalah hewan kecil invertebrata yang tempat hidupnya di perairan air tawar, air payau dan air asin. Udang Windu (Penaeus monodon) merupakan salah satu komoditas unggulan budidaya di Indonesia yang memiliki nilai ekspor tinggi dan penghasil devisa negara terbesar pada produk perikanan Produksi perikanan budidaya komoditas udang selama lima tahun terakhir memiliki kecenderungan yang terus naik.

Hal ini disebabkan karena banyaknya permintaan terhadap udang windu terutama berasal dari negara Jepang. Udang windu banyak diminati karena memiliki kandungan gizi yang tinggi yaitu sebanyak 18,35% protein 5,75% karbohidrat 0,86% lemak (Verdian, et al., 2019). Disamping kadar proteinnya yang tinggi, udang juga mempunyai kandungan asam amino yang lengkap baik asam amino essensial maupun non essensial. Komposisi kimia dari jenis udang sangat penting sebab sangat memenuhi kebutuhan gizi manusia seperti kandungan protein, vitamin dan mineral lainnya.

Saat ini udang windu banyak dibudidayakan oleh petani-petani budidaya udang di Indonesia Namun pada kenyataannya para petani budidaya selalu mendapat masalah dan tantangan yang menyebabkan penurunan kualitas hasil panen terutama pada tambak udang tradisional Masalah tersebut timbul karena adanya bakteri pathogen yang menyerang tambak udang Bakteri pathogen adalah bakteri yang dapat menyebabkan penyakit. Biasanya bakteri pathogen yang mengkontaminasi tambak udang berasal dari genus Vibrio sp. Bakteri Vibrio sp. dapat mematikan populasi udang dalam tempo 1-3 hari sejak gejala awal. Bagi pembudidaya tambak udang Vibrio sp., adalah hama yang harus dimusnahkan agar tidak terjadi lagi penurunan hasil panen udang berikutnya. Selama ini pengendalian hama pada tambak udang hanya dilakukan dengan cara menggunakan antibiotik.

Namun di sisi lain pemakaian antibiotik secara terus menerus dan penggunaan dosis yang tidak terkontrol akan mengakibatkan bakteri menjadi resistan serta membahayakan kesehatan bagi konsumen yang mengonsumsi udang tersebut Tidak hanya itu, di negara-negara pengimpor udang juga menolak udang dari Indonesia yang menggunakan antibiotik selama proses budidayanya. Seperti kasus penolakan negara Jepang terhadap ekspor udang dari Cilacap yang dilaporkan pada bulan Oktober 2012 lalu karena diduga mengandung antibiotik (Anugrah, 2012).

Penggunaan anti bakteri alami bisa menjadi salah satu alternatif pengganti penggunaan antibiotik Anti Bakteri merupakan senyawa yang digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan bakteri yang bersifat merugikan. Anti Bakteri dibuat dari salah satu tanaman mangrove yaitu jenis Avicennia marina. Mangrove merupakan tumbuhan hutan tropis yang mudah tumbuh di wilayah pesisir pantai.

Mangrove hidup dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove memiliki komponen bioaktif yang mampu berperan sebagai anti virus anti bakteri dan anti jamur, namun Avicennia marina belum banyak dimanfaatkan subtansi bioaktifnya Terobosan inovasi dalam teknologi penanggulangan jenis bakteri ini perlu segera dikembangkan salah satu alternatif teknologi adalah dengan pemanfaatan ekstrak Avicennia marina sebagai anti bakteri penyakit yang disebabkan oleh bakteri pathogen Avicennia marina menunjukkan respons antimikroba karena adanya fotokonstituen seperti alkaloid minyak atsiri asam fenolik, flavonoid, kuinin, tannin, terpenoid dan lain-lain (Ravikumar et al., 2010 dan Edeoga, Okwu, &; Mbaebie, 2005).

(Prabhu & Guruvayoorappan 2012) melaporkan ekstrak dari tumbuhan mangrove dan asosiasinya telah digunakan luas untuk tujuan medis, dan telah tercatat sekitar 349 metabolit merupakan turunan dari steroid diterpen triterpen saponin flavonoid alkaloid dan tannin.

Berdasarkan hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa anti bakteri yang berasal dari ekstrak tanaman Avicennia marina mampu menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio sp dengan dibuktikannya terdapat zona hambat di sekitar kertas cakram Diameter zona hambat pada konsentrasi 1800 ppm antara lain 8.940 mm pada Vibrio alginolyticus dan 8.771 mm pada Vibrio parahaemolyticus. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sensitivitas Vibrio alginolyticus dan Vibrio parahaemolyticus terhadap ekstrak daun mangrove Avicennia marina lemah (Randriamamisoa 2018).

Mekanisme penghambatan terhadap pertumbuhan bakteri oleh senyawa anti bakteri dapat berupa perusakan dinding sel dengan cara menghambat pembentukannya atau mengubahnya setelah selesai terbentuk perubahan membrane sitoplasma sehingga menyebabkan keluarnya bahan inti dari dalam sel, perubahan molekul protein dan asam nukleat, penghambatan kerja enzim, dan penghambatan sintesis asam nukleat dan protein (WHO, 2014). Substansi anti bakteri dapat bekerja secara bakteriostatik bakteriosidal dan bakteriolitik berdasarkan sifat toksisitas selektifnya (Parekh  &;  Chanda, 2007).

Pengendalian hama pada tambak udang yang biasanya menggunakan antibiotik sekarang dapat digantikan dengan penggunaan anti bakteri dari ekstrak daun Avicennia marina karena telah diuji bahwa ekstrak daun Avicennia marina mengandung senyawa terpenoid steroid flavonol dan glukosida yang dapat menyebabkan penurunan aktivitas bakteri pathogen pada tambak udang Dengan begitu masalah yang terjadi pada pembudidaya udang dapat diminimalisir sehingga ekspor udang di Indonesia akan kembali diterima oleh Negara luar dan ekonomi masyarakat juga akan kembali.


Sindy Gemaeka Putri, mahasiswa pasca sarjana Biologi (S2) FMIPA Universitas Andalas Padang

(c) Hak cipta WawasanProklamator.com. Jika mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai