Tuesday, June 22, 2021
Menulis Sarana Penjernihan Pikiran dalam Pemanfaatan Waktu Luang

Menulis Sarana Penjernihan Pikiran dalam Pemanfaatan Waktu Luang



WAWASAN PROKLAMATOR,- Di era modrenisasi ini, menulis sudah kita lakukan setiap hari tanpa kita sadari di jejaring sosial seperti facebook, twitter, whatsaap, dan sebagainya setidaknya satu kalimat per hari. Kenapa tidak menulis dengan kreatif dan terkonsep? Kita malah senang menulis hal-hal yang tidak penting dari pada hal-hal yang penting yang ada disekitar kita. Sebagian orang berasumsi menulis merupakan aktivitas yang menyenangkan, dan sebagian orang juga menggangapnya menulis suatu aktivitas yang membosankan bahkan tidak ada gunanya. Mengapa demikian, terpulang ke diri masing-masing untuk apa menulis, terpaksa ataukah hobbie?

Menulis salah satu kegiatan penting yang dapat memberikan pengetahuan serta pengalaman bagi pembaca bahkan penulis itu sendiri. Seseorang yang pandai/lihai dalam menulis sudah dipastikan menguasai 4 (empat) keterampilan berbahasa dari menyimak, berbicara, membaca, dan yang pastinya menulis. Karena menulis berhubungan dengan 3 (tiga) aspek kebahasaan lainnya. Maka dapat dikatakan menulis merupakan aktivitas yang kompleks. Seseorang tidak dapat menulis jika tidak pernah menyimak, berbicara, dan membaca. Seseorang pandai atau lihai dalam menulis, maka pandai atau lihai pulalah keterampilan menyimaknya, berbicaranya, bahkan membacanya.

Kegiatan menulis merupakan kegiatan bagi orang-orang yang kreatif dalam berkreativitas. Kreatif mencari ide, kreatif berinovasi, serta kreatif membahasakannya itulah penulis sejatinya. Menulis juga dapat dikatakan sebagai sarana penyampaian pesan selain berbicara. Menulis dan berbicara merupakan 2 (dua) hal yang sama, diibaratkan dengan 2 (dua) sisi mata koin yang tidak dapat dipisahkan dan sama-sama  merupakan aktivitas bersuara, namun beda pengalikasiannya. Jika berbicara dikatakan sebagai bersuara dalam keramaian, berbeda pula dengan menulis yang bersuara dalam kesunyian. Menulis tidak perlu lawan menulis, berbeda dengan berbicara yang membutuhkan lawan tutur untuk menyampaikan ide secara verbal. Menulis hanya butuh ketenangan dan dalam kesendirian menulis dapat dilakukan, oleh karena itu menulis dikatakan bersuara dalam kesunyian. Sebuah kesunyian akan menjadi bernilai, jika kita dapat memanfaatkan kesunyian tersebut dengan aktivitas-aktivitas yang bernilai. Bersuara dalam kesunyian tidak harus berteriak-teriak dalam kesendirian, akan tetapi bersuara dengan menggunakan media, yaitu perangkat komputer atau secarik kertas putih untuk menyuarakan isi hati atau pikiran yang berlalu maupun yang akan datang.

Bagi seorang penulis pemula memang tak mudah untuk menuangkan ide kedalam bentuk tulisan, namun dengan adanya keinginan disitu pasti ada jalan. Karena minat yang kuat akan berpotensi menghasilkan sebuah karya tanpa adanya bakat telebih dahulu. Sesulit apapun itu, bakat akan muncul dengan adanya minat yang kuat. Bakat yang mumpuni dilandasi minat yang kuat dan mau berusaha. Terlebih bakat dalam menulis, sering menulis akan menjadikan seseorang mahir dalam menulis dan bahkan akan menjadikan kebiasaan yang baik jika dilakukan secara berkelanjutan secara terus-menerus secara sistematis.

Dengan menulis orang memandang kita dengan sosok yang berbeda namun positif. Hal itu dikarenakan menuangkan pikiran, ide, dan gagasan dalam sebuah tulisan merupakan hakikat dari menulis. Bersuara dalam kesunyian diibaratkan sebuah emas, diam-diam menghasilkan karya tanpa mengeluarkan suara yang bising dan menggangu orang lain. Dengan menulis pula terciptanya kebanggaan diri, mendapatkan keuntungan moral, meningkatkan status, kegiatan intelektual dan dengan tulisan orang dapat melihat pikiran kita..

Proses menulis membantu penulis berpikir kristis dan dapat meningkatkan daya intelektual penulis dalam mengambil sikap. Semakin banyak menulis, semakin banyak pembendaharaan kata yang dimiliki penulis dikarenakan penulis kreatif membahasakannya dengan gaya bahasa penulis itu sendiri. Penulis yang baik harus dapat mengerti apa yang ditulis oleh penulis itu sendiri, karena penulis akan mempengaruhi pembaca, bagaimana pembaca akan mengerti jika penulisnya tidak memahami maksud dan tujuan penulisan tersebut. Oleh karena itu dikatakan bahwa penulis yang baik dapat mengerti tulisan yang ditulis oleh penulis itu sendiri. Dalam artian penulis tau terlebih dahulu isi dan maksud tulisan sebelum di sebar dibaca oleh khalayak ramai. Agar tidak terjadi kesalah pahaman terhadap makasud dan tujuan awal penulis dan penafsiran dari pembaca.

Menulis bisa dikatakan sebagai sarana menjernihkan pikiran. Hal ini dikarenakan menuangkan apa yang tepikirkan menjadi sebuah tulisan diibaratkan merestart seperti pada perangkat lunak yang akan meringankan beban pada komputer, begitu pun dengan pikiran yang lebih canggih dari sepintas perangkat komputer. Pikiran dapat menggerakkan komputer, tapi komputer tidak dapat menggerakkan pikiran. Menulis dapat dilakukan sebagai alternatif dalam menjernihkan pikiran saat beban pikiran telah banyak memikirkan suatu permasalahan. Karena menyimpan masalah akan menjadikan pikiran menjadi beban yang akan menjadi berat. Sehingga emosional tidak akan terkontrol dengan semestinya. Orang bijak dapat mengontrol emosinya sesuai tempat dan waktu yang tepat. Oleh karena itu penulis yang bijak akan lihai atau mahir menempatkan emosi kedalam bentuk tulisan, baik emosi bahagia, sediah, marah, dan lain-lainnya.

Manusia yang benyawa tidak lepas dari yang namanya masalah, bahkan hidup saja sudah menjadi suatu masalah.Terlebih masalah berupa beban pikiran yang melanda seseorang. Pemikiran kacau bagaikan kapal pecah bahkan yang rumit seperti benang kusut. Selain berserah diri kepada-Nya, cara menjernihkan pikiran dengan menuliskan apa yang dirasakan, sehingga beban terasa ringan. Bukan hanya ringan, tapi beban bisa hilang ketika menuliskan beban tersebut kedalam bentuk tulisan. Karena menulisakan apa yang kita rasakan akan menjadikan kita dapat memahami diri kita sendiri, kita akan tau apa yang terjadi pada diri kita sendiri melalui tulisan yang kita buat. Dengan begitu kita dapat sekaligus mengevaluasi apa yang terjadi dalam diri kita, sehingga kita dapat mencari jalan keluar dari sebuah permasalahan yang terjadi dalam diri kita sendiri. Karena yang lebih tau tentang diri kita sendiri yaitu diri kita sendiri. Jika kita ingin merangkai kata-kata yang kita tulis, maka disitu pikiran dan perasaan kita sedang terhubung. Saat kata-kata terhubung menjadi sebuah kalimat hingga menjadi sebuah wacana, maka diri kita akan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita. Disitulah diibaratkan seperti orang bijak mendengarkan sebuah curahan hati penulis, maka hati akan secara tidak langsung memberikan solusi dari sebuah permasalah yang sudah kita tulis. Suasan hati dan pikiran akan terkontrol dengan baik dan sejalan jika menulisnya dengan sungguh-sungguh.Tulisan yang kita tulis tidak hanya dapat menjernihkan pikiran penulisnya saja, akan tetapi juga dapat menjernihkan pikiran bagi pembacanya. Terlebih pembaca yang memiliki permasalah yang sama dengan penulis itu sendiri, sehingga dapat menjadi renungan bagi pembaca yang mengalami situasi yang sama dengan penulis. Karena permasalah tidak harus selamanya kita pendam sendiri. Ada kalanya permasalah hanya diri sendiri yang tau dan ada kalanya harus orang lain tau, dengan begitu orang bijak akan cermat dalam menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Manusia pun makhluk lemah, ada kalanya sibuk tanpa kenal waktu hingga bersantai menikmati waktu luang yang ada. Sesibuknya kita akan membuat pikiran kita terasa tidak nyaman bahkan menimbulkan hal-hal yang menggangu dengan setumpuk beban pikiran, fisik tersiksa bahkan bathin teraniaya. Dalam sela-sela sibuknya kita pasti ada waktu luang kita untuk melupakan masalah dengan sejuta aktivitas yang melelahkan fisik hingga bathin dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan bathin. Salah satu caranya yaitu dengan kerja intelektual, untuk menjernihkan pikran dalam memanfaatkan waktu luang. Dengan begitu, menulis dapat memberikan kesan puas bagi siapa saja yang berhasil menunagkan ide, gagasan, dan perasan kedalam sebuah tulisan. Sehingga permasalahan yang dipikirkan mampu dijernihkan bagi penulis itu sendiri.

Menulis merupakan salah satu cara memanfaatkan waktu luang, yaitu dengan kerja intelektual. Memanfaatkan waktu luang berupa aktivitas yang ringan dan dapat mehilangkan beban pikiran. Mungkin bagi sebagian orang masih binggung akan maksud dari kerja intelektual, katanya waktu luang kenapa harus berkerja? Maksudnya kerja intelektual disini yaitu kerja kecerdasan tanpa harus tergesa-gesa dan tidak perlu serius serta dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun, salah satu contoh dari kerja intelektual ialah menulis. Kerja intelektual dalam memanfaatkan waktu luang dengan cara menulis menjadikan seseorang dapat berpikir jernih, sehingga dapat dikatakan bahwa menulis merupakan salah satu sarana menjernihkan pikiran. Tidak hanya sekedar menjernihkan pikiran, tapi membantu kita berpikir metodelogis dari terkontrol, sistematis, empiris, bahkan berpikir kritis dalam mengambil sebuah kebijakkan. Mengapa demikian? Karena, dalam menulis membutuhkan data dan fakta yang jelas dalam berpikir metodelogis pra menulis, saat menulis, bahakan pasca menulis. Sehingga kita dapat berfikir jernih dengan data dan fakta yang ada.

Ketika bahagia, sedih, marah menulislah. Karena aksara dapat mewarnai hidup dengan bumbu-bumbu yang menyenangkan batin, terlebih jika tulisan kita bermanfaat bagi orang banyak. Sampaikan walaupun hanya satu kalimat, namun mempunyai arti dan sejuta manfaat bagi orang yang membacannya terlebih jika ada yang mengaplikasikannya.

 

DIAN WP

WawasanProklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai