Tuesday, June 22, 2021

Arif Fadilah Ahmad, Sang Lincah Pejuang Lembaga Dakwah Kampus Hingga The Special of Asdos



WAWASAN PROKLAMATOR,- Hanya di semester lima, Indeks Prestasi Komulatif (IPK) tidak benar-benar bulat. Sisanya, di semester satu, dua, tiga, empat, lima, dan enam, IP Aktivis Dakwah Kampus UBH asal Pariaman ini berada tepat di angka tiga lebih. Selain itu, ia juga penerima salah satu beasiswa paling bergengsi di kalangan mahasiswa yaitu Beasiswa Aktivis Dakwah kampus oleh PKPU Humaniaty. Maka tak heran kini rekan-rekannya menjulukinya dengan "Sang Lincah". Tidak hanya itu saja, pemuda  ini menjadikan Perpustakan, Ruang Gedung D, Pusat Kegiatan Mahasiswa hingga sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sebagai tempat tidur favoritnya.

Di Jurusannya Teknik Sipil ia termasuk mahasiswa berprestasi dan beberapa kali  juga menyabet penghargaan tingkat universitas hingga pada akhirnya ia mendapat julukan "The Special of Asdos" atau  Asisten Dosen karena menjadi Asdos hampir di semua mata kuliah. Menariknya, pemuda yang dulu semasa Sekolah Menengah Atas (SMA) pernah mengikuti Rohis  dan menganggap Rohis tidak berguna baginya di masa itu, kini justru aktif di Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan menjadi pengurus inti di dalamnya. Ia ingin membayar kesalahan yang ia buat selama ini karena telah menganggap Rohis atau semisalnya sebagai tempat yang sangat tidak penting dan menunjukkan kepada dunia bahwa LDK adalah rumah paling tepat untuk melahirkan prestasi atau karya-karya besar. Please Welcome, Ajo Piaman.

 

Ajaib Sejak Ingusan 

Pantas Arif tidak suka disebut sebagai bocah ajaib. Tapi, memang begitu faktanya. Bagaimana tidak! Keistimewaan yang ia miliki sudah muncul sejak kecil. Saat itu ia belajar di sebuah Taman Pembelajaran Quran (TPQ) yang mana disana merupakan tempat belajar  membaca Iqro, Al-Quran, tajwid, dan gharib. Dengan kecerdasan yang ia miliki,  ia telah berhasil melangsungkan wisuda saat menginjak kelas 3 Sekolah Dasar (SD) yang berbeda dengan yang lain. Prestasi akademiknya di SD juga tidak diragukan lagi.

Memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP), "kegilaan" calon pemimpin bangsa ini semakin menjadi. Dengan modal prestasi yang ia raih saat SD, ia berhasil masuk ke kelas Grade dengan sistem pembelajaran menggunakan bahasa Inggris  di SMPN 3 yang merupakan sekolah terbaik di Kabupaten Tangerang. Awalnya ia merasa minder dengan pergaulan yang mayoritasnya adalah anak-anak kota, namun karena semangat yang terus menggebu ia tidak hanya bisa beradaptasi, tapi justru menjadi raja di kelas tersebut. 

Diusir dari rumah karena pernah berkeluyuran sampai tidak pulang kerumah  dan kecuekan terhadap Rohis. Ada yang menarik jika kita tidak mau menyebutnya memalukan dari perjalanan hidup Arif fadilah.  ketika kelas 8 SMP, anak desa ini akhirnya mengenal dunia yang lebih luas. ia kenal dengan bermacam-macam orang, dengan pergaulan yang tentu sangat beragam. Karena masih polos, ia tidak bisa membedakan mana pergaulan yang baik dan mana yang buruk. Akhirnya dia terjebak dalam pergaulan yang tidak beres. ia sering keluyuran nggak jelas sampai pukul 11:00 WIB. 

Memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA), ternyata Arif tidak bisa terbebas begitu saja dengan pergaulan SMP nya. Ia masih berteman dengan rekan-rekan yang dulu sering mengajaknya keluyuran  dan dari mereka ia mendapat sebuah paradigma tentang Rohis. Paradigma itu berbunyi "Rohis dan mentoring itu sesat! Kamu jangan dekat-dekat sama Rohis!"

"Aku terjebak sama pemikiran sempit itu. Karena banyak yang bilang Rohis dan mentoring itu sesat, aku jadi terhasut oleh omongan mereka. Mereka pintar-pintar dan baik banget sama aku. Tapi kebaikan-kebaikan mereka tertutup karena aku udah termakan oleh omongan orang lain. Bodo banget emang dan aku benar-benar menyesal kenapa dulu aku tidak ikut Rohis," serunya. 

Paradigmanya tentang Rohis berubah saat memiliki teman dekat ketika SMA. Ia pernah berbincang panjang lebar hingga ngalor ngidul kesana kemari. "Dari obrolan itu aku tersadar. Aku aja belum pernah ikut Rohis, bagaimana bisa aku menilai buruk terhadap Rohis? Hingga kemudian, hidayah itu datang. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk membayar kesalahan yang telah aku perbuat ini," ungkapnya.

Mulai saat itu, Arif menyakinkan dalam dirinya bahwa ada sesuatu yang membuatnya merinding. "Jika ada yang mengatakan Rohis sesat, mentoring sesat, mereka harus berhadapan sama aku dulu," ujarnya.

  

Segudang Kesibukan dan LDK Sebagai Tempat Berpulang

Bertekad untuk membayar segala kesalahan, Arif membuktikan diri dengan ikut salah satu UKM yang justru tidak direkomendasikan oleh kakak tingkatnya, Lembaga Dakwah Kampus atau di Fakultas dia menyebutnya dengan Forum Studi Islam (FSI). Seluruh UKM yang ia ikuti di semester satu itu adalah rekomendasi kakak tingkat, kecuali FSI. Tapi justru disana ia menemukan kebahagiaan. Pada semester berikutnya saat semua kerjaan numpuk, FSI atau LDK benar-benar jadi rumah buat kembali. Saat udah capek dengan semua permasalahan, LDK benar-benar memberi nutrisi yang bisa bikin semangat itu kembali. 



Mau Tau Bagaimana Sibuknya Seorang Arif? 

Jadi waktu itu, pas ia menjadi Ketua Biro atau mentoring Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), kebetulan ia lagi magang dosen dan juga lagi megang  Asdos. Ia tidak mau mengorbankan akademik tetapi ia juga tidak mau ngorbanin organisasi. Sehingga pukul 02:00 WIB ia harus bangun, ngerjain tugas, deadline Asdos. Kemudian, pukul 06:00 WIB harus berangkat ke Padang, mutarin proyek-proyek sambil kepanasan sampai pukul 13:00 WIB. Begitu sampai Pariaman, rapat-rapat langsung menanti. Tidak hanya itu, adik-adik tingkatnya juga menanyakan kapan waktu untuk bisa mentoring. Karena tidak cuma satu mata kuliah yang harus ia cover dan karena tidak ada waktu selain malam, akhirnya jadwal asistensi tersebut bisa sampai pukul 01:00 WIB.

 

Awal Kecemerlangan

Memulai kehidupan kampusnya sebagai aktivis dakwah kampus, Arif membuktikan bahwa saat kita bergabung dalam kereta dakwah, semua urusan dunia dan impian-impian kita atas izin-Nya justru akan mudah kita gapai. Sebelum menjadi Asdos, Arif terlebih dulu menjadi Asisten Agama Islam, atau kita akrab menyebutnya sebagai "kakak mentoring". Pasca itu di semester yang sama, Arif menjadi Asisten Pemrograman. Hal ini berlanjut ke semester berikutnya, hingga dia mendapat julukan "The special of Asdos". Sebagai contoh, di semester 5 ia menjadi asisten di 3 mata kuliah! 

Hal yang lebih mengagumkan, di semester-semester tersebut ia sedang memegang amanah dakwah seperti: Koordinator Fakultas Biro Asistensi Agama Islam atau Ketua FSI. Bayangkan, dengan kesibukan dakwah yang tinggi ia masih sempat menjadi Asdos di berbagai mata kuliah yang tidak jarang memaksa ia memberikan konsultasi kepada adik tingkat. 

"Teruslah berada disana, di LDK. Berikan yang terbaik untuknya dan lihatlah, hanya soal waktu untuk mendapatkan apa yang selama ini kita impikan. Hidup adalah pilihan. Pada akhirnya, jika kita memilih menjadi penggerak dakwah kampus, maka setiap langkah kita adalah pengorbanan, setiap goresan pena adalah pengabdian, dan setiap detak jantung yang membuat kita masih bernafas menandakan bahwa tanggung jawab kita belum usai. Maka, teruslah bergerak  dan menggerakkan yang lain dalam kebaikan!" ujar Arif.

"Sobat muda semoga kita menjadi bagian dari rangkaian inspirasi-inspirasi yang membuat Negeri ini terus melaju menuju puncak kejayaannya. Maka, teruslah hidup dan teruslah menginspirasi!". tambahnya.

 

REDAKSI

WawasanProklamator.com Jauh Lebih Dekat

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai