Tuesday, June 22, 2021
Manusia: Lahir dengan Misi yang Berbeda-Beda

Manusia: Lahir dengan Misi yang Berbeda-Beda



WAWASAN PROKLAMATOR,- Setiap manusia memang terlahir berbeda sehingga dalam sebuah kelompok pasti terdapat adanya sebuah perbedaan. Sudah menjadi tugas setiap kita untuk menerima perbedaan tersebut selama masih dalam batas kewajaran. Dalam kelompok setiap anggota harus berusaha semaksimal mungkin memberi manfaat dengan caranya masing-masing. Itulah yang disebut dengan fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Tetapi ini tidak boleh berakhir pada tahap saling menerima atau saling menghilangkan identitas demi persatuan. Itu sama seperti menghilangkan sidik jari setiap manusia.

Perbedaan haruslah menjadi motivasi kita untuk melakukan suatu yang berbeda pada masyarakat. Kealpaan kontribusi kita adalah kerugian atau setidaknya menjadi loss opportunitiy karena adanya potensi kebaikan yang hilang dalam masyarakat, layaknya puzzle yang kehilangan salah satu bagiannya. Ini sejalan dengan pendapat Buya Hamka, "Orang tidak boleh membunuh dirinya, karena bunuh diri adalah dosa besar kepada diri dan kepada masyarakat. Sebab hidup itu bukan untuk dirinya saja" Ada tanggung jawab diri sendiri pada masyarakat untuk memenuhi hak manusia yang lain dan sebagai bayaran atas hak diri yang telah didapat dari masyarakat.

Dr. Tawfique Chowdhury, pendiri Mercy Mission (NGO yang memiliki puluhan proyek lembaga sosial dan pendidikan di 8 negara) menggunakan istilah lain. "Setiap manusia memiliki misi besar masing-masing, bahkan beliau berdoa agar tidak dipanggil untuk bertemu Allah SWT (wafat) sebelum melaksanakan misi terbesarnya di dunia." Beliau sangat yakin tentang adanya misi besar dibalik penciptaan manusia. Setiap orang memiliki misinya masing-masing sehingga tidak bisa beralasan ada orang lain yang mengerjakan kebaikan dan kita bisa berdiam diri.

Perbedaan agama dalam masyarakat pun harus begitu. Tidaklah sama seorang muslim dan non muslim (QS 32:18), sehingga mencabut identitas agama dalam masyarakat bukanlah harga yang pantas dibayar untuk terciptanya perdamaian dan persatuan. Tapi perbedaan ini juga jangan sampai menjadi musibah karena Islam cinta perdamaian dan menerima perbedaan (QS: 109:6). Islam mempersilahkan orang untuk menjalankan agamanya masing-masing dan tidak ada paksaan di dalamnya (QS: 2:256).

Allah SWT telah menceritakan kepada kita tentang perjuangan para nabi terdahulu dalam menjalankan misi dakwah tapi pada akhirnya ajaran yang dibawa ternodai setelah kepergiannya. Nabi Muhammad SAW adalah nabi terakhir tetapi diberikan kitab suci yang terjaga kemurniannya hingga hari akhir. Lalu siapa yang menjadi penyeru ajaran ini jika bukan umat itu sendiri? Ini adalah tanggung jawab besar. Tanggung jawab yang sebelumnya diberikan kepada para nabi yang dididik oleh Allah melalui para malaikat.

Ini adalah sebuah misi besar dari Allah. Misi untuk setiap muslim. Misi yang akhirnya dilaksanakan dengan cara yang berbeda-beda sebagaimana hadist Nabi Muhammad SAW "Semuanya bekerja menurut nasib masing-masing atau menurut yang dimudahkan Tuhan bagi masing-masing." (HR. Muslim)

Apa misi yang dititipkan Allah SWT untukmu di dunia?

 

Arif Fadilah Ahmad, Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil angkatan 2016 Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta.

© Hak cipta WawasanProklamator.com jika mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link secara utuh.

Share on:

Komentar:

Kirim Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Yang mungkin disukai