Ilmu dan Peranannya

Nazwar, S.Fil., I., M.Phil
356
Sumber Foto: Atsar ID

Ilmu mungkin tidak mengubah realita secara keseluruhan dalam arti sepenuhnya sesuai dengan keinginan manusia, apalagi nafsu. Dengan bantuan ilmu seseorang dapat memperoleh pencerahan yang tentunya sangat bermanfaat dalam mencerahkan prinsip-prinsip atau keinginan-keinginan besar manusia. Bukan tidak mungkin akan menjadikan suatu kondisi lebih baik dibandingkan tanpa pencerahan.

Mengenai ketetapan Tuhan dalam kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Dengan ilmu, banyak hal yang bisa terjawab tanpa harus memulai pertanyaan, atau hal-hal membingungkan bisa dijelaskan dengan ilmu. Termasuk memikirkan seseorang sedang berdiri atau duduk serta mengakui kebesaran Allah dalam menciptakan langit dan bumi, itulah anugerah Tuhan yang tidak sia-sia.

“Kemudian Allah menghinakan mereka pada hari kiamat dan berfirman: “di manakah sekutu-sekutu ku itu yang (karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang beriman?)”. Orang yang diberi ilmu berkata: “sesungguhnya kehinaan dan azab pada hari ini ditimpakan kepada orang-orang yang kafir” (An-Nahl ayat 27).

Kehinaan bukan hanya mereka tidak diberi ilmu, namun orang-orang yang menzalimi diri sendiri dengan dianugerahi pengetahuan. Namun mengambil sikap zalim baik terhadap diri sendiri maupun bukan, menjadi sasaran dan merasakan akibat perbuatan tercela mereka. Mereka mengambil jalan menolak kebenaran yang terang benderang. Maka sudah tentu tidak untuk diikuti sembari senantiasa memohon dan memperteguh keimanan dengan amal-amal saleh.

Kembali pada peranan ilmu dengan izin dan rahmat Allah untuk menerangi kesalahan masa lalu dan memperbaiki serta berharap pada waktu kedepannya lebih baik. Sebab segala kebaikan di sisi Allah, bukan pada harta, anak-anak bahkan banyaknya amal semata-mata karena Allah. Maka berbahagialah orang-orang yang sabar dalam kemiskinan harta, yang insyaAllah dapat meringankan hisabnya dihari kiamat.

Termasuk terhadap ilmu, kebaikan padanya hanya dari Allah saja. Oleh karena itu, selain menghendaki ilmu yang bermanfaat dan menjauhi pengetahuan tidak berguna, kita juga harus mengetahui kekuasaan tentang Tuhan, seperti cahaya tidak dipancarkan dengan maksiat. Sebagaimana dikatakan: “al-ilmu nuurun wa nurullahi laa yuhda bil’aashi” artinya “ilmu itu cahaya dan sinar Allah tidak dipancarkan yang dengannya kemaksiatan.” “Allahu a’lam“.

 

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat 

TAGS:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.
You need to agree with the terms to proceed

Berita Terkait

Generasi Baru Siap Berkiprah: Pengurus UKM-KSR PMI 2024/2025 Unit Universitas Bung Hatta Proklamator Resmi Dilantik
Pelantikan Pengurus Baru UKPM-WP Periode 2024/2025: Komitmen Menuju Pers yang Produktif dan Inovatif

TERBARU

Iklan

TERPOPULER

Berita Terkait

Generasi Baru Siap Berkiprah: Pengurus UKM-KSR PMI 2024/2025 Unit Universitas Bung Hatta Proklamator Resmi Dilantik
Pelantikan Pengurus Baru UKPM-WP Periode 2024/2025: Komitmen Menuju Pers yang Produktif dan Inovatif
Menu