Kupas Tuntas Soal Perspektif Gender di Jepang, FIB dan ASJI Lakukan Webinar

Shenia WP
773
Sumber: Instagram Universitas Bung Hatta

WAWASAN PROKLAMATOR,- Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Asosiasi Studi Japan Indonesia (ASJI) menyelenggarakan ASJI Public Lecture yang disponsori Japan Foundation. Acara ini mengangkat tema Equal Opportunity in Political Participation, Social Engagement, and Employment yang diselenggarakan via Zoom pada Sabtu, 28 Januari 2023.

Kegiatan tersebut dihadiri, Rektor Universitas Bung Hatta, Prof.Tafdil Husni, Ketua Umum ASJI, Julian Aldrin Pasha, Ph.D, Dosen Prodi Sastra Jepang Universitas Bung Hatta, Prof.Diana Kartika, Dosen Prodi Jepang Universitas Indonesia, Rouli Ester Pasaribu, Ph.D, Dosen Binus University, Dr.Putri Andam Dewi, dan Dosen Prodi Sastra Inggris Universitas Bung Hatta, Dr. Yusrita Yanti.

Diana, memaparkan, istilah gender merujuk pada kedudukan seorang laki-laki dan wanita di semua aspek yang telah merambah budaya pria pemegang kekuasaan pada masyarakat Jepang. Pengharapan tersebut, menghambat para perempuan Jepang untuk eksis berperan di tempat umum.

“Gender mengacu pada peran dan tanggung jawab antara setiap, warga Jepang kini memiliki sistem patriarki dikarenakan adanya ekspektasi. Sehingga wanita memiliki hambatan untuk berpartisipasi secara aktif di ruang publik,” paparnya.

Ia menambahkan, di Meksiko pada tahun 1975 Jepang ikut serta dalam konvensi United Nations World Conference of Women yang membincangkan hal kesejajaran hak pada wanita. Hasil pertemuan tersebut membentuk Convention on the Elimination Against Women (CEDAWA) menegaskan agar setiap peserta wajib adil berperan penghapusan diskriminasi perempuan di bidang hukum, partisipasi politik, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan keluarga.

“Jepang telah mengikuti konvensi women dalam pembahasan mengenai kesetaraan wewenang untuk perempuan. Oleh karena itu, diwajibkan negara anggota untuk mengambil langkah dalam penghapusan diskriminasi terhadap perempuan di semua, dalam Konvensi CEDAWA” tambahnya.

Senada dengan Diana, Putri, menjelaskan, perkembangan suatu fenomena dalam masyarakat sosial menimbulkan budaya populer, kebiasaan tersebut yang dianut dalam masyarakat Jepang tertentu. Lingkupan tradisi tersebut, bersumber pada seluruh aspek aktivitas yang majemuk.

“Perspektif barat muncul dari hasil interaksi sehari hari, dari kebutuhan dan keinginan serta kejadian sosial. Pranata yang mencakup seluruh praktik kehidupan, jadi hasil dari istiadat yang bermacam macam dan bersifat dinamis,” jelasnya.

Lebih lanjut, Putri, menuturkan, budaya populer sangat melekat pada kehidupan masyarakat luas, dengan berbagai topik yang diangkat. Berdasarkan hasil penelitian topik gender, ada beberapa kebiasaan yang dianut masyarakat seperti kualitas keimutan sebagai standar kecantikan.

“Kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari para penonton, dimana frekuensi munculnya tema tertentu dalam ceritanya. Berdasarkan penelitian topik gender, Kawai sebagai standar kecantikan dan juga games otome dalam hubungan cinta nyata,” tutupnya.

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

TAGS:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.
You need to agree with the terms to proceed

Berita Terkait

Pengerjaan Proyek Pusgawa Baru Hampir Rampung

TERBARU

Iklan

TERPOPULER

Berita Terkait

Pengerjaan Proyek Pusgawa Baru Hampir Rampung
Menu