FIB Gelar Kuliah Umum Bahas Pelaksanaan Adat dan Jati Diri Masyarakat Minangkabau

Ayu WP
747

WAWASANPROKLAMATOR,- Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Bung Hatta menghelat kuliah umum yang diikuti seluruh mahasiswa aktif dari angkatan 2019 hingga 2022. Acara ini berlangsung di Aula Gedung B3 Kampus Proklamator II Universitas Bung Hatta, Rabu (12/10/2022).

Materi event ini dari mata kuliah Manusia dan Kebudayaan Indonesia dengan tema Pelaksanaan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) dan Jati Diri Masyarakat Minangkabau. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Ketua Yayasan Pusako Minangkabau (YPM), Dirwan Ahmad Darwis.

Dekan FIB, Diana Citra Hasan, Ph.D, dalam sambutannya memaparkan, kuliah umum ini merupakan salah satu bagian dari mata kuliah FIB yang mendapatkan kesempatan berharga untuk belajar dari pakar, pengamat budaya khususnya Minangkabau. Dengan majunya teknologi ada kekhawatiran dari generasi tua Minangkabau karena para pemuda/i lebih menekuni budaya luar.

“Adanya kuliah umum ini memberi peluang kepada mahasiswa untuk menggali ilmu lebih dalam lagi. Berkembangnya informasi membuat generasi milenial cenderung melupakan budaya sendiri,” paparnya.

Ia menambahkan, Jangan meninggalkan budaya leluhur yang sebetulnya memberikan dampak positif untuk dijalani di kehidupan selanjutnya. Ia berharap, untuk masyarakat FIB dapat berinteraksi, bertanya serta memperdalam tentang ABS-SBK yang sebenarnya filosofi hidup masyarakat.

“Adat yang ada saat ini sebenarnya peninggalan leluhur yang memberikan nilai-nilai baik. Harapan saya perkuliahan ini dapat menciptakan mahasiswa aktif dalam mengemukakan pendapat,” tambahnya.

Dirwan, dalam penyampaian materinya menjelaskan, ABS-SBK merupakan landasan jati diri Minangkabau. Sebelum kedatangan Islam orang Minangkabau menjadikan gejala alam sebagai sumber ajarannya, setelah masuk pun tidak ada bertentangan antara adat dan syarak karena keduanya menjadikan ajaran alam ciptaan Allah sebagai pedoman hidup. Tetapi, perbedaan antara zaman dahulu dan sekarang terletak pada adab dan adat yang berkurang.

“Sebelum Islam masuk ke nusantara, orang Minangkabau mengamati, mempelajari dan menggali nilai yang di berikan oleh alam, maka lahirlah filsafat Alam Takambang Jadi Guru. Terjadinya perbedaan di mana pada zaman dahulu adat dan adab lebih kental dan kuat dibandingkan pada zaman sekarang,” jelasnya.

Ia menambahkan, orang Minangkabau terbagi 3 yaitu orang yang benar-benar menerapkan sopan santun dan kebiasaan ADS-SBK di kehidupannya, orang yang asli Minang tetapi mengedepankan budaya luar, yang terakhir seseorang yang telah menghilangkan unsur adab dan adat Minangkabau dari dirinya yang tidak bisa dikembalikan lagi. Melalui sejarah bisa ditarik kesimpulan bahwa tokoh-tokoh di Minangkabau zaman dahulu menyeimbangkan antara norma dan tradisi sebagai cerminan penerapannya ABS-SBK.

“Manusia Minangkabau dikelompokkan menjadi 3 bagian yakni asli, anyuik, dan taram. Perkembangan Minangkabau dulu menyetarakan kedudukan adab dalam penerapan Syarak,” tambahnya.

Tiara Riani Putri, mahasiswa Program Studi (Prodi) Sastra Inggris angkatan 2020, mengungkapkan, perasaan senang bisa mengikuti kuliah umum pada hari ini karena bisa mempelajari tentang Minangkabau. Ia berharap ke depannya kuliah umum ini sering diadakan tetapi jangan pada saat perkuliahan.

“Adanya kuliah umum ini memberi kesan menyenangkan bagi saya pribadi. Harapan saya untuk kuliah umum selanjutnya diselenggarakan di akhir Minggu,” ungkapnya.

Peserta lainnya, Evodius Ki Ageng mahasiswa prodi Sastra Jepang angkatan 2022, menjelaskan, menghadirkan narasumber yang terpercaya dari segi data dan fakta sehingga materi yang diberikan sangat bermanfaat, tidak hanya mahasiswa tetapi seluruh masyarakat FIB. Kedepannya ia berharap, acara seperti ini terus mengundang narasumber yang memiliki pengetahuan yang sesuai dengan tema kuliah umum tentunya.

“Pemateri yang memberikan pengetahuan berfaedah dan mudah dipahami. Harapan saya kegiatan seperti ini berlanjut di lain waktu,” jelasnya.

Hotma Raya, mahasiswa prodi Sastra Indonesia angkatan 2021, memaparkan, kuliah umum ini sangat menambah pengetahuan mahasiswa apa lagi temanya sangat menarik untuk dibahas lebih dalam lagi. Kurangnya pengetahuan tentang adat dan kebiasaan di Minangkabau membuat mahasiswa sangat antusias mendengarkan secara detail materi yang diberikan.

“Kuliah umum ini sangat menambah wawasan mahasiswa yang belum mengetahui perkembangan budaya Minangkabau. Acara ini sebaiknya diadakan lagi agar yang kurang paham menjadi mengerti,”tutupnya.

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

TAGS:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.
You need to agree with the terms to proceed

Berita Terkait

Ciptakan Mahasiswa yang Produktif, FKIP Gelar Pekan Kreativitas Mahasiswa
Mahasiswa Baru Harapkan Fasilitas yang Memadai Demi Kenyamanan Perkuliahan

TERBARU

Iklan

TERPOPULER

Berita Terkait

Ciptakan Mahasiswa yang Produktif, FKIP Gelar Pekan Kreativitas Mahasiswa
Mahasiswa Baru Harapkan Fasilitas yang Memadai Demi Kenyamanan Perkuliahan
Menu