Toleransi Hanya Untuk Perbedaan Bukan Penyimpangan

Febry WP
886

Toleransi murupakan hal yang wajib diajarkan kepada penerus bangsa sedari anak menduduki Sekolah Dasar (SD). Toleransi memiliki makna sikap saling menghargai, menghormati atas pendapat kepercayaan antarsesama. Setiap manusia memiliki perbedaan antara satu sama lain, sehingga toleransi penting diketahui dan diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Indonesia adalah negara yang kaya, baik dari segi Sumber Daya Alam (SDA) maupun keberagamannya. Terdapat beberapa bentuk keberagaman yang ada di Indonesia, dimulai dari suku, agama, ras, golongan, dan lainnya. Tetapi apakah toleransi ini dapat digunakan sebagai tameng dari penyimpangan?

Rasanya penyimpangan yang terjadi di era milenial akhir-akhir ini sangatlah marak dibahas, yang paling mencolok ialah laki-laki yang berperilaku layaknya perempuan atau sebaliknya. Ketika banyaknya masyrakat yang mengkritik hal tersebut oknum-oknum tersebut berdalih yang dilakukan merupakan salah satu hak kebebasan berekspresi dan haruslah ditoleransi.

Pertanyaannya apakah toleransi diciptakan untuk menghargai hal yang menyimpang? Hal yang menyimpang seharusnya tidak disebarluaskan dan hendaknya menjadi aib bagi orang tersebut. Tetapi kenyataannya saat ini banyak manusia secara terang-terangan memamerkan hal yang salah di media sosial secara bebas. Menyuarakan arti kebebasan dengan berperilaku menyimpang yang seharusnya bukanlah hal yang patut dibanggakan.

Setiap manusia yang dilahirkan ke muka bumi diberikan kebebasan untuk menjalani hidup, tetapi yang perlu digaris bawahi ialah tidak menyalahi kodrat yang diberikan. Apakah ketika seorang anak laki-laki saat ia lahir dan kemudian dewasa diajarkan oleh orangtuanya untuk memakai rok dan berdandan? Agaknya tidak demikian, setiap orang tua pastilah mengajarkan anaknya untuk berpenampilan sesuai dengan jenis kelamin. Hal ini merupakan titik awal bahwa penyimpangan akan hal tersebut bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan.

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan tersebut. Faktor-faktor yang dimaksudkan ialah, pergaulan, trauma masa kecil, ataupun masalah hormonal. Hal ini dapat disiasati dengan melakukan konsultasi kepada psikater guna mendapatkan penanganan terhadap permasalahan yang dihadapi, bukan hanya diam dan berlarut serta merasa bangga akan penyimpangan yang dilakukan.

Masyarakat Indonesia hendaknya lebih harus menyuarakan akan toleransi diciptakan untuk perbedaan bukan penyimpangan agar setiap orang yang melakukan salah merasa malu bukan bangga. Sesuatu yang salah akan terus dilakukan jika masih terdapatnya respon baik dari masyarakat. Segelintir masyarakat yang mebenarkan dan membiasakan hal yang salah akan menjadi racun bagi penerus bangsa yang lahir nantinya, hingga merosotnya nilai moral pada bangsa Indonesia.

Wawasanproklamator.com Jauh Lebih Dekat

 

 

TAGS:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.
You need to agree with the terms to proceed

Berita Terkait

Suamperi: Seluruh Program Studi Laksanakan UAS Mata Kuliah Wajib secara Luring
Nestapa

TERBARU

Iklan

TERPOPULER

Berita Terkait

Suamperi: Seluruh Program Studi Laksanakan UAS Mata Kuliah Wajib secara Luring
Nestapa
Menu