BUNG HATTA MUDA

MAHASISWA UNIVERSITAS BUNG HATTA MASUK 15 BESAR FINALIS DUTA PDAM KOTA PADANG 2019

Mahasiswa Universitas Bung Hatta Masuk 15 Besar Finalis Duta PDAM Kota Padang 2019

Minggu, 29 Desember 2019

WAWASAN PROKLAMATOR,- Leonardus Gunawan mahasiswa Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (PSP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan...

Mahasiswa FEB Sabet Juara III dalam Turnamen Catur

Mahasiswa FEB Sabet Juara III dalam Turnamen Catur

Senin, 23 Desember 2019

WAWASAN PROKLAMATOR,- Yubilio Zuli mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) angkatan 2018 peroleh juara ke-3 dalam...

Dede Hermawan : Memberdayakan Guru Melalui “Pasti Hebat

Dede Hermawan : Memberdayakan Guru Melalui

Senin, 08 April 2019

WAWASAN PROLAMATOR,- Dede Hermawan merupakan alumni Universitas Bung Hatta angkatan 2008  dan saat ini menjadi founder dan Chief Executive...

FEATURE

Jumat, 08 November 2019

LEO WP

Pantai Padang, Gelora Alam Nan Memesona

2019-11-10 23:26:13WAWASAN PROKLAMATOR,- Sumatera Barat terkenal dengan segala pesonanya, baik dari wisata kuliner, budaya, serta alamnya nan indah tuk dikunjungi....

Kematian Massal Ikan di Kabupaten 50 Kota, Para Ahli Utarakan Penyelesaiannya

Sabtu, 14 Desember 2019 | 17:21:07 WIB Share
Kematian Massal Ikan di Kabupaten 50 Kota, Para Ahli Utarakan Penyelesaiannya

WAWASAN PROKLAMATOR,- Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Bung Hatta mengadakan diskusi ilmiah tentang Kajian Ekologi Perairan Penyebab dan Solusi  Terkait Kematian Massal Ikan yang terjadi di hulu sungai Batang Maek Kecamatan Pangkalan Kabupaten 50 Kota Provinsi Sumatera Barat. Bertempat di Ruang Sidang Rektor, Kampus Proklamator I, Universitas Bung Hatta. Jumat (13/12/2019).

Diskusi merupakan pembahasan lanjutan terkait mulai menurunnya ekosistem perairan yang disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari faktor alam maupun faktor yang diakibatkan oleh tangan-tangan manusia. Aktivitas penambangan yang dilakukan oleh perusahaan besar, penebangan hutan dikawasan perairan, dan faktor lainnya yang membuat ekosistem semakin menurun.

Pembahasan dikusi berjalan dengan hangat dikarenakan dihadiri oleh pembahas yang berkompeten dalam bidang permasalahan yang terjadi, baik dari pemerintahan, dinas lingkungan hidup provinsi Sumatera Barat, perwakilan masyarakat maupun niniak mamak dari nagari Tanjung Balik, serta bidang akademisi dosen-dosen dan dari kalangan mahasiswa.

Wakil Bupati Kabupaten 50 Kota Ferizal Ridwan menuturkan pemerintah, masyarakat dan seluruh instansi terkait akan bekerja sama untuk menuntaskan polemik yang sudah bergulir, baik dalam menuntaskan aktivitas penambangan dan aktivitas ilegal lainnya yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar yang ada di wilayah tersebut.

"Kita akan maksimalkan, sehingga penanganan bisa dilakukan dengan baik bersama dengan seluruh kalangan masyarakat dan instansi," tutur Ferizal.

Ferizal juga berharap agar masyarakat memahami informasi permasalahan dengan baik. "Permasalahan yang dihadapi bukan dari segi alam dan aktivitas pertambangan saja, akan tetapi informasi yang didapat masyarakat banyak yang belum mengetahui yang sesungguhnya, sehingga masalah kecil menjadi sangat dibesarkan, diharapkan nantinya media informasi dapat meluruskan informasi yang sudah bergulir di masyarakat  dan menyadarkan masyarakat agar dapat menyaring informasi terlebih dahulu," harap Ferizal.

Prof. Dr. Hafrijal Syandri, M.S pakar atau ahli bidang perikanan memaparkan kematian ikan yang terjadi bukan terjadi di hilir sungai, namun bisa terjadi di hulu sungai dikarenakan sifat dari air sendiri mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, sehingga ikan-ikan yang mati terbawa oleh arus ke hulu sungai.

Salah satu penyebabnya yaitu aktivitas pertambangan besar yang terjadi di kawasan tersebut, penguatan hukum atau legalitas dari masyarakat sangat perlu dikuatkan agar nantinya masyarakat dan pihak penambang tidak terjadi perselisihan dan ekosistem perairan di Kabupaten 50 Kota tetap lestari dengan baik.

Permasalahan yang terjadi diharapkan bisa terselesaikan, sehingga diskusi yang diadakan mendapat titik temu, tentunya hal demikian bukan menjadi tugas bagi pihak pemerintah saja namun masyarakat, kalangan akademisi, diharapkan nantinya turut andil dalam menyelesaikan permasalahan kematian massal ikan yang terjadi di sungai Batang Maek.

Semua argumentasi yang disampaikan dari masing-masing pembahas nantinya bisa menjadi tugas bersama dan evalusi kinerja dalam penangan kematian massal ikan yang terjadi di hulu sungai Batang Maek Kabupaten 50 Kota Provinsi Sumatera Barat.

"Dengan menerapkan aspek-aspek yang ada, nantinya diharapkan mendapat hasil yang diinginkan," tutur Hafrijal.

Joni Jasman, mahasiswa dari FPIK Universitas Bung Hatta mengatakan diadakannya diskusi ilmiah ini bertujuan untuk memecahkan permasalahan terkait kematian massal ikan di hulu sungai Batang Maek Kabupaten 50 Kota, sehingga tidak terjadi kembali permasalahan yang sama dan mendapat penanganan yang serius.

"Mahasiswa perikanan tentunya ikut berperan aktif dalam membawa perubahan dalam menangani permasalahan yang berkaitan dengan perairan khususnya perikanan, khususnya di Kabupaten 50 Kota," jelasnya.

Penguatan dari segala aspek tentunya sangat perlu dipertimbangkan, baik dari penguatan aspek hukum atau legalitas terhadap masyarakat. Aspek pertimbangan ekonomi kematian massal ikan akan berdampak signifikan, dikarenakan menurunnya perekonomian masyarakat khusunya nelayan. Aspek sosial dan lingkungan, dikarenakan dengan matinya ikan akan menimbulkan bau yang tidak sedap di lingkungan sekitar sungai batang Maek dan pendekatan dengan masyarakat mesti dimaksimalkan kembali agar masyarakat mendapat tindak lanjut dari hasil kerja yang telah dilaksanakan.


LEO WP

WawasanProklamator.com Jauh Lebih Dekat

Komentar

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar