Anggota AJI terbuka untuk Jurnalis Mahasiswa

Sabtu, 20 Januari 2018 | 04:49:43 WIB Share
Anggota AJI terbuka untuk Jurnalis Mahasiswa

Foto : Rezi Hidayati / Eji WP

WAWASAN PROKLAMATOR,- Dalam rangka mensosialisasikan Kode Etik AJI sekaligus Kode Perilaku hasil Kongres ke-X di Solo, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang menyelenggarakan Diskusi Tantangan Menjaga Etik di Era Siber serta Sosialisasi Kode Perilaku Aji bertempat di Binuang Room Bunda Hotel Padang, Sabtu (20/01/2018).

Abdul Manan, Ketua AJI Indonesia mengatakan Kongres AJI ke-X pada November 2017 lalu menghasilkan salah satu keputusan penting dalam AD/ART yang menerangkan keanggotaan AJI terbuka untuk jurnalis mahasiswa. Keputusan penting lainnya adalah disahkannya Kode Perilaku sebagai penjabaran dari Kode Etik AJI.

"Banyaknya pelanggaran Kode Etik dan Perilaku yang menyangkut jurnalis di  Indonesia. Salah satu yang kerap terjadi yaitu jurnalis menerima suap berupa uang, barang, ataupun fasilitas lainnya. Untuk itu perlu diadakan sosialisasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan ketentuan dan penjabaran Kode Etik AJI," ujarnya.

Ketua AJI Padang, Yuafriza dengan sapaan Oca mengatakan sosialisasi Kode Perilaku ini merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh AJI Padang 2014/2017 sebelum pemilihan ketua AJI Padang untuk periode 2018/2021. Menurut Oca, penting menyelenggarakan sosialisasi yang menyangkut adanya beberapa revisi dalam AD/ART dan Peraturan Organisasi AJI.  

"Dalam kesempatan kali ini, akan memaparkan hal terbaru ditetapkan dalam Kode Perilaku AJI yang merupakan penjabaran dari Kode Etik yang menjadi acuan dan rambu-rambu semua anggota AJI yang tersebar di Indonesia, terutama AJI Padang agar bisa menjadi pedoman bagi jurnalis anggota AJI Padang," jelas Oca.

Oca mengatakan sosialisasi yang turut mengundang anggota Asosiasi Pers Mahasiswa (ASPEM) Se-Sumbar sebagai anggota aktif diskusi dengan tujuan untuk memberikan gambaran pada wartawan kampus yang tergabung didalamnya agar dapat mengetahui dan memahami Kode Etik dan Perilaku AJI sebelum terjun ke media-media.

Senada dengan Oca, anggota Majelis Etik AJI Indonesia, Syofiardi Bachyul juga memberikan pandangannya mengenai pers mahasiswa. Menurutnya, Pers Mahasiswa merupakan kader-kader bagi AJI, karena sebagian besar anggota AJI saat ini berasal dari pers mahasiswa.

"Di pers mahasiswa, sejak awal telah tercipta ideologi jurnalis. Berkaca dari aktivitas mahasiswa dengan kewajiban  untuk menyelesaikan studinya, namun mau mengorbankan waktu, energi serta uang untuk mengerjakan pekerjaan jurnalistik tanpa dibayar. Persepsi tersebut  sudah diasah, sehingga ketika sampai di media umum tidak perlu di tes lagi mengenai ideologinya," jelas Syofiardi dalam diskusi.

Menjawab pertanyaan salah satu anggota ASPEM mengenai keanggotan mahasiswa di AJI, Syofiardi mengatakan pada ART AJI BAB 1 pasal 1 telah dituliskan keanggotaan AJI terbuka untuk jurnalis warga dan jurnalis mahasiswa dengan syarat-syarat yang tercantum pada pasal 2. Untuk masa berlaku keanggotaan, jika mahasiswa tersebut sudah menyelesaikan studinya dengan kata lain tidak lagi menjadi mahasiswa aktif di kampusnya. AJI akan melihat dan meninjau dari semangat jurnalis mahasiswa tersebut dari keaktifan karya jurnalisnya.

"AJI berusaha merangkul kader dari Pers mahasiswa. Saya berharap rekan-rekan di ASPEM melahirkan  generasi baru yang lebih berkualitas sehingga dapat bekerja langsung dengan media yang berkualitas tentunya. Jangan sampai justru telah masuk ke dalam media namun masih belum mengetahui Kode Perilaku. Semoga ASPEM dapat memanfaatkan buku ini untuk disosialisasikan juga dengan anggota lainnya," ujarnya.

AJI Padang menyusun hasil revisi Kode Etik dan Kode Perilaku, AD/ART dan Peraturan Organisasi AJI dimuat ke dalam buku saku dan membagikan ke semua peserta diskusi terutama pers mahasiswa. Diharapkan buku tersebut dapat menjadi pegangan dan kebutuhan bagi jurnalis mahasiswa.

 

Eji WP

WawasanProklamator.com Jauh Lebih Dekat

Komentar

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar