Perjuangan Montir Diffabel Membesarkan Keempat Buah Hatinya

Senin, 07 September 2015 Share
Perjuangan Montir Diffabel Membesarkan Keempat Buah Hatinya

Keterbatasan fisik tidak dijadikannya penghalang untuk melakukan aktivitas sehari-hari, semangatnya untuk membesarkan keempat buah hatinya membuat Wisman berkerja keras untuk mencari nafkah agar memenuhi kebutuhan keluarganya.

Tak mengenal apa pekerjaan yang ia lakoni dan tak memikirkan cibiran orang terhadap apa yang ia kerjakan, Wisman selalu berjuang mencari uang dengan menjadi montir di bengkel kecilnya di daerah Koto Tingga, Kota Padang.

Wisman pria asal Solok Sumatra Barat ini, membuka usaha bengkel kendaraan bermotor sejak tahun 2011. Sebelumnya, ia berprofesi sebagai sopir angkutan umum jurusan Padang-Payakumbuh. Namun, sembilan belas tahun yang lalu musibah tak terduga terjadi. Wisman mengalami kecelakaan yang membuatnya kehilangan satu tangan kirinya.

Dalam keterbatasan fisik yang dialaminya, pria berusia 50 tahun ini tidak begitu saja menyerah untuk menjalani kehidupan, apalagi malu dengan keadaan fisik yang dimilikinya.

Wisman yang ditemui saat memperbaiki ban mobil pelanggannya bercerita tentang semangat menjalani kehidupan. Baginya, kehidupan ini harus dihadapi bukan untuk disesali karena tekadnya yang begitu kuat untuk mengubah kehidupan anaknya menjadi lebih baik dari dirinya.

"Saya tidak mau minta-minta sedekah ke orang lain, cukup dengan membuka bengkel ini saya menghidupi anak saya. Jerih keringat dari usaha tambal ban ini sudah cukup untuk menghidupi keluarga saya," katanya sambil membuka ban mobil pelanggannya.

Bagi Wisman, walaupun hidup dengan satu tangan, ia akan tetap membuat hari-hari buah hatinya bahagia. "Saya tidak suka emosi-emosi kepada mereka, yang penting ketika saya pulang  ke rumah, istri sudah menyediakan apa yang menjadi kebutuhan saya, seperti makan yang sudah tersedia dan itu sudah cukup bagi saya," tuturnya.

"Ada sebagian orang mengatakan menjadi montir itu memalukan, bagi saya biasa saja. Saya sudah biasa bekerja keras sejak dulu karena orang tua sudah meninggal sejak saya masih muda," lontar Wisman dengan lantang.

Pria yang memiliki empat orang anak ini, sangat bertanggung jawab. Meski tangannya hanya satu, pernah selama tujuh tahun bekerja di cuci mobil. Hingga akhirnya, mendapat pinjaman dari kawannya untuk membuka bengkel. 

Dua orang putra Wisman telah menyelesaikan pendidikannya dan sekarang bekerja di Pulau Jawa dan satunya lagi bekerja di Kota Pekanbaru, kini tinggal putri ketiganya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) serta si bungsu yang masih balita.

Wisman begitu bersyukur anak-anaknya menjadi lebih baik darinya. Ia hanya perlu mendukung dan mendoakan. Sosok yang begitu ramah ini tak ingin apa yang ia alami dialami pula oleh anaknya. Ia berusaha sekuat tenaga bahkan rela mengorbankan apapun demi anaknya. Satu hal yang dipikirkannya hanyalah bagaimana mencari rezeki yang barokah untuk membiayai anak-anaknya sekolah. 

Menurutnya, menuntut ilmu adalah hal yang penting. Orang yang berilmu dan dapat bermanfaat bagi masyarakat akan mempunyai derajat tersendiri.

Usai memperbaiki ban mobil pelanggannya itu Wisman memberitahu kalau pelanggan lagi ramai ia bisa mendapatkan Rp. 250.000,- per hari dengan untung bersihnya Rp. 100.000,00. Itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan belanja di rumah dan juga untuk keperluan biaya sekolah anak.

Salah satu pengunjung di bengkel Wisman, Andre mengatakan selalu berlangganan di bengkel Wisman karena ia lihat Wisman adalah orang yang cukup teliti. "Saya rasa bapak ini seorang yang pekerja keras, cukup ulet, hasilnya pekerjaannya juga bagus dan itu makanya kalau ada permasalahan dengan ban mobil saya sering kesini saja," tuturnya.

"Semangat hidup bapak ini yang tinggi memberikan pelajaran yang cukup berarti dalam kehidupan saya," lanjutnya.

Mengakhiri ceritanya, sebagai orang tua ia berharap di mana pun putra-putrinya berada, kelak anak-anaknya bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Sebab ia percaya bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Ia juga berharap agar bengkel mungilnya bisa tetap berjalan dan bisa berkembang lagi karena saat ini masih menggunakan alat manual dan sederhana.

Sebagai tulang punggung keluarga, Wisman dapat memenuhi kebutuhan keluarganya meski memiliki keterbatasan fisik dan memberi inspirasi bagi kita semua untuk terus bersemangat dalam menjalani kehidupan.

Doni Saputra (Doni WP)

WawasanProklamator.com Jauh Lebih Dekat

(c) Hak cipta WawasanProklamator.com. Jika mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh

Komentar

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar