Senja di Pagi Hari

Yolla Dwi Mutia
Selasa, 10 Juni 2014 Share

Pagi selalu memberikanku warna yang berbeda, memberikanku kembali semangat akan harapan-harapan yang ingin kukejar bahkan kunanti sama halnya dengan senja. Bagiku senja adalah sebuah pengharapan untuk bisa melihat pagi kembali dan satu hal pagi dan senja bagiku adalah sebuah penantian, penantian yang ntah kapan akan berbuah menjadi sebuah pertemuan.

Tanpa kusadari sudah 4 tahun 3 bulan 12 hari aku menunggu pagi dan senja yang sama, pagi dan senja yang selalu membuatku menunggu di tempat yang sama dan jam yang sama sesuai kebiasaan kita dulu 4 tahun silam dan ditempat ini juga kau memutuskan ku tanpa sebab dan pergi begitu saja. Saat kau mengatakannya aku hanya diam, lidahku kelu sekedar untuk menanyakan mengapa yang kutahu saat aitu aku seperti patung yang pasrah saja mendengar pengakuanmu dan kemudian menatap punggungmu yang kian menjauh, ya hanya itu yang kulakkan saat itu.

Setelah hari itu aku masih bangun di pagi hari dan pergi ke tempat itu hanya untuk berharap aku bisa menemukanmu, begitupun senjanya setiap aku pulang kantor aku juga ke tempat yang sama berharap kau menungguku seperti biasa, tidak tepatnya seperti 4 tahun silam ya 4 tahun silam yang sempurna.

Kini semuanya telah lama usai tapi ntah mengapa aku masih saja melakukan ritual itu, tentu saja tanpamu. Aku tak tahu lagi kabarmu karena semua koneksi antara aku denganmu dengan cepat kau putuskan, tapi sampai saat ini hidupku masih berlanjut meskipun kau membawa setengah jiwaku dan tak kau kembalikan tapi untungnya aku masih memiliki orang-orang yang selalu menemaniku.

Kini aku sudah lulus kuliah dan bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta, bagaimana dengan mu? Ah tentu saja kau lebih hebat dariku bukan karena kau sangat pandai sekali dalam segala bidang, ingatkah kau ketika kita berdebat dan kamu berhasil membuatku terdiam seribu bahasa karena ucapanmu tapi tentu saja itu hanya bercanda karena setelah itu kamu akan memelukku dan mengecup hangat keningku. Ah aku merindukan itu...

4 tahun sudah kejadian yang indah itu berlalu, hari-hari indah yang tak akan pernah bisa aku lupakan dan selama itu juga banyak yang mencoba menggantikanmu tapi sayang kamu masih saja betah menduduki posisi hatiku tentu saja itu bukan salahmu karena aku tetap membiarkanmu berada disana.

***

"Reniii..." Sapa seseorang ketika aku sedang menatap indahnya mata hari terbenam

Aku menoleh, ntahlah suara itu terasa tidak asing bagiku, aku langsung menoleh ke belakang dan alangkah terkejutnya aku karena disana sudah berdiri Andre teman kantorku.

"Andre.. ngapain kamu disini?"

"Yang ada aku yang nanya, kamu ngapain disini?"

Enggan aku menjelaskan kenapa aku disini. "aku.. oh tadi kebetulan lewat sini lagi pengen ngeliat sunset, nah kalau kamu?"

"Oh.. sama Ren lagi pengen nenangin pikiran aja. Boleh aku duduk disebelahmu?"

Aku mengangguk

Waktu kami pun banyak dihabiskan dengan membicarakan masalah kantor sampai akhirnya tak terasa matahari sudah menghilang dari ufuk barat dan satu per satu bintang mulai bermunculan Andre menawarkan ku pulang dan aku mengiyakan.

"Terimakasih ya Ndre, mampir dulu yuk" kataku ketika sebelum turun dari mobil sedan hitam Andre

"Iya sama-sama Ren, hemm.. nggak usah Ren aku langsung balik aja deh. Ngomong-ngomong makasih ya buat senja hari ini singkat tapi sangat bermakna." 

Aku tersenyum dan mengangguk, lalu membuka pintu mobil. Seketika mobil Andre meninggalkan halaman rumahku aku menatap mobil itu pergi dan tahukah kalimat terkahirnya itu mebuatku kembali mengingat masa-masa 4 tahun silam tanpa adanya ciuman hangat dikeningku.

Setelah kejadian kemarin kami sering ke tempat kenangan itu, Andre selalu menawarkanku untuk pulang bersama lalu kami singgah di pantai itu pertemuan kami jadi semakin intens karena selain di kantor dia juga sering mengajakku makan malam keluar. Dan ntah mengapa aku melihat sosok mu di dalam Andre. 

Siang itu Andre mengajakku makan siang di sebuah restoran sebelah perusahaan aku cepat mengiyakan karena perutku juga sudah minta diisi, kami berjalan kesana karena jaraknya sangat dekat, setibanya disana kami memesan makanan masing-masing dan kembali mengobrol tapi kali ini obrolan kami mulai menjurus ke hal pribadi.

"Ren.. ngomong-ngomong aku sering anterin kamu pulang dan ajakin makan keluar emang nggak ada yang marah?" kata Andre tiba-tiba

"Eh.. engga kok, emang kenapa?" jawabku hampir tersedak karena tak percaya Andre akan menanyakan hal itu"

Hahaha... nggak papa aku cuma nanya kan nggak enak kalau kamu ternyata sudah punya pacar"

"Hahaha santai aja Ndre.." jawabku tertawa

"Ngomong-ngomong kau terahir pacaran kapan?" 

Aku langsung menghentikan makanku itu berarti aku harus kembali mengingat tentang dia bahkan mungkin mengorek kembali luka itu.

"Renn heloo.. kok bengong?" Andre melambaikan tangannya di depan wajahku

"Eh.. enggak.. tadi tanya apa?"

"Lo terakhir pacaran kapan?"

"Oh.. 4 tahun yang lalu," jawabku sekenanya

"Wih lama juga berarti lo ngejomblo, kenapa tuh? Belom bisa move on ya?" pertanyaan Andre seketika mengusik kenyamananku

"Eh.. balik yuk, jam makan siangnya bentar lagi habis." 

Andre seperti mengerti, dia langsung membayar dan kamipun pergi ke kantor kembali. Di perjalanan kami berdua diam, aku sibuk dengan pikiranku dan Andre sibuk dengan pikirannya juga. 

Sore ini hujan turun sangat lebat itu artinya aku tidak bisa melihat senja seperti biasa, ya selama ini yang menjadi penghalang ritualku itu adalah ketika hujan turun.

"Ren.. kok belum pulang" Andre yang tiba-tiba sudah berada disampingku

"Iya.. nunggu hujan teduh dulu, lupa bawa payung."

"Yaudah aku anter aja yuk kalau gitu."

"Eh nggak usah Ndre gue pulang sendiri aja lagian bukannya lo ada acara malem ini."

"Nggak papa Ren, lagian kan rumah kamu sama kontrakan aku searah udah yuk," Andre menarik tanganku dan menuju basement tempat mobil Andre terpakir.

Sejurus kemudian mobil Andre melaju dengan kecepatan normal membelah jalanan ibukota yang basah oleh air anugerah Tuhan itu, para pejalan kaki maupun sepeda motor merapat ke halte-halte atau emperan toko yang berada didekatnya tapi itu tak membuat jalanan menjadi lengang, jalanan masih saja macet apalagi kalau jadwal pulang kantor begini.

"Renn..soal tadi aku minta maaf ya," Tiba-tiba Andre memutus keheningan yang sejak terjadi berlangsung

"Eh.. minta maaf buat apa?"

"Soal makan siang tadi yang pertanyaanku mengenai masa lalumu itu"

"Oh.. itu udahlah nggak papa kok Ndre, kenapa harus minta maaf?"

"Ya.. nggak enak aja soalnya kamu kayaknya langsung tersinggung begitu" aku hanya tersenyum

"Ngomong-ngomong, masalah itu apakah benar pertanyaanku itu?"  aku diam tidak lebih tepatnya aku berpikir apakah ini saatnya aku berbagi dengan seseorang masalah itu tapi bagaimana mungkin dengan Andre, aku baru mengenalnya sebulan ini.

"Eh.. kalo nggak mau dijawab nggak papa kok Ren" 

Aku tetap diam sampai akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan semuanya, aku menceritakan semua ritualku dan perasaanku tentang 4 tahun silam dan tentang semuanya yang terjadi. Andre mendengarnya dengan seksama dan ntah mengapa aku begitu nyaman dengan tatapannya itu, tatapan yang begitu teduh dan aku ingin waktu berhenti untuk beberapa saat, tapi sayang itu tidak akan pernah terjadi karena setelah aku selesai bercerita mobil Andre sudah berhenti juga di halaman rumahku, seketika aku hanya diam dan menunduk.

"Hei.. kamu nggak mau turun?" 

Aku menatapnya seolah mengisyaratkan untuk memberikan nasehat atau memberikan tanggapan atas ceritaku itu dan ntah mengapa sepertinya Andre mengerti karena sebelum aku benar-benar turun dia memegang tanganku dan berkata "kamu itu seperti senja di pagi hari" kemudian tersenyum. 

Oh Tuhaaann.. apa maksudnya itu dan tatapan itu kenapa tatapan itu begitu menyenangkan dan menenangkan, apakah kini aku berhasil keluar dari zona sakit itu. 

Sejam setelah Andre mengantarku pulang dan semuanya terasa berubah, beban berat yang terasa selama 4 tahun silam itu seketika luntur, ada perasaan yang tak biasa yang kurasakan Oh Tuhan apakah ini, apakah Kau mengirimkan Andre untuk menghapus semua ini. Aku tak bisa berpikir dengan baik, aku merasakan setiap hembusan nafasku adalah sebuah kelegaan.

Keesokan harinya, dan untuk pertama kali setelah 4 tahun silam aku melewati ritual pagiku bukan karena aku lupa tapi tepatnya kini Andre sudah berada di depan rumahku aku tak tahu mau kemana Andre akan mengajakku, malam tadi dia hanya bilang kalau akan menjemputku tepat pukul 6 pagi, akupun hanya menurut. 

Di sepanjang perjalanan kami hanya diam, aku ingin sekali menanyakan apa maksud ucapannya malam itu tapi ntah mengapa bibirku rasanya terkatup dan hatiku berbicara bahwa aku akan segera menemukan jawabannya. Jam 7 pagi kami tiba di tempat, tapi hei apakah ini pantai. Andre membukakkan pintuku dan membimbngku berjalan mendekati sebuah batu besar. Berjuta pertanyaan telah siap aku lontarkan tapi Andre dengan tenangnya menjawan semuanya terlebih dahulu.

"Kamu pasti akan bertanya mengapa aku membawamu kesini dan kamu pasti ingin tahu apakah maksud dari ucapanku semalam. Kamu lihat pagi ini begitu indah bukan, dan lihat matahari itu begitu cantik sinarnya tapi bisakah kamu seketika membayangkan bahwa saat ini senja? Tentu tidak karena mereka berbeda dan memiliki keindahannya masing-masing, itulah mengapa aku menyebutmu senja di pagi hari karena kamu tidak bisa membedakan kebahagianmu dulu dan sekarang kamu menyamakan pagi dan senja sebagai hal dimana kamu harus menunggu seseorang yang ntah kapan akan tiba padahal kamu masih memiliki pagi dan senja yang lain dan mungkin malah membuatmu jauh lebih bahagia, lupakan pagi dan senja mu 4 tahun silam karena itu hanya keindahan sesaat tapi mulai hari ini tataplah pagi ini dengan keindahannya begitupun dengan senja karena mereka berbeda, sangat berbeda dengan itu kamu akan memahami sesungguhnya pagi dan senja itu bukan untuk penantian tapi untuk kebahagiaan."

Seketika aku tertegun dengan ucapan Andre, air mataku menetes semua yang dituturkan Andre seolah menyadarkanku bahwa selama ini aku telah menjadikan kuasa Tuhan itu adalah sebuah penantian yang tak akan pernah ada, aku telah salah menganggap pagi dan senja sebagai hal untuk mengenang padahal dibalik semua itu ada cerita lain yang aku tak menyadarinya bahwasanya pagi dan senja adalah sebuah harapan baru untuk memulai kebahagiaan.

Aku memeluk Andre, Andre membalasnya dan kemudian membisikkan "maukah kamu menjemput kebahagiaan pagi dan senja itu bersamaku". Aku tak dapat membendung lagi air mataku sebagai jawaban ya aku memeluknya lebih erat.

"Terimakasih Andre" diisak tangisku.

**

Yolla Dwi Mutia (@yolladwim), Jurusan Akuntansi, Fakultas  Ekonomi Universitas Bung Hatta 

(c) Hak cipta WawasanProklamator.com. Jika mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh.

Artikel Sastra / Cerpen lainnya

Komentar

Muhammad Iqbal
Jl. Andalas no 15, Padang Sumatera Barat
Selasa
05 April 2016 | 08:33:00 WIB
Cerita ini sangat menginspirasi. Terima kasih ^_^ 

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar