Scent Of Flowers

Kamis, 06 Maret 2014 Share

Udara malam terasa begitu sunyi, cahaya bulan terpancar dari sela-sela tirai kabut seakan melengkapi suasana malam yang begitu sepi. Terlihat seorang pemuda sedang duduk sendiri di ujung dek kapal sembari terus memandangi setangkai bunga yang seakan menyimpan ribuan kenangan di setiap helainya. Deburan ombak dimalam itu membawa jiwanya yang sedang rapuh bersemilir dengan angin malam yang melambai-lambai di udara. Tanpa berkedip, pria berkekuatan besi itu terus menatap bulan.

"Apa yang sedang ia lakukan?" begitulah pikir Rino, teman sang pemuda yang akrab dipanggil Dicky itu kebetulan lewat di dek. Rino bersidekap dan bersandar ke tiang kapal sembari mengamati Dicky yang merupakan teman sekaligus kaptennya kini terlihat bernostalgia dengan angin malam. Pria itu tampak menggenggam setangkai bunga yang mulai layu. 

Rino penasaran, kenapa bunga itu selalu disimpan oleh sang kapten? Seakan ada sebuah kenangan indah yang tak akan pernah terlupakan padanya. Rino mengernyitkan alisnya, mencoba berpikir apa rahasia yang selama ini disimpan oleh sang Kapten. Tapi beruntung Dewi Fortuna sedang dipihaknya, Dicky mulai bergumam menatap bunga itu dalam seolah mencurahkan isi hatinya. Rino mencoba hati-hati mendekat dan memasang kupingnya dengan baik. 

Sudah 11 tahun sejak kau memberikan bunga ini kepadaku. Besok adalah ulang tahunmu yang ke-20 sekaligus Festival Bunga di Sina Garden. Kita berjanji akan bertemu di sana dan merayakan ulang tahunmu bersama. Tapi ku pikir, sepertinya aku tidak bisa menepati janji itu. 

Maafkan aku. Aku tidak mungkin menunda perjalanan kami dan kembali ke sana. Aku tidak mungkin membebani temanku dengan masalahku. Tahukah kau? Sekarang aku benar-benar menjadi seorang Kapten Bajak Laut. Aku memiliki kru yang sangat unik dan kompak. Ya, walaupun mereka sangat berisik dan suka berantem satu sama lain, tapi aku tahu mereka saling menjaga dan menyayangi seperti sebuah keluarga. Aku sangat mencintai mereka, karena itu aku tidak bisa membebani mereka. Maafkan aku, Alice.” 

Dicky memejamkan matanya dan memeluk bunga itu erat seolah bunga itu adalah gadis yang bernama Alice itu. Rino yang mengerti dengan masalah Dicky hanya bisa tertegun. 

"Jadi, demi kami kau rela mengingkari janjimu dengan gadis itu, Kapten?" "Tak akan kubiarkan." "EH??"

Rino kaget mendengar suara yang seolah menyambung pikirannya barusan. Ia menoleh ke samping dari sumber munculnya suara. Ternyata tampaklah teman sekamarnya juga sedang menguping tepat disebelah tiang tempat ia bersembunyi. 

KAU??

bisik keduanya kaget saling tunjuk-menunjuk. 

"Jadi kau juga sedang mengintipnya?" bisik Rino penasaran kepada pria berambut pirang berperawakan bule yang bernama William itu. 

"Bodoh =_=, aku tidak suka dengan kata Mengintip itu. Lebih tepatnya aku sedang mencari tahu tentang sifatnya yang akhir-akhir ini Galau. Sepertinya kapal kita ini lebih baik diberi nama Galauers deh karena seisinya galau mulu ampe ama Kapten-kaptennya." ulas William menggaruk-garuk kepalanya yang mana langsung mendapat hadiah sebuah tampolan indah dari seseorang yang muncul dari belakangnya. 

PLAAAKK 

"Argh! Sakit!!" protes William mengusap-usap kepalanya. 

Rino yang kaget melihat kemunculan pria berambut semi tentara itu hanya ternganga.  

"Jadi kau juga mengintipnya?" Enak aja ngintip. 

"Mending aku ngintipin kucing kawin dari pada dia. Aku hanya kepo saja, makanya ikut mengawasi dari sini. Tidak hanya kita saja kok, mereka juga." ujar pria bernama Oby itu menunjuk teman-temannya yang lain sedang berebutan mengintip dari balik layar kapal.

"Jiah (-..-)a" Rino hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Baiklah, jadi tunggu apa lagi? Ayo kita memberikan sebuah kejutan manis untuk si Kapten. Bagaimana?" ujar satu-satunya gadis di kapal itu turun dari layar dan berkumpul dengan yang lainnya. 

Semua saling melirik dan nyengir, seolah mereka mempunyai telepati untuk berkomunikasi dalam diam dan memiliki pemikiran yang sama, serentak mereka mengangguk dan melakukan tos. 

"YOSH!!!" bisik mereka agar tidak kedengaran oleh Dicky.

***

Pagi itu Dicky terbangun dari tidurnya. Ia keluar dari kamar dan berjalan menuju dek sambil meregangkan urat-urat sarafnya yang kaku. Cuaca cukup cerah sehingga membuat sekumpulan burung camar melenggak-lenggok di udara menghiasi pagi yang tenang itu. 

Dicky tersenyum semangat. Entah kenapa pagi ini perasaannya benar-benar tentram dan damai. Terlebih lagi udara pagi ini begitu segar dan wangi. Tapi, ngomong-ngomong tentang wangi, tiba-tiba Dicky tertegun. Ia menyadari ada sesuatu hal yang ganjil disini. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan mengendus-endus udara. 

"Aroma ini," tiba-tiba Dicky tersontak kaget menyadari aroma khas seperti ini, terlebih melihat pulau yang tampak tak lain diujung sana. 

Pulau yang begitu indah dan tampak berwarna-warni bak pelangi. Yang memancarkan aroma bunga khas yang sangat harum dan tajam, sehingga mampu menarik siapapun yang mencium aroma itu tak bisa berpaling meninggalkan Pulau nan indah itu.

"Ba, bagaimana bisa?" batin Dicky shock dan terduduk. 

Perasaan baru saja tadi malam ia memikirkan tempat di pulau itu, tapi kenapa paginya tiba-tiba ia sudah berhadapan dengan Pulau itu? Dicky segera bangkit dan langsung berlari ke dalam kapal. 

Tapi begitu ia tiba di ruang kemudi, ia hanya bisa terpana mendapati semua kru-nya tengah berdiri disana menunggu kedatangannya sambil nyengir seperti kuda nil.

"Kalian?"

"Kita terlalu fokus berpetualang Kapten, tidak ada salahnya kalau kita istirahat sejenak dan beristirahat di Pulau itu," tutur William tersenyum penuh arti.

"Tapi, lagian aku juga butuh tanaman baru untuk ku teliti. Begitupun senjata baru," ujar Rino mengulas ucapan Harist.

"Ya, aku juga ingin refreshing sebentar. Aku juga," kata Yola mengangguk.

"Tidak mungkin! Kita sudah berlayar separuh jalan menuju Ridan Town. Kenapa kalian memutar balik dan kembali ke sini?!" ujar Dicky bersikeras. 

"Kapten, kau tidak perlu tergesa-gesa. Kita tidak mempunyai tujuan penting ke Ridan Town, jadi kita bisa bersantai agak sebentar. Sudahlah, kau tidak mau melihat kami santai sebentar saja? Kita sudah melaut selama berminggu-minggu, ayolah," bujuk Oby menghampiri Dicky dan merangkulnya. 

"Ya, sudahlah kapten. Ku dengar hari ini ada acara Festival Bunga disini, kami ingin melihatnya. Sekalian kau juga bisa menepati janji mu kepada gadis bernama Alice itu," goda Yola membuat Dicky tertegun.

"Kalian, kalian tahu dari mana tentang Alice?" kaget Dicky.

"Kau pikir kami tidak tahu kalau kau bergalau ria semalaman di Dek? Ayolah kapten, jujur napah?" tukas Rino kesal. 

"Tapi, kau curang sekali. Gadis itu pasti cantik ya sehingga tidak mau mengenalkannya padaku? Takut kau tersaingi? Jahaha," guyon William membuat Dicky tersenyum. 

"Teman-teman," Dicky memandang haru kru-nya yang kini tersenyum penuh arti kearahnya.

"Sudah, sudah. Tisu dikapal ini sudah tidak ada stock nya lagi tau," celetuk Yola memukul punggung Dicky sehingga membuat pria itu tertawa. 

"Terimakasih teman-teman,"kata Dicky senang campur haru. 

"Jangan pikir kami melakukannya secara Cuma-Cuma ya? Habis ini kau harus menyervis ka,"

"PLAK*%BRUGGHH^$*&$" ucapan Rino terputus begitu Oby menghajarnya sebelum ia menuntaskan omongannya. 

Rino pun langsung membentang bendera putih tanda perdamaian dengan wajah bonyok di pojokan.

"Ahaahhahahaaa," seisi ruanganpun tertawa melihat sikap konyol kedua pria aneh itu.

Beberapa jam berlayar, akhirnya kapal New Shine Pirates pun tiba di Sina Garden, yang mana secara kebetulan memang bertepatan dengan Festival bunga yang di gelar sekali dalam setahun sekaligus tradisi untuk menyambut musim panas. Baru saja semuanya turun dari kapal, Suasana Pulau sudah tampak begitu ramai dan meriah.

Terlihat bermacam-macam rangkaian bunga terdapat di sepanjang jalan dan berpusat di alun-alun kota, yang mana menambah kesan Indah dan Alami Pulau yang memang terkenal dengan Negeri Semerbak Bunga itu.

"Woaaaaah, apakah aku sedang bermimpi berada di taman bunga yang indah ini?" ujar Yola tak bisa menahan hasrat kekagumannya terhadap bunga-bunga indah itu. 

"Kapten, kenapa kau tidak bilang kalau dulu kau pernah ke tempat seindah ini?" tukas Yola menjitak kepala Dicky.

"Ahahaha kau tidak tanya sih, hehe," kata Dicky nyengir seperti Kuda Nil.

"Baiklah, bagaimana kalau kita berjalan-jalan sebentar menikmati indahnya taman berbunga ini sekaligus mencari si gadis idaman Kapten kita, nona Alice yang pasti sangat cantik seperti bunga-bunga ini," ujar William membayangkan sesosok gadis berambut panjang dengan senyum cerah dan anggunnya turun dari kelopak bunga yang besar menghampiri William dan siap mencium pria itu.

William yang keenakan berimajinasi memonyongkan bibirnya siap menunggu ciuman manis dari gadis bayangannya, tapi khayalannya dikacaukan oleh telapak sepatu Rino yang mendarat tepat ke bibir dan wajahnya.

BRUUGHH William terpental sangat jauh dengan bibir dower dicium sepatu. 

"K.O!" ujar Oby bergaya wasit-wasit Smackdown mencap William yang tepar kalah telak.

"Ayo jalan," kata Rino enteng mengabaikan William yang dikerubuni banyak orang masih bonyok dengan tampang mesumnya.

Sesaat setelah menikmati kemeriahan Festival dan bercanda ria, Dicky dan Kru-nya pun berniat menuju rumah Alice yang terletak di pelosok kota. Karena sedari tadi, sejauh mata memandang, Dicky tidak menemukan sosok gadis berusia 20-an itu dimanapun. 

Butuh waktu yang lumayan lama untuk Dicky menemukan jalan ke rumah Alice karena struktur jalannya yang kini tampak sangat berbeda dan sudah dirombak. Tapi syukurlah jembatan penghubung berukuran besar yang dihiasi rangkaian bunga tulip itu masih terlihat sama seperti terakhir Dicky di Pulau ini, sehingga membuat pria itu kembali ingat dimana rumah sang gadis idaman yang sudah lama tak dijumpainya itu. 

Dicky pun memimpin jalan menyebrangi jembatan kenangan tempat dimana ia dan Alice kecil berpisah untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggalkan pulau itu. Sekilas semangat Dicky makin membara untuk mempercepat langkah nak berjumpa dengan Alice, sampai-sampai membuat Kru-nya sedikit berlari untuk menyamakan langkah dengannya.

Beberapa menit berjalan, akhirnya Dickypun menemukan rumah si gadis didepan mata. Tanpa sadar ia tersenyum bahagia dan jantungnya berdetak tak menentu. Senyum sumrigah yang menghiasi wajahnya tidak bisa membohongi kalau saat ini ia benar-benar merindukan sosok Alice.

Rasa penasaran ingin melihat seperti apa Alice dewasa pun membuatnya terhanyut dalam suasana yang sangat dalam ingin memeluk gadis itu erat kalau saja nanti sudah bertatap muka dengannya. Melihat sang Kapten masih berdiri seperti patung didepannya, Rino menyadarkan Dicky dari lamunannya. 

"Sampai kapan kau akan berdiri disini. Ayo!"  Dicky pun melirik Rino dan kembali menatap pintu rumah yang sudah di depan mata. 

Ia memantapkan hatinya untuk mengetuk pintu rumah yang dulu tampak besar itu, ya walau sekarang sudah terlihat biasa dengan ukuran tubuhnya yang sudah semakin dewasa. Tok tok tok Akhirnya Dicky mengetuk pintu rumah. Jantungnya berdetak tidak karuan. Ada semacam perasaan takut dihatinya, tapi Dicky tidak tahu perasaan apa yang tiba-tiba menghampirinya itu. 

Pintu masih belum terbuka. Kru-nya masih menunggu didalam diam sementara Dicky kembali mencoba mengetuk pintu. Tapi berapa kali pun dicoba, pintu masih saja tertutup rapat tiada yang membukakan pintu dan tersenyum cerah kearahnya seperti yang dibayangkan Dicky. 

"Ada sesuatu yang aneh,"  gumam William yang diiringi anggukan teman-temannya. 

"Ya, aku juga merasa begitu. Lihat rumah-rumah lainnya, semua dipenuhi dengan rangkaian hiasan bunga untuk merayakan Festival ini, tapi kenapa cuma rumah ini yang tidak dihiasi bebungaan? Dan lihat suasananya, terlihat sepi sekali. Ku rasa tidak ada orang di dalam. Rumah ini juga terlihat sudah tidak berpenghuni.” ujar Oby membuat semuanya terdiam.

"Apa mungkin Alice pindah rumah?" Yola mencoba berpikir positif. 

"Entahlah. Tapi yang kutahu, rumah ini adalah warisan dari kakeknya. Ia tidak akan mungkin meninggalkan rumah ini." kata Dicky teringat akan Alice kecil yang dulu pernah menceritakan kalau ia akan tinggal di rumah pemberian kakeknya itu sampai menikah bahkan sampai akhir hayatnya.

"Terus gimana dong?" tanya Yola berbisik kepada teman-temannya.

Sementara Dicky tampak Down di depan pintu dengan bunga digenggamannya kini mulai layu. 

"Bagaimana kalau bertanya kepada orang sekitar sini," ujar Rino yang langsung disetujui oleh yang lainnya.

Semuanya pun langsung menyebar mencari tahu keberadaan Alice, begitupun Dicky, dengan perasaan tidak karuan ia pun mulai bertanya kesana-kemari pada setiap orang yang di jumpainya. Berharap ada seseorang yang menjelaskan apa yang terjadi pada Keluarga Alice sepeninggalnya pergi. Tapi seolah Skenario telah disusun, tiada satupun yang menjawab pertanyaannya. 

Setiap orag yang di tanyainya selalu diam dan mencoba menghindar. Dicky tampak kesal campur heran, apa yang sebenarnya terjadi? Dimana Alice? Kenapa semua diam mendengar nama gadis pecinta bunga itu disebutkan? 

"ARGH!!!" teriak Dicky kesal menendang udara. 

Para Kru-nya yang melihat rasa frustasi Dicky segera berkumpul dengan wajah lesu.

"Aneh! Semua tidak mau menjawab bahkan menghindar. Ya, aku juga diabaikan begitu menyebutkan nama Alice.Ada apa sebenarnya? Sepertinya ada yang tidak beres disini. Seolah semuanya tidak ingin mengenal yang namanya Alice. Benar-benar mengherankan!" ujar William bertolak pinggang. 

Dicky hanya tertegun menatap setangkai bunga yang kini digenggamannya.

"Alice, kau ada dimana?" batin Dicky sedih. 

Para Kru yang melihat semangat Dicky kini Down tampak ikut bersedih. Semuanya mencoba menenangkan Dicky, tapi sia-sia, hati pria itu sudah terlanjur sakit mendapati kenyataan tak dapat bertemu lagi dengan si gadis idaman. Tapi tidak sampai saat itu seorang kakek-kakek menghampiri mereka dan menyentuh pundak Dicky.

"Dicky? Kau Dicky yang dulu sering main bersama Alice kan?" ujar si kakek membuat Dicky membulatkan matanya dan mengangguk semangat.

"Iya kek. Ya, aku Dicky temannya Alice. Kau..." Dicky berpikir sejenak mengingat siapa gerangan si kakek yang baru saja menegurnya itu.

"Wah, Kakek si perangkai bunga. Kau masih sama seperti terakhir kita bertemu kek, hanya saja sekarang kumis dan jenggotmu bertambah lebat," ujar Dicky teringat dengan si kakek.

Si Kakek yang kerap dipanggil Gimbol itu tertawa. 

"Yayaya, kau selalu saja memperhatikan jenggot dan kumisku anak muda," kata Gimbol membuat Kru Dicky meledak tertawa. 

"Oh ya kek, apa kau tahu dimana Alice sekarang? Aku berjanji akan menemuinya di hari Ulang tahunnya ini. Aku ingin bertemu dengannya kek. Ku mohon beritahu aku dimana keberadaannya," tukas Dicky mendesak Gimbol. Tapi si kakek tua itu hanya menundukkan kepalanya dan meraba punggung Dicky.

"Lebih baik kita kerumahku dulu, aku akan menceritakannya dirumah," ajak Gimbol membawa Dicky beserta Kru-nya ke rumahnya. 

Mau tak mau, semuanya pun mengikuti sang kakek ke rumahnya yang tak jauh dari rumah Alice. Setibanya di rumah, Gimbol mempersilahkan semuanya duduk di ruang tamunya yang cukup luas. Sementara itu Gimbol mengambil sesuatu di dalam kamarnya. Sementara sang kakek ke kamar, semuanya tampak deg-degan menunggu penjelasan dari sang kakek.

"Tenanglah Kapten," kata Yola yang melihat Dicky tidak sabar disebelahnya.

"Aku merindukannya. Ya, kami tahu kapten. Karena itu kau harus tenang dulu," ujar Oby yang duduk disebelahnya lagi.

 Dicky hanya diam dan mengambil nafas. Walau terpaksa ia pun tersenyum.

"Baiklah, aku akan mencoba tenang," ujar Dicky memantapkan hati.

Beberapa menit kemudian, keluarlah si kakek dari kamarnya. Ia membawa semacam figura yang saat ini tidak begitu penting bagi seisi ruangan, karena mereka hanya butuh penjelasan tentang keberadaan Alice disini. Si kakek duduk selonjoran di hadapan semuanya. Ia mencoba mengambil nafas baru sanggup untuk memulai bercerita. 

Alice sangat menyukai bunga. Hal ini pula yang membuatnya bercita-cita menjadi Dokter sekaligus Ilmuan yg hebat. Dan siapa tahu, ia benar-benar berhasil mewujudkan impiannya. Alice benar-benar menjadi seorang Dokter muda dan Ilmuwan yang hebat.

 Malam itu..  

[FLASHBACK]

Malam itu cuaca terasa begitu hangat dan gerah. Suasana pun terasa sunyi dan sepi. Jarum jam sudah menunjukkan pukul Dua subuh. Disaat semua orang tengah terlelap tidur, seorang gadis muda tampak sibuk dengan eksperimennya. 

Di atas meja kerjanya, tampak dua macam bunga yang disebut Rain Flower dan Sun Flower tengah dicampur menjadi satu dan dikawin silangkan dengan berbagai elemen lainnya. Hasil kawin silang kedua bunga itu ditaruh didalam sebuah toples kaca yang putih polos untuk melihat reaksi eksperimen tersebut.

Selesai dengan kerjanya, kini si gadis yang akrab dipanggil Alice itu hanya perlu menunggu reaksi kedua bunga itu. Cukup lama mengamati bunga di toples yang tak kunjung bereaksi, Alice merasakan kantuk berat dan tertidur dengan merebahkan kepalanya ke atas meja dan duduk dikursi lipatnya. 

Tanpa disadari, sewaktu ia terlelap dalam tidurnya, bagaikan sebuah sihir, bunga itu tiba-tiba bereaksi seperti larutan yang dicampur dan bertransformasi menjadi satu. Seisi toples berubah menjadi berwarna-warni. Bunga itu mekar di dalam toples dengan bermacam warna yang tampak seperti pelangi. Yang membuat siapapun yang melihatnya pasti akan Koprolan sambil teriak WOW!! #PLAK Beberapa saat kemudian, ayampun berkokok menandakan pagi sudah tiba.

Matahari mulai menyinari bumi dan menyusup melalui celah-celah ventilasi. Alice yang tengah tertidurpun terbangun akibat sinar tajam matahari yang menantangnya melalui celah. Ia mengusap-usap matanya yang sedikit perih. 

"Urgh," ringis gadis itu meregangkan uratnya yang kaku. 

Tapi sekilas melihat perubahan sempurna yang terjadi di toples, Alice tak dapat menyembunyikan ekspresi takjub campur shocknya. Mulutnya terbuka lebar dan sesaat ia mematung seperti kehilangan kesadaran. 

"Berhasil?" gumam Alice Unbelievable meraba toples itu dan membuka tutupnya.

Baru saja tutupnya dibuka, semerbak aroma wangipun bertebaran keseluruh ruangan. Bunga itupun mekar terkena udara dan menyumbul keluar. Gadis itu tak dapat menahan air matanya haru, ia pun menangis bahagia menyaksikan eksperimen pertama nya itu berhasil sempurna. 

"Ibu, aku berhasil membuat Rainbow flower. Kau harus melihatnya ibu. Aku berhasil. Hiks," gadis itu menangis teringat almarhum ibunya yang sedari dulu ingin sekali melihat bunga seperti pelangi di langit itu. 

Tak puas dengan itu saja, si gadis pun melanjutkan eksperimennya. Hari-harinya dihabiskan didalam ruangan terisolasi itu. Ia makin bersemangat membuat sesuatu yang baru bahkan sampai makan pun ia lupa. Saat itu lah muncul si kakek Gimbol yang sangat menyayangi Alice seperti cucunya sendiri menghampiri Alice yang sedang bereksperimen. Ia melihat wajah gadis itu tampak berseri-seri dengan penemuan barunya.

"Alice, kau tidak boleh terlalu lama mengunci diri di ruangan ini," tegur Gimbol meraba bahu Alice. 

Alice melirik si kakek dan tersenyum. 

"Tidak apa kek, ini hanya sebentar lagi kok. Alice yakin, sebentar lagi penemuan Alice ini akan berhasil sempurna kek. Alice ingin menyembuhkan berbagai macam penyakit warga dengan penemuan Alice kek, karena itu Alice tidak akan menyerah sebelum berhasil," ucap gadis itu dengan mata yang berbinar-binar. 

Sehingga membuat Gimbol semakin takjub dengan tekad kuat dan kemandiriaannya. Dan benar saja, dengan ilmu kedokteran yang ia miliki, hanya dengan selang beberapa hari dari penemuan bunga Pelanginya, Alice pun berhasil menjadikan Rainbow Flower itu menjadi teh herbal yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit serta meningkatkan stamina tubuh. 

Alice tampak senang dan akhirnya mencoba sendiri eksperimennya. Puas dengan hasil kerjanya, Alice pun mulai menyebarluaskan penemuannya dan membagikan semuanya secara cuma-cuma untuk kesehatan rakyat sekitar.  Bahkan karena keuletan dan prestasinya, gadis itupun menjadi dokter muda yang sangat terkenal di seluruh penjuru pulau. Banyak warga yang pergi berobat kepadanya.

Tidak hanya karena penemuannya yang manjur, ia pun juga dikenal sebagai seorang Dokter muda yang terkenal akan keramahan dan kebaikan hatinya. Pasien-pasiennya yang tak punya uang untuk berobat pun tetap diberikan pengobatan dan pelayanan yang baik, sehingga membuat semua orang sangat menyukai dan menyayanginya.

Sampai saat itu terbitlah sebuah surat kabar yang berisikan tentang Pemerintahan Dunia yang mulai tertarik dengan prestasi Alice. 

Teman kecil Alice pun datang ke kliniknya membawakan surat kabar itu,  "Dokter, dokter, lihat ini! Kau masuk Surat Kabar. WOW! Menakjubkan!" teriak bocah berperawakan bule yang sangat mengagumi Alice itu histeris.

Alice mengernyitkan alisnya dan meraih surat kabar itu, "Terimakasih, Duvoy. Ya Dokter ^^" Alice pun mulai membaca halaman yang terlampir di Surat Kabar itu.

 =DOKTER MUDA DARI SINA GARDEN= (Seorang Dokter Muda di Sina Garden berhasil membuat sebuah bunga Pelangi yang sangat indah dan Teh Herbal yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit serta menambah stamina tubuh. Alice Worflow, 18 tahun. Dilirik Pemerintah Dunia untuk berkerjasama membuat terobosan baru dalam bidang Kesehatan)

Baru saja selesai membaca berita itu, tiba-tiba kaki Alice bergetar. Ia pun tak sanggup menopang tubuhnya dan terduduk bersimbah air mata kebahagiaan.

"Aku berhasil, Aku berhasil!" isak Alice kembali menangis dalam kebahagiaan akhirnya penemuannya diakui Pemerintah Dunia dan ia akan bekerjasama dengan mereka. Ini adalah harapan setiap ilmuwan, bekerjasama dengan Pemerintah Dunia.  

Tidak pernah terpikirkan sekalipun dalam benaknya ia akan mendapatkan penghargaan sebesar itu, karena itulah Alice benar-benar takjub dan bersyukur. Akhirnya, akhirnya ia bisa mewujudkan mimpinya untuk menjadi Dokter yang hebat dan sukses. 

"Ibu, aku akan bekerjasama dengan Pemerintah Dunia. Ibu, lihatlah anakmu ini. Akhirnya keinginan ku tercapai bu, aku akan berusaha menyembuhkan semua penyakit orang-orang, agar tidak ada lagi orang-orang yang menderita penyakit seperti yang ibu idap dulu. Ibu, apakah sekarang ibu bangga padaku?" isak Alice dalam tangisnya.

Beberapa hari kemudian, datanglah utusan Pemerintah menghampiri Alice. Alice dibawa ke Govertment Headquarters dan diajak untuk menandatangani surat Kerjasama dengan  Pemerintah. Alice menyetujuinya dan melakukannya. 

Setelah itu Alice pun dilantik dan diangkat menjadi bagian dari Pemerintahan. Ia mulai dikenal masyarakat banyak dan mengharumkan nama Pulau asalnya, Sina Garden. Alice kini bertugas di Pusat, ia bersama peneliti lainnya mengembangkan berbagai macam obat-obatan yang sangat manjur dan berguna bagi orang banyak. 

Namun pada suatu malam, saat Alice keluar dari kamarnya dan berniat melanjutkan eksperimennya, tiba-tiba ia mendengar suara orang-orang sedang Rapat Besar di Majelis. Alice yang tidak tahu menahu dengan meeting itu penasaran kenapa ia tidak diberitahu untuk meeting, seolah rapat besar itu sengaja disembunyikan darinya.

Alice menempelkan kupingnya ke pintu ruangan, terdengarlah disana suara debat para tetua Pemerintahan sedang membahas bunga temuan Alice. Alice semakin penasaran dan berniat membuka pintu, tapi niatnya urung saat ia mendengar langkah kaki dikoridor. 

Ia pun segera bersembunyi di bawah meja yang kebetulan bisa dijadikan tempat persembunyian di depan pintu. KREEK Pintu ruangan Rapat itu terbuka, dari sana keluarlah beberapa orang besar di Pemerintahan.

 Mereka membahas tentang Rainbow Flower, Alice mengernyitkan alisnya.

"Apa yang sedang mereka rencanakan?"batinnya heran.

Beberapa saat kemudian keluarlah seorang pria yang akrab dipanggil  Decova dari ruangan. Ia tampak kesal dan melempar sebuah selebaran di luar ruangan, lalu ia berlalu begitu saja dengan wajah masam. Setelah memastikan semuanya pergi, Alice keluar dari tempat persembunyiannya dan memungut selebaran itu.

  =PROJECT PIL DOPING MANUSIA SUPER= Telah diteliti, Rainbow Flower memiliki kandungan kimia yang bisa memberikan stamina besar pada tubuh manusia. Apabila ditambahkan dengan sedikit penemuan lagi, kandungan Rainbow Flower dapat dijadikan sebagai Pil Doping untuk membuat manusia biasa menjadi Manusia Super. Project 234, besok diserahkan ke tangan Vega Punk. 

"Apa?" Alice menutup mulutnya shock setelah membaca selebaran itu. 

Pantas saja rapat itu dirahasiakan darinya, ternyata Pemerintah ingin menyalahgunakan penemuaannya untuk mendapatkan untung semata dengan penemuannya. Terlebih lagi kalau bunga itu sampai ke Tangan Vegapunk, si raja Eksperimen yang umumnya menciptakan penemuan-penemuan yang berbahaya, Alice yakin ini akan berefek buruk bagi setiap manusia. 

Akhirnya, Alice yang panik menghubungi Gimbol dengan telepon. Ia menceritakan semua tentang niat jahat Pemerintah dan planningnya untuk menggagalkan niat mereka.

"Alice akan melenyapkan semua bibit Rainbow Flower yang digedung Vegapunk kek, kalau terjadi apa-apa, Alice harap kakek bisa menjaga diri dan hidup sehat. Alice sangat menyayangi kakek. ALICE!!!" Tut tut tut Belum sempat Gimbol melarang aksi gila gadis itu, Alice sudah menutup teleponnya terlebih dahulu. Gimbol terlihat sangat cemas dan kembali menghubungi Alice.

Tapi tiada yang menjawab. Akhirnya Gimbol hanya bisa pasrah dan berdo’a untuk gadis itu. Di lain sisi, Alice menyusup ke gedung penelitian Vegapunk dengan menyamar sebagai Professor kawakan dari Barat. Setelah berhasil menyusup dan menemukan Ruang induk ‘Rainbow Flower’nya, Alicepun mengacaukan semua sistem gedung dan menyulut api.

Saat semua bunga Pelangi itu mulai dilalap api dan gedung siap meledak, Alice kabur dan berlari meninggalkan gedung secepatnya. Seisi gedung panik dan berusaha membebaskan diri dari kepungan api. Tak tertinggal Vegapunk yang tampak marah gedungnya diobrak-abrik, ia berteriak tidak terima dan terpaksa ikut menyelamatkan diri.

Dalam hitungan detik, gedung itupun meledak dan hancur seperti pecahan gelas. Beruntung Alice yang selamat segera melarikan diri dan bersembunyi saat semua pasukan menuju lokasi dan melakukan sidak. Tak ada yang tersisa dari gedung itu, semua penelitian Vegapunk terbakar habis.

Pemerintah dunia yang mendengar kabar itu marah besar dan mengetahui Alice yang melakukan ini semua. Semua Armada pun dikerahkan ke setiap pelosok untuk mencari Alice, agar dia bisa mempertanggung jawabkan perbuatannya dan tidak membeberkan rencana busuk mereka ke publik. 

Berhari-hari lamanya Alice tidak ditemukan. Pemerintah tampak panik mencarinya dan mulai ketakutan. Sementara itu Alice hidup di taman bunganya tanpa makanan dan minuman, bahkan saat ini ia mendapatkan luka bakar akibat terkena ledakan dan serpihan kaca dari gedung yang meledak.

Darahnya dibiarkan bercecer dan tak diobati. Ia sudah sangat lemas dan hampir tidak sadarkan diri. Tapi hanya itu satu-satunya tempat dimana ia bisa bersembunyi dan tidak ditemukan. Geram dengan tidak ditemukannya gadis itu, Pemerintah dunia pun berniat mengutus Chiper Pol untuk menghabisi keluarga Alice. 

Namun mengetahui gadis itu adalah sebatang kara sejak ditinggal mati Ibunya, Pemerintah dunia pun menjadi makin marah dan mengadakan pencarian besar-besaran dengan mengutus setiap pasukan ke setiap daerah. Pemerintah mulai menerbitkan surat kabar yang memfitnah Alice dengan mengatakan kalau ia adalah seorang penghianat yang meledakkan gedung penelitian Vegapunk karena rasa iri terhadap Vegapunk yang dijadikan Peneliti Inti Pemerintah Dunia.

 Setiap orang yang mengagumi Alice kini mulai tertipu daya termakan omongan pemerintahan. Semua membenci Alice yang dianggap telah menggagalkan misi Pemerintah untuk membuat obat mujarab dari semua penyakit untuk orang banyak. Tapi hanya Gimbol yang tahu kejadian sebenarnya. Ia tidak bisa melakukan apa-apa, membela Alice pun percuma. Tidak akan ada yang percaya. Gimbol hanya bisa berdoa, agar tuhan menjaga Alice dimanapun ia berada.

Setelah sebulan menghilang, akhirnya Alice pun ditemukan di Padang bunga yang terletak di pelosok kota. Namun kini Alice sudah tidak bernyawa, ia sudah meninggal sekitar setengah bulan yang lalu karena kelaparan dan lukanya yang sudah infeksi. Berita pun segera menyebar dengan cepat.

Pemerintah dunia puas menyaksikan kematian Alice yang tragis. Semua orang yang melihat berita itu tampak kecewa dengan Alice, tiada yang berduka, malahan mereka murka. Namun tidak saat muncul seorang wartawan yang berhasil mengabadikan foto saat-saat terakhir Alice.

Tanpa disadari Pemerintah, Alice mengenggam secarik kertas bertuliskan, "Dirty Govertment! Believe on me!"

Wartawan muda yang ternyata adalah Duvoy itu berhasil menyebarluaskan foto itu dan membuat surat kabar tentang kematian Alice.

 =ALICE VS PEMERINTAH DUNIA= (Siapa yang tahu kejadian sebenarnya. Alice Worflow dituduh menghianati orang banyak, tapi Pemerintah tidak memberikan keterangan lebih jelas. Ditemukan sebuah pesan terakhir sebelum meninggalnya Alice yang berarti ‘Pemerintahan yang kotor, Percayalah Padaku’. Sekarang tinggal masyarakat yang menilai, siapa sebenarnya yang benar. Kematian Alice menimbulkan pertanyaan dari berbagai kalangan. Alice yang sudah meninggal berminggu-minggu mayatnya masih terbau harum dan tiada satu ulatpun yang menggerayangi tubuhnya. Apa Alice masih pantas disebut seorang penghianat? Bumi seharusnya berduka.)   

[END OF FLASHBACK]

"Begitulah ceritanya,"tutur Gimbol setelah menceritakan kejadian yang menimpa Alice kepada Dicky dan teman-temannya. 

Tanpa sadar air mata Dicky mengalir di pipi,  "Jadi, Alice sudah tiada?" isak Dicky pilu. 

Gimbol mengangguk membenarkan. 

"Tapi ini tidak adil! Pemerintah benar-benar licik!" teriak Oby yang terbawa emosi.

"Tapi ini berarti Alice meninggal dengan cara tidak terhormat. Semua orang membencinya padahal ia lah Pahlawan sebenarnya," celetuk Yola mengambil kesimpulan. 

"Tidak kok. Tak semua orang mempercayai Pemerintah. Masih banyak diluar sana yang mempercayai Alice. Karena orang yang pernah berjumpa dengan Alice, tahu kebaikan hati gadis itu sebenarnya," terang Gimbol tersenyum haru. 

Rino yang duduk disebelah Dicky ikut terharu dan ingin menangis. Sementara Dicky penuh emosi dan berlinang air mata menyesali semua yang terjadi. 

Alice, Sudahlah. Tiada yang perlu disesali. Yang penting Alice pergi dengan terhormat. Ia lah pahlawan sebenarnya. Alice menyelamatkan semua orang walau harus mengorbankan dirinya sendiri. Lihat, kau pasti penasaran dengan Alice dewasa kan? 

"Lihat ini, ini dia," Gimbol memperlihatkan figura yang tadi ia ambil di kamar. 

Semua Kru New Shine Pirates pun melihat figura yang terpampang foto seorang gadis yang sangat cantik sedang tersenyum bahagia dengan matanya yang sayu. Rambutnya yang berwarna perak dan alis matanya yang tebal, bibirnya yang merah merona membuat siapapun yang melihatnya akan berpikir dialah bidadari dari langit yang diutus tuhan untuk menyelamatkan masyarakat banyak.

"Alice," Dicky memeluk figura itu dan menangis sejadinya. 

Para Kru-pun ikut menangis haru dan memeluk Dicky. . .

Dua orang anak kecil berlarian ke pinggir laut. Salah satunya tiba-tiba terjatuh dan menangis. Bocah lelaki yang sudah jauh didepan itu kembali dan membantu gadis kecil itu untuk bangun.

Kau tidak apa-apa Alice?" tanyanya sambil menggenggam tangan kecil itu.

"Sakiit~" rintih gadis kecil itu melihat lututnya yang berdarah.

Bocah lelaki itu membersihkan luka itu dan menggendong gadis kecil itu dipunggungnya. Si gadis kecil tampak senang dan gembira. Keduanya berjalan pelan menyusuri pinggiran pantai yang luas. "Alice," Bocah lelaki itu mulai bergumam.

"Ya?"

"Aku harus pergi berlayar bersama ayahku, karena aku ingin menjadi seorang Kapten Bajak Laut yang tangguh sepertinya"

"Apa?” Gadis kecil itu tampak kaget dan terdiam.

“Tapi Dicky, aku pasti akan merindukanmu.”

“Tenanglah, suatu saat nanti aku akan kembali. Aku tidak akan pernah melupakanmu.” ujar si bocah lelaki menurunkan si gadis kecil dari punggungnya. Kini keduanya saling berhadapan dan menatap satu sama lain. Gadis kecil itu memberikan sebuah bunga yang selalu dibawanya ke bocah itu.

“Jagalah bunga ini agar tidak layu. Simpan agar kau tidak pernah melupakanku. Mari bertemu setelah Dewasa nanti.”

“Ya Alice, selamat tinggal.”

Di bukit Sina Garden yang langsung menghadap ke lautan, terdapat sebuah makam yang dipenuhi dengan rangkaian bunga yang tersusun rapi dan indah mengelilingi sekelilingnya.

Gimbol dan Kru New Shine Pirates tampak berdiri mengelilingi makam itu. Mereka melakukan do’a bersama untuk Alice.

Dicky mengusap-usap pusara Alice dengan kasih sayangnya yang tulus. Maafkan aku tidak bisa menjagamu, kawan kecilku. Aku disini sekarang, menepati janji kita 11 tahun lalu. Bukankah kita berjanji akan bertemu lagi di hari Ulang tahunmu yang ke-20? Disini aku sekarang, tapi kau malah sudah duluan ke surga.

"Apa kau tidak ingin merayakannya bersamaku? Alice, aku sangat menyayangimu. Aku, aku selalu menyimpan semua kenangan tentang kita, termasuk bunga ini. Aku selalu merawatnya dan membawanya kemana-mana. Kini, kukembalikan bunga ini padamu. Semoga kau tenang dialam sana, Alice," Dicky menaruh bunga yang diberikan Alice dulu sebelum sepeninggalnya pergi ke atas makam Alice.

"Aku mencintaimu Alice," batin Dicky menahan rasa pilu di dadanya melihat nama "Alice Worflow" terukir indah di batu nisannya.

**Yolanda Puspa Ningrum, akrab dipanggil Ureh. Berakun Facebook Yola Ureh, adalah seorang gadis keturunan Jawa-Minang yang merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Saat ini ia menetap di Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya. Gadis berumur 18 tahun ini sangat suka menulis dan menggambar. Tak terkecuali ia juga sangat menyukai anime One Piece dan senang membuat Fanfiction. Tapi akhir-akhir ini gadis ini ingin beralih profesi menjadi seorang penulis Cerpen. Walaupun dengan pengetahuan EYD yang sangat terbatas, tapi tidak menyurutkan semangat gadis pecinta Otomotif ini untuk terus menulis dan menulis.

Artikel Sastra / Cerpen lainnya

Komentar

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar