Pertempuran Baju Kurung Biyai

Selasa, 25 Februari 2014 Share

Angin pagi berhembus dengan mesra melewati dahan-dahan pohon yang rindang ,suara-suara kicauan burung pun saling bersahutan seiring dengan bunyinya mesin jahit Biyai. Wanita paruh baya yang kini sebagian rambutnya tak lagi hitam itu kini sedang menjahit dengan sebuah mesin jahit tua yang umurnya bahkan lebih tua dari umurku.

Itulah pekerjaan sehari-hari Biyai wanita yang paling ku kagumi di dunia ini.setelah dua tahun kepergian abah kini Biyai lah yang menghidupiku dengan mesin jahit tuanya itu kini setiap hari tidak mengenal siang dan malam Biyai menjahit berhelai-helai baju.

Tapi satu hal  yang selalu kupertanyakan Biyai hanya menerima pesanan untuk menjahit sebuah baju kurung, baju khas Sumatera Barat yang kini hampir telah tersingkirkan dengan beratus-ratus macam model baju pada jaman yang modern ini. 

"Andam...," sahut biyai. 

"Ya Biyai, ada apa ?" 

"Belikan Biyai 2 buah benang merah di kadai ante len hah!! ko pitih haa’’suruh biyai dengan bahasa minangnya yang kental.

"Baik Biyai," aku segera pergi ke kedai ante Len yang jaraknya tak jauh dari rumahku cukup dengan berjalan kaki maka 5 menit kemudian aku akan tiba disana.memang seperti inilah keadaannya biyai tidak memiliki stok atau persediaan yang cukup untuk menjahit.

Maklumlah usaha jahit Biyai hanya usaha kecil-kecilan.walaupun dengan pesanan yang sedikit tetapi setidaknya dapat mencukupi kebutuhanku dan Biyai. Meskipun begitu usaha jahit Biyai yang hanya menerima pesanan untuk menjahit sebuah baju kurung itu lumayan terkenal di nagari  kami bahkan diluar nagari. 

Hal ini dikarenakan jahitan Biyai yang rapi dan bagus Biyai memang terampil sekali dalam hal menjahit sehingga tak heran banyak angin berhembus yang mengatakan jahitan baju kurung Biyailah yang paling bagus di nagari kami.

Terlintas di pikiranku, hal yang selalu aku pertanyakan setiap kali aku melihat Biyai menjahit kulihat hampir semua orang yang mengukur baju untuk dijahit kebanyakan dari mereka adalah para ibu. Seolah-olah baju kurung hanya model  untuk para ibu padahal, bukankah itu kebudayaan Minangkabau ? seorang wanita mengenakan baju kurung.

Entah apa yang salah dari baju itu para gadis-gadis minang kini enggan mengenakannya. Bukan kah baju kurung itu adalah baju yang cocok untuk seorang muslimah lagi pula itu baju khas daerah kita. Kini para gadis Minang justru bangga dengan busana yang telah terkontaminasi dengan budaya barat yang tak sesuai dengan budaya kita jika adapun busana yang berbau muslimah maka itu adalah baju kaftan atau gamis yang telah jrlas berasal dari budaya timur tengah.

Mereka lebih bangga mengenakan itu daripada mengenakan baju kurung,baju khas wanita Minangkabau budaya kita sendiri. Itulah sebabnya Biyai sangat mencintai profesinya sebagai penjahit baju kurung dinagariku meskipun dengan mesin jahit tua yang mulai rapuh termakan usia.itu dikarenakan mesin jahit itu telah sangat lama  karena biyai mulai hobi dalam hal menjahit sejak gadis dulu. 

***
   
Suatu ketika aku bertanya kepada Biyai karena merasa Biyai hebat dalam hal menjahit dan apa salahnya jika Biyai menerima pesanan selain daripada baju kurung. Padahal dulu sempat ada pesanan dari ibu Liza perantau Jakarta untuk menempah sebuah baju tetapi entah dengan alasan apa Biyai menolaknya padahal jika Biyai mau bu Liza akan membayar upah yang sangat besar dan uang itu akan sangat berarti untukku. 

"Biyai mengapa Biyai tak mau menerima pesanan untuk menjahit baju selain baju kurung,"’tanyaku.

"Biyai hanya ingin melestarikan pakaian wanita adat Minangkabau ini," jawab Biyai singkat.

Sebenarnya aku agak sedikit kesal mendengarkan jawaban Biyai itu. Biyai hanya tamatan SD tahu tentang apa budaya khas Minangkabau. Dalam hatiku apa jangan-jangan Biyai hanya terampil  menjahit baju kurung saja baju yang berdesain monoton itu sehingga dia tak mau menerima pesanan untuk menjahit selain dari baju kurung. 

Maklumlah aku tau biyai dibesarkan di keluarga yang tergolong rendah dan kampungan, ahh aku semakin penasaran. Tetapi Aku terperanjat mendengar jawaban Biyai yang singkat itu. Memang hal yang sangat sepele yaitu sebuah baju kurung tetapi secara tak sadar sudah banyak yang mulai untuk meninggalkan pakaian khas Minagkabau ini.

Lagi pula Biyai  pernah bercerita bahwa baju kurung itu bukan hanya sekedar baju. Baju ini memiliki arti yang penting bagi seorang wanita menurut adat Minangkabau lengannya yang lebar itu menandakan kerendahan hati seorang wanita Minangkabau selain itu baju ini memenuhi syarat-syarat baju wanita yang seharusnya disaat baju-baju yang populer.

Saat ini dikalangan wanita hanya baju baju yang terkontaminasi dengan budaya asing seperi timur tengah bahkan barat padahal kita Indonesia sendiri memiliki kebudayaan yang beraneka ragam termasuk Minangkabau tapi mengapa hal ini tak pernah ada kesadaran bagi kita untuk melestarikannya termasuk pakaian wanita khas minangkabau,baju kurung.

***

Semenjak pertanyaanku itu ku lihat diam, diam Biyai mulai berpikir mencari sebuah ide baru bagaimana baju kurung bisa populer dikalangan wanita-wanita Minang terlebih para gadis-gadis Minang. Tetapi bagaimana bisa seorang wanita yang hidup dengan serba kecukupan berusaha menaikkan eksistensi baju kurung Biyai bukanlah seorang penjahit hebat atau desainer terkenal apalagi kursus-kursus mendesain baju. 

Ah, tak ada hal yang tidak ada yang tidak mungkin didunia ini termasuk mempopulerkan sebuah baju. Maka sejak saat itulah Biyai mulai memulai mencari inovasi baru tak pula Biyai memberitahuku untuk berdiskusi dengannya untuk menciptakan desain baju kurung yang lebih segar agar tak ketinggalan dengan perubahan jaman yang semakin pesat.

Aku berpikir jika dilihat-lihat mengapa baju ini tidak populer karena yang desainnya yang monoton dan itu-itu saja sehingga tak banyak wanita yang berminat kecuali para kaum ibu. Aku dan Biyai mulai merancang-rancang baju dan menata bagian mana yang perlu di kreasikan . 

Karena aku ingin menciptakan seetelan baju kurung muslimah yang desainnya menarik dan tentu saja lebih fresh sesuai dengan tren zaman sekarang meskipun aku hanya gadis desa kecil, tapi setidaknya pengetahuanku tentang tren masa kini tak boleh diragukan, tetapi apalah daya aku mulai bosan setelan baju kurung itu kutinggalkan sebelum selesai jadi biyai mendesainnya dan menjahitkan baju kurung itu dengan sepenuh hati Biyai yang tulus. 

Sebenarnya aku tak tega membiarkan Biyai sendiri melakukan itu tetapi bagaimana lagi aku bosan dan jenuh dengan baju itu dan ternyata setelah selesai aku melihat setelan baju kurung lengkap dengan rok dan sebuah selendang selesai dijahit Biyai ku lihat dari atas hingga bawah. 

Betapa hebatnya Biyai melakukan ini dengan penuh kreasi dengan kain bewarna merah itu biyai menyulapnya menjadi sebuah setelan baju kurang yang sangat modis setiap detailnya dihiasi dengan payet warna warni. Aku menyukainya.

"Ondeh mandeh ancak baju kurung nan Biyai buek ko haa," Biyai hanya tersenyum puas mendengar perkataanku.

***

Sudah dua minggu setelan baju kurung yang di rancang dan dijahit Biyai itu terlihat tergantung di hanger  yang  warnanya telah memudar. Hari ini aku dan Biyai berencana pergi ke baralek, pesta perkawinan anaknya Makuwo Limar, beliau cukup akrab dengan emakku.

Maka kami akan berencana pergi kesana nanti siang selain itu aku berniat mengenakan baju kurung yang telah Biyai desain sendiri itu. Ketika sampai disana semua mata tertuju padaku dengan mengenakan setelan baju kurung merah yang dihiasi manik-manik aku bukan merasa seperti princess istana melainkan putri Minangkabau Pagaruyung abad ke-21 sangat menakjubkan.

Melihat aku memakai baju kurung yang teelah Biyai desain sendiri seorang gadis yang berambut panjang umurnya kira-kira umurnnya 20-an itu tak lepas matanya menyorotiku dari atas hingga bawah kurasa dia iri dengan bajuku secara bajuku ini didesain khusus oleh Biyai dengan sepenuh hati dan segenap jiwa dan raganya aku memandangnya dengan agak sinis. 

"Wah!! Bagus sekali bajumu Andam," pujinya.

"Terima kasih kak," aku menjawabnya dengan tersipu malu.

Ternyata baru ku ingat orang yang sejak tadi matanya terus menyorotiku adalah kak diah. Kak diah adalah perantau asal Kota Solo di Jawa Tengah dia seorang desainer batik disana. Semenjak itulah kak Diah menawarkanku untuk bekerja sama dengannya dia akan memberikanku dan membiayai modal aku bersamanya akan mendesain baju kurung itu tentu saja bersama desainer favorut baruku yaitu Biyaiku tersayang.

rencananya kami akan membuat baju kurung khusus untuk gadis muslimah yang lebih fresh dan bewarna.Tak kusangka ini adalah jalannya aku dan Biyai menemukan seberkas cahaya  ternyata bisnis setelan baju kurung khusus untuk gadis muslimah dengan desain yang lebih fresh itu laku dipasaran setelah usahaku dan Biyai tentunya kak Diah untuk mempopulerkan baju kurung baju khas wanita Minangkabau akrab dikalangan para wanita Minang. 

Kini kulihat ketika aku keluar  melihat daerah-daerah ramai maka banyak yang mengenakan baju iti baju kurung. Baju yang selama ini emak perjuangkan. Tak hanya itu baju kurung juga merubah hidupku dan emak kami hidup lebih dari cukup meski tanpa abah sekarang. Setidaknya usaha emak untuk melestarikan baju kurung itu berhasil dan ini berkat inovasi baru serta bantuan kak Diah yang  telah mau ikut membantuku untuk melestarikan budaya pakaian wanita Minangkabau yaitu mengenakan baju kurung.

**Nurmia Noviani, pelajar SMAN 1 Sungai Rumbai Kabupaten Dhamasraya yang mendapatkan Juara II Lomba Menulis Cerpen se-Sumatra Barat yang diadakan Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (HMPS Pindo) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) dalam kefiatan Temu Kreativitas Pelajar dan Mahasiswa (TKPM) III.

(c) Hak cipta WawasanProklamator.com. Jika mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh.

Artikel Sastra / Cerpen lainnya

Komentar

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar