BUNG HATTA MUDA

Mahasiswa Universitas Bung Hatta  Terpilih Menjadi Duta Genre Inspirator Putri Kota Padang 2020

Mahasiswa Universitas Bung Hatta Terpilih Menjadi Duta Genre Inspirator Putri Kota Padang 2020

Minggu, 23 Februari 2020

WAWASAN PROKLAMATOR,- Riri Agusti Muchtar mahasiswi dari Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) angkatan 2019...

MAHASISWA UNIVERSITAS BUNG HATTA MASUK 15 BESAR FINALIS DUTA PDAM KOTA PADANG 2019

Mahasiswa Universitas Bung Hatta Masuk 15 Besar Finalis Duta PDAM Kota Padang 2019

Minggu, 29 Desember 2019

WAWASAN PROKLAMATOR,- Leonardus Gunawan mahasiswa Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (PSP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan...

Mahasiswa FEB Sabet Juara III dalam Turnamen Catur

Mahasiswa FEB Sabet Juara III dalam Turnamen Catur

Senin, 23 Desember 2019

WAWASAN PROKLAMATOR,- Yubilio Zuli mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) angkatan 2018 peroleh juara ke-3 dalam...

FEATURE

Jumat, 05 Juni 2020

Dila WP

Lebaran Ditengah Pandemi COVID-19

foto thumbnailWAWASAN PROKLAMATOR,- Tepat satu minggu lalu takbir menggema diseluruh penjuru negeri, seluruh umat muslim di dunia termasuk Indonesia menuju hari...

Bonjol, Si Khatulistiwanya Sumatra yang Sepi

Minggu, 02 September 2012 Share

Mentari siang di awal bulan Agustus tidak begitu teriknya, barisan awan di angkasa yang membumbung tinggi menampakan pesona yang begitu damainya bersama semilir angin laju kendaraan yang berkecepatan 60 km/jam membuat kami terbuai.

Tersadar telah melewatkan salah satu objek wisata yang tak begitu dikenal di Sumatra Barat. Tidak seperti halnya objek wisata pantai Padang atau Jam Gadang yang semua orang mengetahuinya. Kami berangkat dari kecamatan Rao berencana akan pulang ke kota Padang.

Kendaraan motor kami kembali berbalik arah melintasi jembatan yang dituliskan dalam dua bahasa ini, 'Anda Melewati Khatulistiwa, You Are Crossing The Equator' dengan banggunan bulat berwarna biru di salah satu bagian ujung jembatan ini. Seperti kita ketahui di Indonesia terdapat dua daerah yang dilawati garis khatulistiwa yaitu kota Pontianak dan Bonjol.

Bertempat di salah satu daerah yang bernama Bonjol, dimana di salah satu titik kota kecamatan yang terletak di kabupaten Pasaman Sumatra Barat ini, tepat dilalui garis khatulistiwa atau pada lintang nol derajat. Untuk menandakannya, dibangunlah taman dan monumen yang bernaman 'Taman Wisata Ekuator'.

Memasuki lokasi objek wisata yang berjarak 19 km dari ibukota kabupaten ini, kita akan membayar uang retribusi sebesar Rp. 2.500,-/ pengunjung. Saat mengunjunginya, kami adalah pengunjung pertama, sangat sepi sekali dan tempatnya cukup luas banyak taman-taman hijaunya.

Di taman ini pengunjung dapat melihat monumen yang berbentuk seperti tugu perjuangan Yogyakarta dengan tinggi kurang dari 2 m dan bertuliskan 'Tugu Equator Bonjol Sumatra Indonesia dengan cat yang mulai memudar.

Dari tugu ini kita bisa menaiki tangga menuju jembatan. Di jembatan ini kita dapat memandangi lalu lintas kendaraan yang melintasi jalan raya Bukittinggi-Medan ini. Pada bagian ujungnya terdapat bangunan berbentuk bulat, konon katanya tidak ada apa-apa di dalammnya dan kondisinya juga banyak yang rusak.

Tidak jauh dari tugu tadi, terdapat juga area lapangan yang beraspal dengan 'I Crossed The Equator' berwarna putih dan garis panjang yang berwarna merah dengan dasar putih bertuliskan Khatulistiwa. Selain itu, taman yang bersandingan dengan museum Tuanku Imam Bonjol ini juga terdapat tugu yang berbentuk bola dunia berwana biru yang bertuliskan Equator.

Di tengah asiknya mengabadikan gambar sebagai kenang-kenangan, barulah datang pengunjung kedua setelah kami, sepintas terlihat di antar mereka terdapat seorang wanita berparas tiongkok turun dari mobil bersama tiga orang wanita berjilbab.

Mereka langsung bergaya dan berfoto-foto di garis yang bertuliskan khatulistiwa, kemudian seorang lelaki paruh baya menghampirinya dan menawarkan berbagai macam pakaian khas Minangkabau. Dengan bahasa Inggris yang cukup lelaki itu mecoba membujuk wanita tiongkok agar dagangannya dibelinya.

Sembari menjual lelaki itu bercerita mengenai kondisi tempat wisata ini. Menurutnya, memang seperti inilah adanya serba terbatas dan tidak ada pusat informasi mengenai tempat ini. 

"Memang lokasinya cukup strategis di jalan lintas provinsi dan umumnya wisatawan mancan negara yang sering datang kemari," ujarnya dengan bahasa Mingankabau yang fasih.

Setelah mendengar percakapan mereka, kami kembali melanjutkan perjalaanan ke Padang dengan kendaraan roda dua. Dalam hati berkata, tempat ini sangat berpotensi untuk dijadikan objek wisata edukasi khususnya bagi pelajar, bila ditambahkan beberapa sarana dan prasarana pendukung lainnya.

Sayang di kota kelahiran pemimpin perang Padri ini, pengelolaan dan publikasi lokasi yang minim membuat salah satu objek wisata andalan kabupaten Pasaman ini tidak begitu wah seperti Ekuator di kota Pontianak.

(Ubay WP)

WawasanProklamator.com Jauh Lebih Dekat

(c) Hak cipta WawasanProklamator.com. Jika mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh.

Komentar

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar