BUNG HATTA MUDA

Mahasiswa Universitas Bung Hatta  Terpilih Menjadi Duta Genre Inspirator Putri Kota Padang 2020

Mahasiswa Universitas Bung Hatta Terpilih Menjadi Duta Genre Inspirator Putri Kota Padang 2020

Minggu, 23 Februari 2020

WAWASAN PROKLAMATOR,- Riri Agusti Muchtar mahasiswi dari Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya (FIB) angkatan 2019...

MAHASISWA UNIVERSITAS BUNG HATTA MASUK 15 BESAR FINALIS DUTA PDAM KOTA PADANG 2019

Mahasiswa Universitas Bung Hatta Masuk 15 Besar Finalis Duta PDAM Kota Padang 2019

Minggu, 29 Desember 2019

WAWASAN PROKLAMATOR,- Leonardus Gunawan mahasiswa Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan (PSP) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan...

Mahasiswa FEB Sabet Juara III dalam Turnamen Catur

Mahasiswa FEB Sabet Juara III dalam Turnamen Catur

Senin, 23 Desember 2019

WAWASAN PROKLAMATOR,- Yubilio Zuli mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) angkatan 2018 peroleh juara ke-3 dalam...

FEATURE

Jumat, 05 Juni 2020

Dila WP

Lebaran Ditengah Pandemi COVID-19

foto thumbnailWAWASAN PROKLAMATOR,- Tepat satu minggu lalu takbir menggema diseluruh penjuru negeri, seluruh umat muslim di dunia termasuk Indonesia menuju hari...

Kartini-nya Minangkabau

Sabtu, 21 April 2012 Share
Kartini-nya Minangkabau

Negara yang besar adalah Negara yang tidak akan pernah melupakan sejarahnya, itulah pepatah yang mungkin bisa kita maknai dari peringatan hari Kartini.  Tanggal 21 April setiap tahunnya dirayakan agar dapat mengambil pelajaran dan merefleksikan akan hakekat dari perjuangan emansipasi wanitanya seorang bernama Kartini.

Terlepas dari perjuangan Kartini, rasanya banyak kartini-kartini lainnya di belahan Indonesia lainnya yang telah terlupakan oleh generasi saat ini. Padahal mereka juga telah berjuang sebelum dan sesudah zamannya Kartini. Lihat saja di Minangkabau, banyak tokoh wanita yang telah berjuang dimassanya, berikut diantaranya:

Siti Manggopoh (1880-1965)

Ada yang terlupakan dari catatan sejarah Indonesia. Siti Manggopoh. Nama perempuan asal Minang ini memang tidak bergaung seperti Kartini. Ketika itu, perempuan-perempuan Indonesia yang berpendidikan tinggi sedang mengibarkan bendera perjuangan gender.

Pada saat itu Siti Manggopoh, perempuan pejuang yang lahir pada bulan Mei  1880 ini berasal dari desa kecil terpencil di Kabupaten Agam, Sumatra Barat muncul sebagai perempuan dengan semangat perlawan terhadap penjajahan yang terjadi di negerinya.

Padahal, jika ditelusuri lagi, Siti Manggopoh merupakan pahlawan perempuan dari Minangkabau yang mampu mempertahankan marwah bangsanya, adat, budaya dan agamanya.

Bagaimana tidak, Siti Manggopoh pada tahun 1908 melakukan perlawanan terhadap kebijakan ekonomi Belanda melalui pajak uang (belasting) yang disebut dengan Perang Belasting. Peraturan belasting dianggap bertentangan dengan adat Minangkabau sebab tanah adalah kepunyaan komunal atau kaum di Minangkabau.

Siti Manggopoh meninggal di usia 85 tahun, pada 20 Agustus 1965 di Kampung Gasan Gadang, Kabupaten Agam. 

[Lihat: http://www.facebook.com/note.php?note_id=387438879591]

Rohana Kudus (1884-1972)

Rohana Kudus merupakan jurnalis pertama wanita Indonesia yang lahir di Koto Gadang, Sumatra Barat pada 20 Desember 1884. Rohana hidup di zaman yang sama dengan Kartini. Ia adalah perdiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia yaitu koran Sunting Melayu, Wanita Bergerak, Radio dan Cahaya Sumatra serta pendiri sekolah Kerajinan Amal Setia dan Rohana School.

Emansipasi yang dilakukan Rohana tidak menuntut persamaan hak perempuan dengan laki-laki namun lebih kepada pengukuhan fungsi alamiah perempuan itu sendiri secara kodratnya.

Dengan kecerdasan, keberanian, pengorbanan serta perjuangannya Rohana melawan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan. Untuk dapat berfungsi sebagai perempuan sejati sebagaimana mestinya juga butuh ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk itulah diperlukannya pendidikan untuk perempuan.

Rohana Kudus menghabiskan masa hidupnya dengan beragam kegiatan yang berorientasi pendidikan, jurnalistik, bisnis dan bahkan politik. Selama hidupnya ia menerima penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia (1974), Menteri Penerangan Harmoko menganugerahinya sebagai Perintis Pers Indonesia pada 9 Februari 1987 di Hari Pers Nasional ke-3 dan tahun 2008 pemerintah Indonesia menganugerahkan Bintang Jasa Utama.

Rahmah El-Yunusiyah (1900-1969)

Rahmah El-Yunusiyahdikenal sebagai Ibu Pendidikan Indonesia yang dilahirkan di Padang Panjang, Sumatra Barat pada 29 Desember 1900 dan wafat pada 26 Februari 1969.

Pada zamannya, ada semacam kepercayaan yang tumbuh di masyarakat bahwa sehebat dan secerdas apapun seorang perempuan, pada akhirnya akan kembali pada kehidupan rumah tangga. Anggapan demikian juga dianut oleh masyarakat matrilinial sekalipun, seperti Sumatra Barat. 

Hal ini pula yang agaknya mengusik nurani Rahmah El-Yunusiyah. Rahmah merupakan satu dari sedikit perempuan di Sumatra Barat pada zaman pra-kemerdekaan yang menolak anggapan seperti itu. Bagi Rahmah, perempuan memiliki hak belajar dan mengajar yang sama dengan kaum laki-laki. 

Persoalannya, hanya terletak pada akses pendidikan. Jauh sebelum Indonesia merdeka, sistem pendidikan di Nusantara memang masih sangat jauh dari yang diharapkan dan kaum perempuan belum memiliki akses pendidikan yang sama dengan laki-laki.

Rahmah bagi banyak kalangan di Indonesia barangkali masih terkesan asing. Begitu juga kiprahnya dalam memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan Indonesia mungkin tidak segaung perjuangan Kartini. Namun, kontribusinya dalam memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan di Tanah Air tidak bisa dipandang sebelah mata.

[Lihat: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/04/07/m232bo-rahmah-elyunusiyah-perintis-sekolah-wanita-islam-di-indonesia]

H.R. Rasuna Said (1910-1965)

Hajjah Rangkayo Rasuna Said  adalah seorang wanita asal Maninjau, Agam, Sumatra Barat yang mempunyai kemauan keras dan berpandangan luas. Seperti  halnya Kartini, ia juga memperjuangkan adanya persamaan hak antara pria dan wanita.

Awal perjuangan beliau dimulai dengan beraktivitas di Sarekat Rakyat sebagai Sekretaris cabang dan kemudian menjadi anggota Persatuan Muslim Indonesia (PERMI) hingga menjadi Dewan Pertimbangan Agung (DPA) di Zaman setelah kemerdekaan.

Rasuna Said  yang lahir pada 14 September 1910 ini dikenal sebagai seorang orator pejuang kemerdekaan Indonesia. Rasuna Said juga tercatat sebagai wanita pertama yang terkena hukum Speek Delict yaitu hukum kolonial Belanda yang menyatakan bahwa siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang Belanda. Rasuna diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden R.I. No. 084/TK/Tahun 1974 pada 13 Desember 1974.

"Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan"

-Rohana Kudus-

*Bayu Haryanto, mahasiswa jurusan Teknik Kimia angkatan 2008, Fakultas Teknologi Industri Universitas Bung Hatta dan Pengurus UKM Wawasan Proklamator.

(c) Hak cipta WawasanProklamator.com.Jika mengkopi-paste tulisan ini di situs, milis, dan situs jaringan sosial harap tampilkan sumber dan link aslinya secara utuh.  

Komentar

Anita Oktomia
Padang
Sabtu
21 April 2012 | 09:06:00 WIB
Hmm...jangan dibilang Kartini-nya Minangkabau, dong...karena saya pribadi sudah sejak SD mempertanyakan layak atau tidaknya Kartini jadi pahlawan nasional....
Refi Yuana
Padang
Minggu
22 April 2012 | 00:01:00 WIB
Kartini tetap layak dikatakan pahlawan nasional menurut saya, tapi akan lebih layak jika ia disandingkan dengan keempat bundo2 minangkabau diatas, yang juga selayaknya diberi gelar yang sama setaranya dengan kartini. dan saya sangat suka kutipan ini dari bumdo rohana kudus, "Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan". inspiratif! (mohon izin copy di status ya! thanks :)
Bayu Haryanto (Ubay WP)
Padang
Selasa
24 April 2012 | 01:04:00 WIB
Sayang klo dikaji lebih lanjut perjuangan 4 tokoh wanita minang ini sangatlah besar dibandingkan Kartini, bahkan di daerah lain pun di Indonesia lainnya sama halnya dengan di Minang, perjuangannnya sangat besar.

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar