Minimnya Minat Baca Mahasiswa UBH

Senin, 03 Oktober 2011 Share

Dengan sangat berkembangnya teknologi saat ini, terutama internet, minat baca mahasiswa Indonesia di perpustakaan, khususnya Bunghatta umumnya rendah. Hal ini diamini oleh Kepala Pustaka Universitas Bung Hatta (UBH), Rembai SH.

"Rata-rata mahasiswa tidak seberapa yang minat baca dipustaka ini. Sebenarnya ini tergantung mahasiswa itu sendiri. Dengan berkembangnya internet, mempengaruhii minat baca dipustaka, karena lebih gampang diakses di internet", ungkapnya.

"Semasa saya dulu belum ada internet. Dulu ada disediakan ruang baca yang besar, dan banyak mahasiswa-mahasiswa yang ramai membaca disana", tambahnya.

"Coba kita bandingkan dengan diluar negeri", katanya lagi.

Kalau diluar negeri mau pipis aja dan didalam kendaraan umum aja bawa buku untuk membaca. Penyebab terbesar kurangnya minat baca mahasiswa Bung Hatta adalah MALAS. Malasnya ini yang berlebihan. Kita sedang mengupayakan untuk mendatangkan buku novel-novel ataupun buku remaja lainnya agar mahasiswa lebih tertarik dan tergerak untuk baca-baca dipustaka ini.

Kemudian yang kedua, penyebab kurangnya minat baca mahasiswa adalah masih banyaknya buku-buku lama. Kita juga sudah mengupayakan ke Rektorat untuk mendatangkan buku-buku diatas tahun 2008, agar mahasiswa tidak malas lagi baca-baca buku yang lama, dan sudah kuno.

Dan yang ketiga, yaitu kemajuan elektronik/internet. Tak ada satupun mahasiswa yang tidak mengenali teknologi yang satu ini (internet.red). Mahasiswa pasti kenal jejaring sosial facebook, twiter, dan search engine Google.

Dengan mudahnya mengakses bacaan diinternet, mahasiswa seolah-oleh tidak membutuhkan pustaka lagi. Tapi yang perlu diingat, tidak semua buku yang ada diinternet. Pasti harus ada izinnya dulu untuk dikeluarkan diinternet. Penulis dan penerbit bisa rugi secara material. jika semua buku diunduh diinternet.

Sejarah buku-buku di UBH sendiri berasal dari hasil mendapatkan Hibah. Itu bisa dari hibah FKIP, Jurusan Teknik Kimia, Jurusan Sastra dan alinnya. Buku-buku di UBH sendiri sebenarnya banyak yang baru-baru, yang didapat dari hibah TPSGP (sumbangan hibah), seperti Wirausaha untuk Ekonomi. 

Tapi isinya berbahasa Inggris. Karena kurangnya pehamanan mahasiswa bahasa inggris, termasuk saya sendiri, maka tidak ada yang membaca.

"Dengan keadaan yang seperti itu, maka solusinya menurut saya adalah menambah buku-buku yang baru. Buku-buku terbitan 80’an saya tolak. Terus diharapkan Dosen pun ikut kepustaka, tidak hanya mahasiswa saja", harapannya.

Kemudian dosen-dosen sebagai pemberi contoh, kan enak, supaya mahasiswa tidak bingung. Jika Dosen terlambat mengembalikan buku, juga kena denda, seperti halnya mahasiswa. Dan juga diharapkan mahasiswa dan pimpinan serta karyawan pustaka harus bersatu hendaknya,” tambahnya.
Menurut Rembai, saya memiliki istilah sendiri mengenai kesukaan kita akan memebaca buku yaitu "Kalau anda rajin baca, anda cepat tamat. Kalau malas baca, lambat tamat. Semakin kita membaca, semakin terasalah kekurangan kita", tutup Bapak yang murah senyum ini. 

*Oriza dan Riko

Komentar

Aulia Rahmi
Padang
Selasa
04 Oktober 2011 | 08:03:00 WIB
Saya setuju dengan hal ini.Saya melihat masih banyak buku-buku lama dan minimnya buku-buku ter "up to date".Saya yakin mahasiswa sangat membutuhkan buku-buku terbitan terbaru yang sesuai dengan perkembangan zaman.Selain itu,novel-novel terbaru pun akan menjadi bacaan populer di kalangan mahasiswa dan akan menjadi salah satu faktor pemicu bertambahnya minat baca mahasiswa. 

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar