BUNG HATTA MUDA

Dede Hermawan : Memberdayakan Guru Melalui “Pasti Hebat

Dede Hermawan : Memberdayakan Guru Melalui

Senin, 08 April 2019

WAWASAN PROLAMATOR,- Dede Hermawan merupakan alumni Universitas Bung Hatta angkatan 2008  dan saat ini menjadi founder dan Chief Executive...

Arif Fadilah Ahmad, Sang Lincah Pejuang Lembaga Dakwah Kampus  Hingga The Special of Asdos

Arif Fadilah Ahmad, Sang Lincah Pejuang Lembaga Dakwah Kampus Hingga The Special of Asdos

Rabu, 06 Februari 2019

WAWASAN PROKLAMATOR,- Hanya di semester lima, Indeks Prestasi Komulatif (IPK) tidak benar-benar bulat. Sisanya, di semester satu, dua, tiga, empat,...

Nur Amalina, Miliki Segudang Prestasi Hingga Menjadi Tamu Rasulullah di Telaga Al-Kautsar

Nur Amalina, Miliki Segudang Prestasi Hingga Menjadi Tamu Rasulullah di Telaga Al-Kautsar

Minggu, 13 Januari 2019

WAWASAN PROKLAMATOR,- Nur Amalina adalah Mahasiswa Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Bung Hatta angkatan 2016 yang memiliki...

FEATURE

Minggu, 30 Desember 2018

Sari WP

Semangat Pedagang Kaki Lima di Usia yang Tidak Muda Lagi

foto thumbnailWAWASAN PROKLAMATOR- Mengawali menjual langsat diusia 40 tahun, hingga kini Pak Syaiful masih semangat dalam menjalani profesi nya sebagai pedagang...

Mengawali Pendidikan Berkarakter dari Lingkungan Keluarga yang Bertaqwa

Elvida Andriani
Sabtu, 08 Desember 2018 Share

WAWASAN PROKLAMATOR,- Awal dari pendidikan bukanlah di bangku sekolah tetapi pendidikan bisa kita dapat di dalam lingkungan terutama keluarga. Di mana keluarga harus mampu menumbuhkan nilai- nilai yang baik pada jati diri anak. Peran kelurgalah di sini sangat mampu mengidentifikasi permasalahan pendidikan tersebut. Proses di dalam pendidikan bukanlah suatu hal mudah seperti menggerakkan dua buah kelopak mata manusia, bahkan tidak bisa dibayangkan oleh indra manusia untuk mengidentifikasi permasalahan pendidikan.   Perkembangan berbicara dan berkomunikasi anak sangat cepat didapatkan dari lingkungan sekitarnya, kejelian dan keuletan orang tualah yang dapat mengkondisikan lingkungan yang akan diterima anak. 

Banyak informasi yang dapat mempengaruhi pola berpikir anak dan hasutan- hasutan yang tidak baik yang disalurkan dari dunia bebas yang tidak mampu dibendung oleh anak. Corak- corak struktur bahasa yang diterima anak dilingkungan permainannya sangat berbeda- beda, ada struktur bahasa yang terstruktur dan ada yang tidak, tergantung bagaimana orang tua memberikan asupan- asupan energi positif kepada anak. Sebelum kita mengenal suatu hal yang menarik dan bermanfaat, tentunya kita terlebih dahulu melahirkan dalam pikiran kita tentang sebab dan akibat kita menikmati sesuatu dari estetika karakter kepribadian yang baik dalam suatu hal untuk berguna dalam kehidupan sehari- hari. Kita harus mengenal lebih dekat karakter kepribadian yang baik tersebut dari bentuk pendapat yang menggugah jiwa kita dan ada niat untuk mempopulerkan karakter yang baik tersebut.

Marilah kita simak dengan seksama pembahasan tenatang karakter di lingkungan keluarga. Di dalam ketidaksengajaan diri, jiwa yang dipenuhi keinginan untuk mengetahui berapa penting karakter bagi kehidupan ini, ketika itu pula asupan energi datang dengan pendapat yang menggugah jiwa yaitu pendapat orang besar yang sangat berperan penting di dalam dunia pendidikan di Indonesia, yaitu bapak Anis Baswedan, seorang yang inspiratif bagi penulis. Beliau berpendapat bahwa karakter sangat penting di tanamkan di dalam jiwa anak bangsa, serta dunia pendidikan harus mendidik anak-anak kita untuk bisa menang di zamannya. Seperti wadah yang awalnya kosong di isi dengan tetesan- tetesan yang secara perlahan menetes di dalam wadah tersebut, dengan kesabaran dan iman yang kuat akan memenuhi wadah yang kosong tersebut. Intinya bagaimana orang tua mewadahi anaknya di dalam mengelola lingkungannya dengan karakter kepribadian yang baik.

Proses emang terasa sangat lama tetapi akan menciptakan pelopor terbaik untuk masa depan yang lebih cemerlang di kehidupan anak. Orang tua harus mampu mengelola ide dengan mengaitkan kecanggihan teknologi yang membuat anak tidak jenuh dengan pendapat yang akan menggugah jiwanya. Lahirkan di dalam diri anak tentang mengelola jati diri dan pentingnya karakter kepribadian itu, di samping kecanggihan teknologi di zaman modren ini anak juga harus menjadi pengguna yang berkarakter dalam menjalankan teknologi di zaman serba canggih dan mempermudah kita dikehidupan terutama dalam berkomunikasi. Menghasut serta menggerakkan jiwa yang kosong tersebut butuh asupan energi yang kuat yang harus di miliki orang tua, untuk itu butuh tenaga kuat dan pikiran yang stabil dalam menjalankan batu – batu kecil yang akan melemahkan sendi- sendi penguat.

Di lingkungan keluarga, orang tua harus mampu dan bisa mengendalikan ego untuk tidak memeperlihatkan karakter kepribadian yang tidak baik dihadapan anak, karena akan mudah tergoda dengan karakter kepribadian yang tidak baik tersebut. Kekreatifan orang tualah di sini sangat menentukan terciptanya anak yang berkararter, bukan hanya cerdas dalam mengelola angka dan tulisan tetapi juga sikap yang baik di dalam kehidupan sehari- hari. Berlatih dan lahirkanlah kemauan anak dalam mengelola sikapnya untuk menciptakan karakter kepribadian yang baik di dalam kehidupan sehari- hari.

Dengan menciptakan estetika yang membuat anak terhasut untuk memcontoh sikap yang baik dan tertarik untuk mengenal kepribadian berkarakter tersebut. Pemahaman dan ketelitian dalam mendekatkan diri kita untuk karakter dalam kepribadian setiap anak itu, bukanlah hal yang mudah, butuh proses dan perjalanan yang berliku dan terjal. Seperti sulitnya pendaki gunung yang mendaki gunung, dengan kejauhan dan ketinggian puncak kebanggaan yang setiap pendaki impikan untuk kepuasaan hati, itu semua tidak sebanding dengan memahami tentang kepribadian setiap daerah, apalagi jarang di perbicangkan oleh khalayak yang kebiasaannya menyebar berita tanpa bayaran. Memahami karakter kepribadian setiap anak itu butuh hati yang hidup sepenuh jiwa. Berbicara sepenuh jiwa seperti kita mengorbankan untuk pujaan hati yang selalu kita sanjung dan kita puja, terkadang kita lupa siapa yang pantas kita puja. Bukankah yang patut kita puja hanyalah Dia yang memiliki hati kita ini. Itulah sebab dan akibatnya, kita bahkan tidak mampu menikmati dan menjaga yang telah Dia titipkan kepada kita. Untuk sebuah kepuasan hati, saya harus mampu melahirkan bukti nyata, bukan seperti para insan yang menghasilkan berita dengan profesi tanpa bayaran dan tidak memiliki pemahaman seperti tidak memiliki mutiara di dasar lautan.Sebagai manusia yang memiliki hati yang hidup, kita harus mampu menjaga dan merawat karakter kepribadian dari diri kita di manapun, bukan hanya melihat tetapi juga membantu membangun kepribadian setiap orang.

Cintailah karakter kepribadian yang baik itu maka ia juga akan menjaga dan melindungimu ditempatnya. Sebenarnya, estetika dan pola pikir yang baik itu kita yang ciptakan bukan menunggu orang lain menciptakannya. Sekian yang dapat saya tulis dengan jemari yang lelah ini dengan kecepatan yang tak mampu di hentikan, tetapi kepuasan hati membangkitkan gejora jiwa untuk menuliskannya. Semoga tulisan bermanfaat bagi kita untuk menghidupkan kembali jiwa yang hampir mati ini dan mencintai karakter kepribadian setiap orang dan menciptakan anak bangsa yang berkarakter.

 

Elvida Andriani, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Angkatan 2015.

WawasanProklamator.com Jauh Lebih Dekat

Komentar

URIP TRIO ARMI
Batam
Sabtu
31 Agustus 2019 | 13:15:00 WIB
Jaya selalu PINDO. Semangat trus dalam menulis 👍🏻 

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar