Suka Duka KKN-PPM Bagi Mahasiswa

Sabtu, 25 Agustus 2018 Share

WAWASAN PROKLAMATOR,- Kuliah Kerja Nyata-Pembelajan Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) merupakan salah satu kegiatan intrakurikuler wajib yang memadukan pelaksanaan Tri Dharma perguruan tinggi dengan metode pemberian pengalaman belajar serta bekerja dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat (Ditjen Dikti,2007). Mahasiswa bukan hanya menimba ilmu di dalam kelas atau di kampus saja. Akan tetapi juga menimba ilmu disekitarnya. Dimana mahasiswa diharuskan turun ke lapangan dan mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah diperoleh selama perkuliahan kepada masyarakat dalam bentuk program kerja.

Banyak hal yang harus dipelajari mahasiswa untuk bisa terjun ke masyarakat. Oleh karena itu sebelum melakukan KKN-PPM, mahasiswa dibekali beberapa pengetahuan tentang bagaimana bersikap ditengah-tengah masyarakat. Akan tetapi, tidak semua teori yang diberikan pada saat pembekalan sama dengan kenyataan yang ada di lapangan. Dari berbagai kejadian di lapangan serta penyelesaiannya itulah yang membuat mahasiswa belajar banyak hal tentang masyarakat.

Pada saat KKN-PPM, mahasiswa dari berbagai jurusan dan fakultas dibagi menjadi satu kelompok kecil yang terdiri dari 25-30 mahasiswa. Kelompok kecil ini dibagi lagi menjadi beberapa jorong. Pada kelompok kecil tersebut terdapatlah organisasi kecil yang terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris dan bendahara. Perangkat inti ini berguna membantu untuk mengorganisir kelompok kecil tersebut. Selain itu, dalam KKN-PPM terdapat Koordinator Kabupaten dan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang memantau jalannya kegitan mahasiswa selama KKN-PPM. DPL bertanggung jawab langsung pada mahasiswa KKN-PPM sedangkan Koordinator Kabupaten bertanggung jawab dengan daerah penempatan mahasiswa KKN-PPM.

Setelah panitia KKN-PPM melakukan berbagai survey ke daerah penempatan mahasiswa KKN-PPM dan mahasiswa telah memenuhi persyaratan untuk melaksanakan KKN-PPM kemudian diberikan pembekalan sebanyak 2 kali oleh panitia dan DPL, kemudian mahasiswa dapat turun ke lapangan. Namun, berbeda ketika survey dengan ketika berjalannya kegiatan terdapat banyak perbedaan yang terjadi. Saat KKN-PPM berlangsung mahasiswa harus dapat mengatasi berbagai masalah yang terjadi di lapangan. Karena penyelesaian masalah itulah inti dari pembelajaran saat KKN-PPM tersebut.

Ada masanya ketika mahasiswa ini sudah tak menemukan jalan lagi dalam penyelesaiannya. Mahasiswa sudah buntu karena pada dasarnya mahasiswa masih harus belajar banyak tentang masyarakat. Ketika sudah tidak menemukan jalan keluar lagi maka orang pertama tempat mengadu adalah DPL. DPL akan berunding dengan Koordinator Kabupaten karna beliau lah yang melakukan berbagai survey dan karena beliaulah suatu daerah bisa ditempatkan oleh mahasiswa untuk mengabdi pada masyarakat. Ketika mahasiswa sudah buntu dan sudah tak ada penyelesaian, ketika nyawa mahasiswa sudah terancam, apakah Koordinator Kabupaten berhak menarik mahasiswa dari daerah tersebut? Ataukah malah mementingkan gengsi Koordinator Kabupaten tersebut? Ketika mahasiswa sudah mengadu yang diharapkan mahasiswa adalah jalan penyelesaian bukan? Namun yang terjadi Koordinator Kabupaten malah mengancam mahasiswa dengan perkataan "Jika kalian pergi dari tempat tersebut, maka KKN-PPM kalian gagal dan tidak akan pernah bisa diulang lagi" ujarnya. Apakah itu yang diharapkan oleh mahasiswa? Apakah harus ada dulu mahasiswa yang meregang nyawa? Jadi apa sebenarnya tujuan KKN-PPM? Apakah tujuan nya untuk menaikan gengsi Koordinator Kabupaten? Atau mengajarkan mahasiswa untuk bermasyarakat? Apa solusi yang bagus dengan kejadian-kejadian KKN-PPM seperti ini? Apa mahasiswa harus diam dan tunduk walau nyawa nya terancam?

 

REDAKSI

WawasanProklamator.com Jauh Lebih Dekat

Komentar

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar