Lembaga Mahasiswa, Sasaran Ampuh Radikalisme Lingkungan Kampus

Eji WP
Minggu, 22 Oktober 2017 Share
Lembaga Mahasiswa, Sasaran Ampuh Radikalisme Lingkungan Kampus

WAWASAN PROKLAMATOR,- Bercermin pada sejarah, masih ingatkah peristiwa ditahun 1998 yang dikenal dengan era reformasi dimana mahasiswa dalam Gerakan Mahasiswa Indonesia mengambil peran penting dalam menggulingkan kekuasaan lalu menggantinya dengan sebuah tonggak baru yang berlandaskan demokrasi. Mahasiswa merupakan sebuah entitas spirit yang menggunakan intelektualitas dan dialektika yang maha dahsyat kekuatannya. Mahasiswa yang merupakan satu satuan karakter, mampu menjadi satu gerakan besar yang bukan saja memperjuangkan suatu tujuan, namun berupaya membuat sejarah baru dalam sebuah pembangunan masa depan suatu bangsa.

Dewasa ini, Indonesia kerap dilanda masalah mengenai perbedaan persepsi dalam sebuah kebijakan. Salah satunya adalah tentang keberadaan perbedaan kepercayaan dan keyakinan yang menyangkut jenis agama yang dianut oleh seseorang. Dipihak ini mengaku kelompok mereka yang benar, namun di sisi lain pun beranggapan bahwa paham kelompoknya yang merupakan kebaikan untuk negara. Perbedaan persepsi inilah yang menjadi sebab timbulnya paham radikal.

Mahasiswa memiliki kekuatan energi penuh dengan sifat kreatif, kritis dan dinamis serta kepekaan yang tinggi pada masalah sosial. Karakter mahasiswa dan suasana kampus seperti ini menjadi lahan potensial bagi kelompok radikal untuk mengurai virus radikalisme. Kelompok tersebut masuk melalui organisasi kemahasiswaan dalam upaya merekrut anggota. Lembaga mahasiswa yang menjadi sasaran ampuh seperti organisasi keislaman.

Menurut Guru Besar ke-50 UINSA Prof. Masdar Hilmy, gerakan radikalisme umumnya dimotori oleh kelompok yang jarang tersentuh oleh kebijakan pemerintah. Hal tersebut yang menjadi pemicu radikalisme, tidak adanya persamaan persepsi antara kebijakan dengan kelompok atau golongan, adanya dorongan rasa ingin tahu tanpa diimbangi perhatian dari orang tua  mahasiswa. Gerakan radikalisme yang lebih sering ditujukan pada mahasiswa karena masa itulah sering terjadi pemberontakan dalam diri untuk memenuhi kebutuhan dan tidak stabilnya emosi mahasiswa serta keluarga yang tidak ada perhatian sekaligus lingkungan yang tidak Islami.

Kelompok radikalis membidik lembaga mahasiswa sebab kaum ini sedang berada dalam masa produktif dan dianggap mudah untuk direkrut. Salah satu penyebarannya melalui propaganda yang tersaji dalam bentuk acara-acara pengajian dan diskusi keislaman. Tidak semua mahasiswa yang dapat dengan cepat membaca aroma radikal atau bau-bau praktik propaganda. Bahkan tidak tertutup kemungkinan, mahasiswa dengan intelektual di atas rata-rata pun yang menjadi jargonnya. Dengan sampul menyelenggarakan diskusi keislaman, padahal acara tersebut mereka melakukan doktrin paham radikalisme yang dinilai cukup berbahaya bagi masyarakat dan kalangan muda. Hal itu, akan menciderai nilai-nilai kemanusiaan dan agama.

Lalu bagaimana upaya untuk mengantisipasinya? Tentu saja kita sebagai negara berideologi pancasila, sebagai mahasiswa dapat memagari diri dari propaganda dengan meningkatkan solidariti, saling mengingatkan, saling menjaga sesama teman dilingkungan kampus maupun dilingkungan tempat tinggal, mengajak rekan-rekan yang lemah pemahaman agama untuk cerdas memilih dalam mengikuti diskusi keislaman yang resmi dari sebuah kampus.

Komentar

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar