Menulis Sebagai Citra Aktualisasi Diri

DIAN RAHMAN SARI
Sabtu, 22 April 2017 Share

WAWASAN PROKLAMATOR,- Bagi Sebagian orang menulis merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan, dan sebagian orang beranggapan menulis adalah hal yang membosankan. Mengapa demikian? Terpulang ke diri masing-masing untuk apa menulis, terpaksa ataukah hobbi?

Di era modrnisasi ini, menulis sudah kita lakukan setiap hari di sosial media seperti Facebook, Twitter, BBM, dan lain-lainnya yang setidaknya 1 (satu) kalimat tulisan. Kenapa tidak menulis dengan kreatif? Kita malah senang menulis hal-hal yang tak penting dari pada hal-hal yang penting.

Memang, bagi penulis pemula tak mudah untuk menuangkan ide kedalam sebuah tulisan. Namun, dengan adanya keinginan disitu pasti ada jalan. Sesulit apapun itu, bakat akan muncul dengan adanya minat yang kuat.

Dengan menulis, orang memandang kita dengan sosok yang berbeda namun positif. Mengapa bisa dikatakan demikian? Karena menungkan pikiran, ide, dan gagasan dalam sebuah tulisan merupakan hakikat dari menulis. Dengan menulis pula terciptanya kebanggaa diri, mendapatkan keuntungan moral, meningkatkan status, kegiatan intelektual dan dengan menulis orang dapat melihat pikiran kita. Dengan tulisan yang dibuat orang lain, kita dapat melihat kepribadian seseorang dengan sebuah tulisan yang ia tulis. Bahkan, menulis bisa dikatakan sarana menjernihkan pikiran, dikarenakan menuangkan apa yang tepikirkan menjadi sebuah tulisan diibaratkan merestart seperti pada perangkat lunak yang akan meringankan beban pada komputer, begitu pun pikiran.

Seseorang yang lihai dalam menulis sudah dipastikan menguasai 4 (empat) keterampilan berbahasa dari menyimak, berbicara, membaca, dan yang pastinya menulis. Karena menulis berhubungan dengan 3 (tiga) aspek kebahasaan lainnya. Menulis merupakan salah satu cara memanfaatkan waktu luang, yaitu dengan cara kerja intelektual dalam memanfaatkan waktu luang. Mungkin bagi sebagian orang masih binggung akan maksud dari kerja intelektual, katanya waktu luang kenapa harus bekerja? Maksudnya disini yaitu kerja kecerdasan tanpa harus tergesa-gesa dan tidak perlu serius serta dapat dilakukan dimana saja dan kapanpun, salah satu contohnya ialah menulis.

Menulis juga merupakan sarana penyampaian pesan sealain berbicara. Jika berbicara bersuara dalam keramaian, berbeda pula dengan menulis yang bersuara dalam kesunyian. Ketika bahagia, sedih, marah menulislah. Karena aksara dapat mewarnai hidup dengan bumbu-bumbu yang menyenangkan batin, terlebih jika tulisan kita bermanfaat bagi orang banyak.

 

(Dian WP)

WawasanProklamator.com Jauh Lebih Dekat

Komentar

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar