Fullday School apakah bisa dijalankan di Indonesia?

Nailatul Nabila
Rabu, 05 Oktober 2016 Share
Fullday School apakah bisa dijalankan di Indonesia?

siswa-siswi SDN 05 Nagari Koto Tangah Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat (foto: Eji WP)

WAWASAN PROKLAMATOR,-

Indonesia merupakan negara yang sebagian penduduknya adalah generasi muda. Dimana mereka harus mengenyam pendidikan agar nantinya negara ini bisa berjalan dengan baik. Namun pada kenyataannya masih banyak generasi muda tidak bersekolah. Berdasarkan data BPS- 2016, tercatat anak-anak umur 7-15 tahun dinyatakan belum/ tidak bersekolah sebanyak 2,51%, yang tidak bersekolah 6,40% dan yang hanya tamat SMP saja sebanyak 40,93%.

Pemerintah sudah mengusahakan yang terbaik untuk para generasi muda agar dapat bersekolah dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan cara Indonesia Pinta. Kartu indonesia pintar ini diperuntukan untuk para pelajar yang kekurangan biaya.

Setelah Kartu Indonesia Pintar ini pemerintah juga memiliki program lain untuk pendidikan di indonesia yaitu pendidikan Full Day. Dimana disini mengusung revolusi mental atau berpendidikan berkarakter. Anak SD diberikan 70% dan SMP 60% pembelajaran  berkarakter. Dimana pendidikan berkarakter ini mencangkup masalah personal, religiusitas, sosial dan nasionalisme. Lalu anak SMA sederajat diberikan pembelajaran mengenai kesiapan mereka di dunia kerja. Para murid diberikan pelajaran berkarakter selama disekolah hingga 8 jam kurang lebih. Namun pada kenyataan nya apakah Indonesia siap dengan pendidikan seperti ini?

Negara berpendidikan terbaik menurut survey internasional yang komperensif oleh Organization for Economic Cooperation Development (OECD) dipegang oleh negara Findlandia. Bagaimana bisa Findlandia meraih pendidikan terbaik sedunia? Apakah Findlandia menerapkan sistem sekolah Full Day? Tidak sama sekali malahan di Findlandia hanya belajar kurang dari 5 jam/ hari.

Findlandia tidak memaksakan kepada siswa nya untuk menghafal dengan baik dengan benar. Namun mengajarkan pelajar untuk menemukan solusi dengan sendirinya. Di findlandia anak anak baru boleh bersekolah ketika berumur 7 tahun. Bahkan ini diatur oleh hukum nya. Hal ini diterapkan bahwa Findlandia mempercayai bahwa anak usia dini dapat belajar dengan cara nya sendiri. Kreatifitas nya berkembang ketika mereka bermain. Mereka bermain dan dengan sendirinya mereka belajar bagaimana memecah kan suatu permasalahan itu . ini juga bergantung pada kesiapan mental anak anak itu sendiri. Bagaimana dengan Indonesia? Biasanya di Indonesia para orang tua sudah sibuk mencari sekolah bagus untuk anak anak nya ketika berumur 4 tahun. Bahkan ada yang ketika berumur 3 tahun.

Lalu Findlandia menerapkan 45 menit belajar dan 15 menit isitirahat. Ini berfungsi agar sang anak tidak bosan dan suntuk karena belahar terus. Selain itu ini juga bermanfaat untuk kesehatan sang anak karena mereka aktif bergerak saat bermain. Dibandingkan dengan indonesia yang 135 menit belajar dan hanya mendapatkan jatah istirahat 20 menit. Apakah ini sehat untuk otak dan kesehatan generasi muda kita?

Selain itu Findlandia juga menerapkan sekolah gratis bahkan untuk jajanan dikantin juga gratis. Makanan sehat disediakan disekolah sekolah mereka dengan gratis kartena orang Findlandia percaya bahwa otak dapat menyerap pembelajaran jika perut terisi dengan baik. Lalu apakah Indonesia tidak bisa juga kah menerapkan makanan gratis untuk muridnya?

Setelah Findlandia ada lagi negara dengan pendidikan terbaik lain nya yaitu negara Korea selatan. Dikorea selatan murid dituntut belajar selama lebih dari 12 jam baik disekolah maupun ditempat bimbingan belajar (bimbel). Apakah seperti ini yang ingin ditiru oleh pemerintahan Indonesia?

Korea selatan terkenal dengan penduduknya yang workholic. Dimana tidak ada waktu tanpa bekerja. Ini pun diterapkan pada para generasi mudanya. Mereka ditutut dapat menyelesaikan sesuatu hal dengan baik tanpa ada waktu yang terbuang. Setiap pelajar di Korea Selatan selalu mengikuti bimbel setelah pulang sekolah pukul 7. Rata rata mereka belajar selama 12 jam lebih. Ini terjadi salah satunya karena persaingan yang sangat ketat uintuk memasuki perguruan tinggi.

Karena pelajar nya yang sangat giat belajar tersebut, pemerintah nya selalu memberikan fasilitas yang memadai. Seperti perpustakaan yang lengkap, bersih dan rapi. Lalu wif-i yang dapat terhubung dimana pun dengan sinyal super cepat agar para murid nya bisa belajar mandiri melalui internet. Yang tidak bisa dilupakan, pemerintah juga memberikan fasilitas transportasi yang memadai seperti bus malam yang aman kemana pun. Selain itu di korea juga memiliki ketenaga kerjaan pengajar yang sangat berkompeten.

Apakah Indonesia  sudah sanggup memberikan fasilitas sebagus itu untuk murid nya untuk belajar Full Day ? apakah pemerintah sudah bisa menyiapkan transportasi yang baik untuk para generasi muda yang belajar dari balik gunung atau dari balik sungai yang harus meniti jembatan yang terbuat dari tali setiap harinya?  Apakah mental para generasi muda tidak akan rusak karena seharian di sekolah tanpa berkemunikasi dan bersosialisai dengan keluarganya? Bagaimana mereka bisa berinteraksi dengan kedua orang tuanya kalau waktu nya tersita dengan sekolah seharian?

Satu lagi ada sistem pembelajaran dari Kanada. Yaitu mereka menetapkan kurikulum sesuai provinsinya. Dan juga mereka menerapkan sistem ujian, kenaiknan kelas dan sertifikat. Disini mereka tidak melakukan ujian dan kenaikan kelas berdasarkan “grade” namun berdasarkan mata pelajaran nya yang diambil. Ini bertujuan agar anak anak yang berbeda beda kemampuan dapat mengasah kemampuan nya dengan baik. Apakah indonesia tidak bisa menerapkan hal seperti ini juga? Tidak memaksakan semua pelajaran kepada muridnya. Mereka bisa tanpa menguasai dengan baik. Hanya sekedar bisa bukan ahli.

Lalu menurut anda bagiamana? Apakah sistem pembelajaran di Indonesia sudah baik? Atau harus kah diterapkan sistem Full Day? Itu tergantung dergan pemikiran kita masing masing dan kebutuhan yang dibutuhkan kepada kita.

 

Nai WP

WawasanProklamator.com  Jauh Lebih Dekat

Komentar

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar