Maafkan Aku bu..

Riva Guslina
Jumat, 30 September 2016 Share

Aku adalah seorang dokter yang berprofesi sebagai polisi, aku menjadi dokter karena paksaan dari orang tuaku terutama pada ibu. Ibuku sangat ingin kalau anak sulungnya ini menjadi seorang dokter. Sewaktu aku kecil pun ibu selalu meminta kepadaku untuk menjadi seorang dokter, karena ia ingin kalau anaknya ini kelak bisa bermanfaat bagi bangsa dan negara apalagi yang menyangkut dengan kesehatan orang banyak, baginya pekerjaan seorang dokter adalah pekerjaan yang sangat mulia, tetapi cita-citaku adalah ingin menjadi polisi yang bisa mengabdi kepada negara.

Ini berawal ketika aku sudah berada di bangku 3 SMA tepatnya 5 tahun yang lalu.

Matahari yang mulai menampakan sinarnya di jendela kamar mulai membangunkan ku dari tidur yang sangat nyenyak itu. Pagi yang cerah ibu mulai mengetuk pintu kamar ku dan memanggil untuk segera berangkat ke sekolah bersama adik.

"Andra.. cepat nak, nanti kamu terlambat ke sekolahnya. Adikmu sudah menunggu", sahut ibuku.

Aku pun langsung menjawab"Iya bu, aku sudah siap"

Dan aku pun segera berjalan menuju meja makan untuk sarapan. Setelah sarapan pun aku langsung pamit dengan mencium tangan ibu lalu berangkat ke sekolah.

"Bu, aku dan adik berangkat dulu yaa (sambil mencium tangan ibu)", ujarku.

Dan ibupun berkata "Iya nak, belajar dengan rajin ya supaya Andra bisa jadi dokter nantinya dan adik juga rajin belajar jangan nakal (sambil mengusap kepalaku dan adikku)"

Didalam perjalanan menuju ke sekolah tiba-tiba adikku bertanya,

"Apa benar abang mau jadi dokter? setau Ari abang kan pengen jadi polisi?", tanyanya.

"Abang juga tidak tahu ri, abang memang ingin menjadi polisi, tapi abang juga tidak ingin mengecewakan ibu", jawabku.

Tak lama kemudian aku dan adikku sampai di sekolah. Aku dan Ari bersekolah di SMA yang sama. Aku kelas 3 dan Ari kelas 1 di SMA tersebut. Ibu dan ayah memang sengaja menyekolahkan kami di SMA yang sama agar tidak repot pergi sekolah dan pulangnya, dan aku pun juga bisa mengontrol adikku di sekolah. Itulah alasannya kenapa ibu dan ayah menyekolahkan kami di SMA yang sama.

Sesampainya di sekolah pun Ari masih bertanya-tanya

"Bang, kenapa abang nggak bilang aja ke ibu kalau abang itu nggak pengen jadi dokter tapi pengen jadi polisi?", tanyanya

Dan aku pun mencoba untuk menjawabnya. Tiba-tiba bel masuk sudah berbunyi.

"Nanti aja ya kakak jawab, bel udah bunyi tuh, masuk ke kelas ya. Ingat pesan ibu tadi", ujarku.

"Iya bang, aku nggak bakalan kecewain ibu kok",  jawab Ari

Beberapa bulan berlalu aku pun sudah mengikuti Ujian Akhir Nasioanal..

Sore yang indah itu aku sedang menikmati keindahan langit yang ditemani oleh kripik kentang kesukaanku. Ibu datang menghampiriku.

"Andra.. lagi ngapain nak?", tanya ibuku.

"Ini bu, Andra lagi menikmati keindahan yang di berikan Tuhan bu", jawabku.

Tidak ku sangka, tiba-tiba ibu bertanya dengan pertanyaan yang aku takutkan..

"Andra, kamu kan udah selesai ujian. Gimana? Kamu jadi kan masuk ke fakultas kedokteran? Seperti yang ibu harapkan?", tanyanya

Aku pun terdiam. Karena aku benar-benar tidak ingin menjadi dokter seperti yang di harapkan ibu, tetapi aku hanya ingin menjadi seorang polisi. Dan aku pun menjawab pertanyaan yang membuatku takut mengecewakan ibu. Aku mencoba untuk membuat ibu paham dengan apa yang aku inginkan, apa yang aku cita-citakan, yang selama ini aku rahasiakan kepada ibu.

"Bu, maaf ya bu. Jika Andra kali ini mungkin membuat ibu kecewa. Bu, selama ini Andra tidak pikiran untuk menjadi seorang dokter, Andra hanya ingin menjadi seorang polisi karena itu adalah cita-cita Andra dari kecil bu", jawabku.

Ibuku langsung terdiam dan matanya pun mulai berkaca-kaca atas jawabanku tadi. Ibu langsung mulai meninggalkan ku dan langsung masuk kedalam rumah. Di saat makan malam pun yang biasanya ibu selalu berbicara tapi beda halnya dengan makan malam kali ini, ibu hanya banyak diam. Ayah dan Ari pun heran dengan suasana makan malam kali ini, dan setelah makan pun ibu langsung meninggalkan kami.

Ketika ibu pergi, ayah bertanya..

"Andra, Ari, ibu kenapa? Kok ayah lihat ibu diam saja?"

Aku menjawab "Ayah ini semua salah Andra, Andra sudah membuat ibu kecewa. Karena tadi Andra sudah mengatakan kepada ibu bahwa Andra tidak ingin menjadi dokter, tetapi ingin menjadi polisi".

Saat ayah mendengarkan jawabanku ayah mengerti kenapa selama ini aku selalu diam ketika ibu selalu mengatakan bahwa aku akan menjadi seorang dokter yang diingikan ibu. Ayah sangat mengerti bagaimana jika ada diposisi ku dan bagaimana perasaanku saat itu.

Beberapa hari berlalu, aku selalu memikirkan ibu, aku memikirkan bahwa aku sudah mengecewakan ibu. Suatu malam aku selalu berpikir bagaimana caranya agar ibu tidak kecewa. Pada saat itu aku memutuskan bahwa aku akan masuk ke fakultas kedokteran. Dan akupun langsung memberi tahu ibu bahwa aku akan masuk ke fakultas kedokteran. Ibu sangat senang mendengarkan ucapan yang keluar dari mulutku pada malam itu. Aku sangat bahagia ketika melihat ibu tersenyum dengan kedua lesung pipinya.

Sewaktu aku menjalankan perkuliahan di fakultas kedokteran aku mencoba untuk ikhlas menjalankannya. Terkadang ini membuat aku mulai malas-malasan untuk belajar. Ketika musuh si malas datang aku selalu membayangkan wajah ibu yang tersenyum dengan kedua lesung pipinya. Karena aku melakukan semua ini karena ibu, jika ibu tau kalau aku seorang mahasiswa yang pemalas, lagi-lagi aku membuat ibu kecewa.

Ibu pernah bertanya kepadaku.

"Nak, apa kamu terbebani dengan semua ini?"

"Tidak bu, aku ikhlas menjalankannya bu, ibu tidak usah mencemaskan Andra bu, Andra akan mencoba menjadi yang terbaik bu", jawabku.

Ibu terharu dengan jawabanku dan ia pun memelukku dan mengusap kedua kepalaku sambil berkata dengan suara yang serak karena menahan tangis "Doa ibu selalu menyertaimu nak".

Empat tahun kemudian aku lulus dengan hasil sidang skripsi terbaik tahun itu. Aku memberi tahu berita gembira ini kepada ibu. Ibu sangat senang dan menangis bahagia mendengar berita bahagia ini. Dua bulan setelah sidang skripsi aku pun wisuda, diacara wisuda itu aku melihat wajah bahagia keluargaku pada saat itu, terutama wajah ibu dengan menebarkan senyumnya yang sangat indah.

Pada acara wisuda, ibu berkata

"Andra, makasih ya nak. Ibu bangga sekali melihat mu sudah menjadi sarjana seperti ini, walaupun awalnya memang berat untukmu menjalankannya nak".

"Bu, kenapa ibu harus berterima kasih kepada Andra bu? Ini sudah menjadi kewajiban Andra untuk membuat ibu bahagia. Andra melakukan ini ikhlas bu, tidak ada beban walaupun berat bu", jawabku

Setelah aku menerima ijazah pada saat itu, Aku, Ari, Ibu dan Ayah berkumpul di ruang keluarga kami. Aku membawa sebuah ijazah yang sudah membuat ibuku selalu tersenyum. Aku sengaja membawa ijazah itu karena aku ingin memberikan ijazah itu kepada ibu.

"Ayah, ibu..", panggilku.

"Iya nak? Kenapa?", Jawab ibuku

"Bu, Andra sudah menyelesaikan pendidikan Andra di sekolah kedokteran bu, aku ingin memberikan ijazah ini kepada ibu. Maaf bu, kali ini Andra benar-benar tidak bisa menuruti kemauan ibu untuk menjadi seorang dokter. Andra hanya ingin menjadi polisi bu. Mungkin dengan ijazah ini lah Andra sedikit bisa membahagiakan ibu", ungkapku dalam keadaan menangis.

Pada saat itu ibu langsung memelukku dan meminta maaf kepadaku, bahwa selama ini ia selalu memaksakan kehendaknya untuk anaknya menjadi seorang dokter. ibu menangis ketika aku memberikan ijazah ku kepadanya. Pada saat itu ibu mengizinkan dan mendukung ku untuk menjadi seorang polisi. Aku sangat berterima kasih pada ibu telah mengizinkan ku menjadi seorang polisi. Karena doa ibu dan ayah lah yang akan menyertaiku nantinya. Dan sekarang aku menjadi polisi yang mengabdi kepada negara. Seperti cita-citaku yang sesungguhnya.

 

(Cawan WP: Riva Guslina)

WawasanProklamator.com jauh lebih dekat

Artikel Sastra / Cerpen lainnya

Komentar

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar