Relawan Mentawai

Senin, 03 Oktober 2011 Share
Relawan Mentawai

dok:mapala proklamator

Dengan raut muka santai namun tetap serius  Topan sapaan ramah saya untuk sosok relawan ini, ketika mulai menceritakan perjalanannya sebagai relawan mentawai. Pandangannya mulai menerawang dan satu persatu kata mulai teruntai menjadi cerita yang takkan pernah terlupakan. 

Dimulai dari perbincangan ringannya dengan Andi Ade, senior Mapala Proklamator untuk pergi ke merapi sebagai relawan. Namun setelah perbincangan sudah mulai serius, tiba-tiba hate yang kebetulan dibawa oleh bang Andi Ade pun bersambung dengan PMI Pusat.

Disana terjadi komunikasi dan diperoleh berita bahwa gempa telah terjadi di mentawai yang terjadi Tsunami. Seketika itu juga rencana untuk berangkat ke Merapi dibatalkan dan  Andi pun menyarankan untuk pergi ke Mentawai. 

Barang-barang untuk logistik segera dikumpulkan dengan cara penggalangan dana dan terkumpullah uang tunai sejumlah sembilan ratus ribu rupiah. Uang itu digunakan untuk pembelian logistik sebagai bekal nanti di Mentawai. Sehari setelah itu, Topan pun berangkat dengan empat orang lainnya ke Mentawai.

Sesampai di sana mereka melapor kepada desa setempat. Kemudian mendirikan tenda disana. Sore harinya Topan dan teman-temannya mulai menyiapkan strategi untuk berada dilapangan besok. 

Malam yang datang serta hujan badai mengguyur mentawai ikut menyambar tenda . Disaat kondisi yang benar-benar berada di titik terendah, "saat itu saya ingin sekali pulang" tutur Topan menerawang membayangkan kejadian malam itu.

Kondisi yang tidak memungkinkan untuk tetap bertahan didalam tenda yang telah di hempaskan badai, Topan beserta kawan - kawannya memutuskan untuk menginap di pondok yang berada dibukit dengan jarak  kurang lebih 500 meter dari permukaan laut.

Esoknya tugas sebagai relawan dimulai. Dengan perlengkapan yang telah dibawa dan disediakan seadanya, para relawan mulai menjalankan tugasnya. Mereka menemukan beberapa mayat yang terjepit dan terhimpit dengan keadaan yang menggenaskan.

 "satu hal yang tidak bisa saya lupakan adalah ketika menemukan mayat saorang ibu hamil , ketika saya memegang bagian kepalanya tiba-tiba rambutnya rontok" cerita mahsiswa Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan ini dengan tatapan iba bercampur ketakutan.

Tidak hanya itu saja dia menambahakan bahwa anak yang berada dalam kandungan ibu hamil tadi pun keluar. kejadian yang tidak akan bisa dilupakan oleh Topan dan kawan-kawan. Imbasnya mereka tidak dapat menikmati makanan dengan enak lagi karena masih terbayang akan kejadian memilukan tersebut.

Seminggu sudah Topan dan kawan - kawannya berada di Mentawai. Tiba saatnya pula mereka pulang. Kegiatan di Padang sampai mereka pulang masih mengumpulkan dana untuk korban mentawai. 

Belum lepas dari ingatan mereka tentang kejadian yang mereka jalani disana, Kira-kira satu minggu setelah kepulang mereka ke Padang, Topan di hadapkan kepada tugas untuk berangkat kembali ke Mentawai. 

Akhirnya Topan dan beberapa temannya pun kembali ke mentawai untuk memberikan dan menyalurkan beberapa bantuan logistik dan pakaian bekas untuk masyarakat mentawai yang terkena bencana Tsunami tanggal 26 Oktober 2010 lalu. 

(Septy/Putry WP) 

WawasanProklamator.com Jauh Lebih Dekat

Komentar

Kirim Komentar

Nama Lengkap
Alamat/Kota
E-mail
URL Website/Blog
Komentar